Gamelan Indonesia Mengharum di Festival Milan dan Spoleto, Italy


spoleto          Supanggah Gamelan Orchestra (Garasi Seni Benawa/GSB) awal Juli 2013 lalu telah menampilkan karya-karyanya pada Festival dei Due Mondi (Festival Dua Dunia), festival musik symphony dan opera tahunan yang diadakan setiap Juni hingga awal Agustus di Spoleto, Italia. Partisipasi Gamelan tersebut merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah berdirinya Festival dei Due Mondi yang dirintis oleh komposer Gian Carlo Menotti pada tahun 1958. Festival yang bergengsi ini menjadi ajang pamer musik, opera, tari, drama, seni visual dan diskusi pada ilmu pengetahuan, belum pernah sekalipun mengundang seniman/grup seni dari luar Eropa dan Amerika. Rahayu Supanggah dan GSB telah sukses menorehkan tonggak sejarah eksistensi Festival Spoleto dan gamelan bagi dunia terutama untuk musik Indonesia.

          Spoleto adalah sebuah kota kecil yang indah dan bersejarah, mempunyai dua teater indoor, teater Romawi dan banyak ruang konser lainnya, cukup dekat dengan Roma (1,5 jam dengan train), mudah dijangkau dengan sambungan rel kereta api, serta jalan darat yang baik dipilih oleh Menotti sebagai tempat untuk festival seni yang hidup di Italia

          Festival ini mampu menjelma menjadi salah satu pusat manifestasi budaya paling penting di Italia. Untuk beberapa waktu Festival Spoleto menjadi titik acuan pameran patung modern. Meskipun Festival Spoleto telah menghabiskan banyak dana dari para donatur dan mulai tersaingi oleh kelahiran banyak festival serupa di seluruh Italia, namun tetap menjadi peristiwa budaya yang sangat penting di dunia.

          Nama Dua Dunia” dalam festival itu datang dari niat Gian Carlo Menotti untuk mempertemukan budaya Amerika dan Eropa agar saling berhadapan dalam event tersebut. Konsep ini kemudian diperkuat oleh fakta diadakan  secara bersamaan dengan festival kembarannya, yaitu Spoleto Festival USAyang diadakan setiap tahun di bulan Mei / Juni di Charleston, Carolina Selatan. Di bawah arahan Gian Carlo Menotti pada tahun 1986, Festival Spoleto pernah diadakan di Melbourne, Australia. Melbourne Spoleto Festival lalu berubah nama menjadi Melbourne International Festival of the Arts pada tahun 1990. Festival ‘kembar’ hanya berlangsung sekitar 15 tahun, sejak awal 1990-ankemudian terjadi pemisahan. Setelah kematian Menotti pada Februari 2007, pemerintah kota Spoleto dan Charleston memulai pembicaraan untuk kembali menyatukan dua festival, yang mencapai puncaknya di Spoleto, Italia, sertaSpoleto Festival USA Mei 2008.

          “SAKTI, L’ARMONIA NEL CIELO DI PIAZZA DUOMO” (Sakti, Harmoni di Langit dari Alun-alun Katedral) adalah tajuk konser karawitan (gamelan) dan tari yang dipilih pada tur GSB ke kota Spoleto,  dipersembahkan oleh 6 penari cantik dari Indonesia (Sekayu-Musi Banyu Asin-Palembang) garapan Restu Kusumaningrum, dibalut dengan suara hipnotis dari musik Supanggah Gamelan Orchestra bersama 9 musisi dari Jawa, dipersembahkan untuk pemirsa di Piazza Duomo, pada hari Sabtu 13 Juli 2013. Dengan formasi yang sama sebelumnya mereka juga tampil di Centro Ricerche Teatrali Milano, Milan pada tanggal  9, 10, dan 11 Juli 2013.

          Konser karawitan dan tari ‘Sakti” bukan saja membuat bangga bagi seluruh seniman GSB, tetapi juga telah berhasil menyedot perhatian publik. Hal itu disampaikan dalam tayangan berbagai stasiun TV Nasional Italy dan juga sanjungan dari salah satu Direktur festival, Mr. Franco Laera. Gamelan bukan musik yang bisa dianggap sebelah mata, dengan derajat musikalitasnya yang tinggi serta kemampuannya beradaptasi dengan pendengar, fungsi, dan lingkungannya, Gamelan nyata sejajar dengan orkes musik symphony besar dari budaya Barat maupun musik Dunia pada umumnya.

          Meski partisipasi anak-anak bangsa yang tergabung dalam GSB ini tidak didukung dana yang cukup dari pemerintah pusat, akan tetapi mereka telah menunjukan kapasitasnya yang sangat baik dari segi kualitas seni dan dedikasi selaku profesional seni. Mereka sadar bahwa festival ini adalah salah satu pintu yang penting untuk merintis jalan bagi kesenian Indonesia dari luar Eropa dan Amerika untuk berperan dan unjuk gigi dalam kancah percaturan musik Dunia. Dialog seni Internasional ini diharapkan lebih membuka apresiasi Dunia terhadap Indonesia, ketika lewat teknologi, ekonomi, dan olahraga Indonesis masih diperingkat yang tidak tinggi. Misi budaya ini mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia lewat seni dan budaya. Festival seni ini dapat membuka mata dunia bahwa Indonesia makin diperhitungkan dalam bidang seni dan budayanya.

 

 

Gentan, 25 Juli 2013-07-25

 

Danis Sugiyanto

Praktisi Gamelan dan Keroncong di kota Solo

Iklan