Belajar Nyeni


by Danis Ötnayigus on Saturday, August 15, 2009 at 3:51pm

Masih lekat dalam ingatan masa lalu, belajar musik Barat secara otodidak lewat teknik kupingan (cara mendengar). Terbilang sangat terlambat, karena aku baru genjrang-genjreng gitar waktu di kelas satu SMA. Terpaksa main gitar karena sekelas tidak ada yang bisa untuk ngiringi paduan suara antar kelas. Bermodal belajar dari nguping dan ngelihat tetangga main gitar, aku gunakan untuk manggung dengan sangat berani tanpa malu di depan penonton satu sekolah. Ajaib, aku hanya tahu sedikit krip gitar ternyata aku bisa karena kami punya kesempatan coba lagu yang akan ditampilkan. Sekarang kutahu kalau krip yang kumainkan itu disebut krip ”tiga jurus”.

Sebenarnya darah seni musik telah menempel pada diriku, karena ayahku almarhum seorang musisi kendang gamelan tari ternama di kota Solo pada waktu itu. Akupun mulai mencintai musik dari belajar gamelan lewat ekstra kurikuler di SMP 3 Solo. Walaupun begitu, sejak SD aku dan teman-teman sekelas adalah terkenal bikin onar karena kreativitas bikin hiburan yang konyol dengan tetabuhan di meja dan gamelan rongsok di gudang sekolah sewaktu istirahat. Teman-teman ternyata senang dengan gaya urakan nan menghibur dari kelompok kami. Sampai di sini aku sadar bahwa kepuasanku adalah untuk menghibur orang lewat jalur seni, jangan salah sangka kalau menghibur orang bisa lewat kegiatan lain seperti: jadi gigolo atau brondong.

Masa SMP aku lewati dengan hepi, ada kegiatan ekstra kurikuler karawitan yang menarik perhatianku. Berulang kali sekolahku jadi juara dalam perlombaan karawitan tingkat Kotamadya surakarta dan Eks karesidenan. Aku boleh bangga karena Solo dan sekitarnya kan pusat budaya karawitan terkenal? lagipula banyak jago dari berbagai pengrawit (musisi gamelan) dan kelompok karawitan (setingkat SMP) yang berpartisipasi. Pak Katiman adalah guru yang pandai dan tegas serta besar usahanya dalam mendidik para siswa. Meski gamelan yang biasa dipakai latihan dari besi, tapi dengan metode berlatih yang benar dapat menghasilkan tabuhan dan murid-murid yang bagus. Setiap akan latihan sore selepas sekolah, sering beliau tidur di ruang gamelan untuk ”laku prihatin”, demi menjaga hubungan batiniah antara kesuksesan misi yang diemban dengan roh gamelan beserta penyatuan suksma-suksma anak didiknya. Dari kegiatan karawitan ini pula aku berhasil mendapatkan beasiswa seni dari sekolah yang lumayan besar selama setahun.

Masa SMA telah merubah cita-citaku untuk jadi militer, maklum banyak saudara Ibuku yang berasal dari sana. Meski sudah aku bela-belain masuk program A2 (ilmu Biologi) untuk meraih syarat masuk AKMIL, akhirnya berbelok ke arah seni lagi. Ada temanku yang mengajak ikut kegiatan ekstra kurikuler teater di SMA 4 Solo. Sekali lagi dunia seni telah menambat jiwaku. Dengan teater Golek SMA-ku kami sering berhasil jadi juara di festival teater tingkat SMA. Aku tidak berbakat jadi aktor, aku merasa nyaman berada di barisan para pemusik. Saat itu aku sudah mulai mencipta ilustrasi teater dan membuat lagu dengan musik seadanya.

Nah, di pergaulan teater aku mulai kenal dengan banyak teman seniman berbagai bidang seperti: musik, seni rupa, sastra, dll. Musik keroncong juga mulai mengusik jiwaku, aku berkenalan dengan seseorang yang mengajak latihan di grupnya. Bahkan aku jadi anggota teater Gidag gidig juga membuat kreasi musik dengan alat keroncong. Dengan bermodal ngawur-ngawuran kami berani tampil di muka umum. Banyak yang mencemooh karena dari sisi musikal kami ”kurang berpendidikan”, tapi banyak yang suka juga karena ’keliaran’ kami. Modal-modal seperti itu yang kami jadikan dasar untuk memupuk mental kami di atas panggung pertunjukan.
Contoh ’asal-asalanku (dan kami), di atas panggung langsung pakai alat musik yang belum pernah dilatih sebelumnya. Waktu pentas di Fakultas Hukum UNS saya menemukan bass betot di gudang musik mahasiswa, aku pelajari sebentar stemannya trus dibawa ke panggung langsung dipakai untuk main. Untuk urusan main biola juga gitu, aku hanya tanya stem senarnya, terus di rumah aku gambar sendiri tata jarinya. Pentas selanjutnya aku berani main biola walau hanya baru sebatas menghapal lagu dengan tata jari yang ’primitiv’. Lama-lama bisa meningkat cara mainnya. Setelah main atau di kala senggang aku melakukan introspeksi atas permainanku tadi, sering merasa malu dan tidak puas atas apa yang telah kukerjakan. Adakalanya analisis itu terjadi atas hasil rekaman kecil-kecilan yang kami buat, kami punya ras malu dan tidak puas meskipun unsur ’tabrak’ masih mendominasi jiwa muda dan kreativitas kami.

Sisi kehidupanku dalam bermusik didasari oleh pendidikan formal di kampus STSI (sekaran ISI Surakarta). Di lembaga ini aku mendapat gemblengan musik yang berdasar dari budaya musik tradisional (mayor Jawa). Aku bisa mensinergikan antara budaya Barat dengan Jawa sambil berproses secara intensif. Aku suka berdarah-darah mencari perbaikan kemampuanku bermusik dan menyerap pikiran para kreator yang sedang berproses denganku.
Aku bukanlah seorang penyanyi yang bisa naik daun secara drastis. Proses menjadi kesenimananku berjalan laksana gelombang yang penuh riak dan gejolak. Seorang musisi jarang mendapatkan keberuntungan secara sekejap, rata-rata terjadi secara gradual dan eskalatif bahkan cenderung evolutif..Nyatanya sampai sekarang aku belum mampu mendapatkan nama seperti yang sudah didapat oleh teman-temanku seangkatan atau adik-adik kelasku. Tapi justru aku bersyukur oleh itu, karena mawas diri harus selalu ada bersamaku. Banyak contoh suatu keberhasilan tidak diimbangi dengan mentalitas, komitmen yang bagus terhadap sesama pekerja seni atau seni itu sendiri. Aku tidak silau dengan dunia mereka, biarlah jalanku mengalir sesuai kehendak Yang Di Sana dengan usahaku sendiri yang tiada pernah berhenti. Aku menyadari jika caraku bermain musik (berkesenian) adalah jalan tidak biasa yang masih mengandalkan cara-cara lamaku, namun aku juga tidak menutup diri pada masukan orang lain dan perubahan dinamika seni.
Kini aku sudah banyak teman, relasi, kolega, murid, dan semuanya yang telah mempercayaiku utuk eksis di dunia seni. Tanpa mereka aku tidak bisa berbuat banyak. Tulisan ini tidak bermaksud nyombong, adigang, adigung, adiguna, ataupun mengecilkan peran orang yang berbeda dengan diriku. Mungkin aku hanya ingin mengajak kepada semua untuk melihat dunia seperti yang aku miliki ini agar jadi kaca kehidupan yang mungkin tidak terlalu bagus untuk semua orang.

Kirim Ucapan Lebaran via Situs Jejaring Sosial dan Pesan Singkat


by Danis Ötnayigus on Friday, September 10, 2010 at 7:29am

Momen lebaran digunakan banyak orang untuk saling mengucapkan kata selamat dan saling memaafkan. Zaman dulu tentu berbeda dengan sekarang cara mereka menyampaikannya, apalagi sekarang sudah dimudahkan dengan komunikasi via SMS ataupun berbagai situs jejaring sosial di internet. Namun pikiran dan perasaan yang disampaikan terlihat ada benang merahnya dengan profesi/pekerjaan/kegemaran dari pengirim pesan. Meski sangat sulit membedakan hasil karyanya itu didapat dari forward-an orang lain atau murni dari hasil olah rasa dan pikirannya.

Seniman karawitan/gamelan tentu akan mempunyai berbagai kreasi dalam menyampaikan permohonan maaf pada waktu lebaran. Biasanya mereka merangkai kata dalam bingkaian sastra dalam bait tembang seperti misal.

”SEKAR MACAPAT SINOM : SINERAT TEMBANG PUNIKA, SINARTAN DONGA SESANTI, ING WULAN RIYADI NYATA, ENDAH PENI ATI SUCI, KONJUK MRING HYANG WIDHI, TAN KANTUN DONGA PANYUWUN, LEBUR KABEHING DOSA, MINAL’AIDZIN WAL FAIDZIN, SDAYA LEPAT NYUWUN GUNGING PANGAKSAMA”. (Sujarwo Joko Prehatin)

Artinya: Tembang Macapat Sinom: tertulis tembang ini, diriingi doa puji, di bulan lebaran ini, indah hati yang suci, teruntuk Tuhan, tak ketinggalan doa permohonan, lebur semua dosa. Mohon maaf semua kesalahan secara lahir dan bathin.

”Pupuh Asmaradana: Linali tan bisa lali, cupeting rasa lan jangka, Kathahing dosa kang ala, kraos awrat manah kula, tan matur jengandika, ing dinten riyadi hayu, nyuwin gunging pangaksama”(Bathari Ayu)

Artinya: Bait Asmaradana: dilupakan tak pernah bisa, terbatasnya rasa lan rencana, banyaknya dosa yang jelek, terasa berat rasaku, mengungkapkan pada anda, di hari raya, mohon maaf sebesar-besarnya.

”Pangkur: Dinten riyadi punika, ngaturaken wilujeng idul fitri, nglenggana dosa tuwin luput, kang jinarag tan njarag, anggen kita sarawung setunggal tahun, kula nyuwun pangapura, ing lahir tumusing batin” (Suraji)

Artinya: Di hari raya ini, menyampaikan selamat idul fitri, merasa dosa dan kesalahan, yang disengaja maupun tidak, dalam kita bergaul selama setahun, saya mohon maaf, lahir dan batin.

Dalang wayang kulit, MC, atau seniman yang memahami filosofi kehidupan tentu juga punya cara penyampaian yang unik, seperti misal.

“Yaksa wana, nyegat ing tengahing marga. KILap kula, anyenyaDHANG pangaksama, Sugeng riyadi, sdaya lepat linebura ing dinten suci mnika”.(Tri Wahyoe Widodo)

Artinya: Raksasa hutan, menghadang di tengah jalan. Khilaf saya, memohon maaf, Selamat hari raya, semua kesalahan dilebur di hari suci ini.

”Tan wonten kang patut linairake saking sajroning nala kajawi warna klaras ing reh sungging, apuranta lepat kawula. Ksatrian dyan Kumbakarna mugi lebur ing Riyadi menika. Srana panulaking ranu’ mugi kita tansah pinayungan kawilujengan tuwin kabagyan, amin ya rabbal ’alamin” (Bagus)

Artinya: Tak ada yang pantas diutarakan dari dalam hati kecuali warna klaras di lukisan, maafkanlah kesalahanku. Tempat Ksatria Kumbakarna, semoga lebur di hari raya ini. Cara penolakan bahaya semoga kita selalu diberikan keselamatan dan kebahagiaan, semoga Tuhan mengabulkan.

”Gumiliring mangsakala yekti, purbaning Hyang Kang Maha Kawasa, sampun purna Ramadhane, Idul fitri tumiyung, gya angrucat dosane sami, apura ingapura, lair trusing kalbu, yaiku ingkang sinedya, manunggaling rasa sadaya pra dasih, asih marang sasama, Sugeng Riyadi 1 Syawal 1430 H, Nyuwun gunging pangaksami” (Suyoto)

Artinya: Seiring sang waktu berjalan, ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, sudah usai bulan Ramadhan, Idul fitri telah tiba, segera membersihkan dosa manusia,saling maaf memaafkan,dari lahir sampai dalam batin, yaitu yang dikehendaki, bersatunya rasa semua manusia, kasih kepada sesama,

Sastrawan dari berbagai tingkatan dan jenis karyanya juga punya kiriman unik:

”Saat jarak itu ada dan kita melupa diri.Pasrah menjadipuncak ziarah manusia. Di mana kita berkaca lagi dan lagi…”(Daniel).

”Mohon maaf lahir dan batin untuk mas danis sekeluarga. sukses di langit n di bumi” (Agung PW)

Untuk yang menyenangi pantun sebagai media ungkap sering digunakan untuk mengirim ucapan, seperti:

”Klelegen kupat kala riyaya, kula lepat nyuwun sepura” (Murtidjono)

Artinya: Tertelan ketupat di hari raya, saya salah mohon dimaafkan.

”Dahar kupat kaliyan santen, wonten lepat nyuwun pangapunten”(Daru Swastika)

Artinya: Makan ketupat dengan santan, ada salah mohon dimaafkan.

”Seleh papat ora ana neng manyura, menawi lepat kula nyuwun pangapura” (Sasadara Sasangka)

Artinya: Seleh (arah nada, dan letak ketukan) nada empat tidak terdapat di (pathet) manyura, apabila salah saya mohon dimaafkan.

Kebetulan pengirim SMS ini adalah juga seorang pengrawit (musisi gamelan Jawa), sehingga kosa katanya menggunakan terminologi ilmu karawitan sesuai bidangnya..

Penari wanita yang menyukai kelembutan juga bisa menulis SMS sebagai berikut:

”Sepuluh jari tersusun rapi. Bunga melati pengharum hati…memohon maaf setulus hati” (Rambat Yulianingsih)

Oleh karena pertemanan yang kental, seorang artis terkenal kadang-kadang merendah, sehingga muncul kiriman seperti misal:

”Kanthi andhaping manah, kula sak brayat nyuwun gunging samudra pangaksami, mugi sedaya kalepatan lebur ing dinten kang suci lan nyuwun tambahing pangestu” (Endah Laras)

Artinya: Dengan rendah hati, saya beserta keluarga mohon maaf sebesar-besarnya, semoga semua kesalahan terhapus di hari yang suci dan mohon doa restu

Fotografer juga seorang pecinta filosofi bisa muncul kiriman seperti ini:

”Untuk menjadi yang menyayangi, u/mjd yang mengasihi, um/jd yang memaafkan, u/bs melihat ke dalam hati kita sendiri…mohon maaf lahir batin” (Sukhmana)

Orang tua yang bijak sering menasihati yang lebih muda akan pentingnya masa depan di momen lebaran.

”Menghaturkan Selamat hari raya idul fitri 1 syawal 1430 H Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin. Semoga hari esuk lebih baik dari sekarang. Amin ya Robbal Alamin” (Darsono)

Pemusik yang mendalami teater tentu akan mengerti sastra dan filosifi hidup, meski kiriman singkatnya tak serta merta musikal, sebagai contoh:

”Seperti tanah diberi sebutir dibalas setangkai Diberi sebatamng dibalas serumpun Diberi KOTORAN dibalas KESUBURAN. MINAL AIZIN WAL FAIZIN, MAAF LAHIR BATIN (Max).

Sebagai orang biasa namun peka terhadap filosofi kehidupan pasti bisa mengirimkan kata-kata indah, seperti:

”Yg Singkat itu ’WAKTU’ yg Dekat itu ’MATI’ yg Besar itu’NAFSU’ yg Berat itu ’AMANAH’ yg Sulit itu ’IKHLAS’ yg Mudah itu’DOSA’ Yg abadi itu ’AMAL KEBAJIKAN’ namun yang terindah adalah jika mau dan bisa ’SALING MEMAAFKAN’. MINAL AIZIN WAL FAIZIN, MAAF LAHIR BATIN MINAL AIZIN WAL FAIZIN, MAAF LAHIR BATIN (Yanuar)

“Beningkan hati dengan dzikir, cerahkan jiwa dengan cinta, lalui hari dengan senyum, sucikan hati dengan permohonan maaf…Selamat hari raya idul fitri 1430 H” (Hengky)

Pejabat Negara yang rendah hati dan perasa juga sering memohon maaf kepada orang lain dengan kata-kata seperti:

”Terselip khilaf dalam canda, terbersit pilu dalam tingkah laku, tersinggung rasa dalam bicara. Mohon maaf lahir dan batin dalam kesempatan idul fitri 1430 H” (Gunadi)

Bahkan seseorang yang bercita-cita jadi pilot selalu terobsesi menyampaikan ucapannya dengan bahasa penerbangan yang kocak:

”Slmt datang di penerbangan ”RAMADHAN AIR” dengan no. 1430 H, tujuan IDUL FITRI, 1 hari lagi kt sampai tujuan, harap pakai sabuk pengaman anda dengan puasa, tarawih, dan zakat fitrah, tegakan kursi imanmu, jika cuaca buruk perbanyak zikir & tadarus dan apabila mendarat di bandara Idul Fitri jangan lupa ucapkan syukur kepada Allah SWT, selamat hari raya idul fitri 1430 H Minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir batin”( NN: 06281567760603)

Semua pesan singkat (SMS) tersebut diutarakan dengan gaya bermacam-macam: ada yang formal tanpa basa-basi, ada pula yang bergaya canda karena biasanya antara mereka sudah saling mengenal perwatakan masing-masing. Seringpula menggunakan kata dan kalimat yang kias seperti puisi, karena kecocokan dengan momen hari raya idul fitri yang melibatkan emosi, , perasaan, rasio, pengorbanan, perjuangan, kemenangan, kesucian, ibadah, cita-cita, serta harapan.

Solo, 20 September 2009

Danis Sugiyanto

Penggemar salah satu jejaring sosial

Pengajar Etnomusikologi dan Karawitan ISI Surakarta

danissugiyanto@hotmail.com

Pelajaran Lebaran Kedua


by Danis Ötnayigus on Monday, February 8, 2010 at 12:04am
Cerita ini telah terjadi beberapa tahun yang lalu di hari lebaran kedua. Ketika itu ada seseorang pimpinan grup karawitan yang biasa aku datangi latihan memintaku untuk bergabung jadi pengrawit (musisi Jawa) untuk sebuah acara pegelaran wayang kulit purwa di sebuah desa lereng gunung Lawu bagian timur. Sudah aku katakan kepada beiau bahwa pada hari lebaran kedua pasti aku selalu ada acara kumpul keluarga besar di Sentolo, dari Trah istriku. Tentu saja aku tidak bisa menyanggupi permintaannya. Pembicaraan kami malam itu menghasilkan keputusan bahwa aku tidak bisa ikut pentas. Rupanya aku tidak tahu jika pakumpulan karawitan ini kekurangan pengrawit untuk acara tersebut, walaupun akhirnya mereka bisa melaksanakan pentas itu dengan baik.

Beberapa hari menjelang lebaran tiba, teman akrab satu angkatan menelponku. Ia ‘menghiba’ untuk aku bersedia ikut rombongan karawitannya pada suatu acara pentas wayang di hari lebaran kedua. Pada mulanya aku menolak, sama seperti penolakanku terhadap kelompok pertama tadi. Tapi temanku itu tetap bersikeras memohonku, katanya kalau boleh Ia akan bilang ke keluargaku untuk minta ijin demi ‘menyelamatkan’ janjinya kepada pihak penanggap. Daripada berlarut Ia mau minta ijin keluargaku yang lain, lebih baik aku saja yang berunding dengan istriku. Dalam hatiku sebenarnya ingin pilihmenjalani hidup sebagai seniman, daripada mengikuti acara keluarga yang santai namun formil itu. Aku berat hati melepas istriku yang nyopir sendiri dengan penumpang pakdhe, budhe, serta anakku. Rute Solo-Sentolo bukan pertama kali ia nyopir, tetapi karena kami sudah berkeluarga maka aku wajib menjadi pimpinan perjalanan yang padat pada suasana lebaran itu. Tetapi istri mengijinkanku untuk membantu temanku, karena Ia tahu hati suaminya. Baginya tiada guna berdebat denganku karena biasanya aku sudah punya jawaban sendiri, percuma diskusi mencari solusi.

Tiba saat keberangkatan aku dan pengrawit lain menunggu jemputan di pendopo Taman Budaya Surakarta. Setelah beberapa saat menunggu, aku bertanya dalam hati karena teman-teman pengrawit belum banyak yang datang berkumpul di tempat itu. Karena pikiran itu semakin menganggu, aku tanyakan ke teman yang ‘menyuruhku’. Jawabannya sungguh bikin aku ‘lemas’, ternyata kami sudah kumpul semua, tinggal menunggu jemputan dari rombongan besar yang akan pentas wayang ke desa di lereng Timur gunung Lawu. Kami hanya sebagian rombongan yang akan melengkapi suatu perkumpulan karawitan. Aku dapat kabar lagi kalau perkumpulan itu adalah perkumpulan yang pernah kuikuti dan sudah kuputuskan untuk tidak bisa mendukung kegiatan pentas di hari lebaran kedua. Entah apa nanti jawab penjelasanku pada ketua perkumpulan akan masalah ini.

Bis pun datang dan kami segera berangkat, aku cari Pak Ketua perkumpulan karawitan di atas bis, ternyata beliau naik mobilnya sendiri. Untuk sementara aku bisa menenangkan diri selama perjalanan menuju lokasi pementasan. Daerah yang kami tuju melalui jalanan pegunungan yang terjal, meski pemandangan sangat indah tapi kami terganggu dengan jalannya bis yang tidak semestinya. Di tengah tanjakan yang curam, bis kami mogok. Dari kap mesin keluar bunyi yang sangat berisik, di sela-sela tutupnya menyembur uap air yang panas. Kami terpaksa berhenti, crew terlihat sibuk mengatasi keadaan. Para penumpang mencari tempat di sekitar rumah penduduk untuk sekedar duduk-duduk istirahat. Saking lamanya kami menunggu bis diperbaiki, penghuni rumah rupanya kasihan melihat kami. Dengan sukarela penduduk menyuguh kami dengan buah-buahan segar langsung dari pohon di depan rumah. Di sekitar tempat itu banyak ditanam pohon jeruk yang manis, kami pesta jeruk sembari menunggu bis bisa jalan lagi.

Akhirnya bis bisa jalan lagi, dan sampailah kami di lokasi pentas. Tempat pentas kami adalah di sebuah rumah penduduk yang dibangun di tepi jurang yang lumayan dalam, pasti itu milik orang kaya. Sebelum pentas berlangsung aku bertemu dengan Pak Ketua karawitan, betapa hatiku tak enak untuk bertemu, tapi aku harus menjelaskan semua. Penjelasanku memang sepanjang tesis mahasiswa S2, untunglah beliau mengerti semuanya, aku lega sekali.
Tuan rumah menyuguhi kami aneka hidangan dan minuman the manis hangat, cocok untuk hawa pegunungan seperti saat itu. Aku melihat beberapa pengrawit yang terlibat untuk pentas kali ini adalah pengrawit handal di Kota Solo. Tercatat waktu itu rombongan membawa: 4 pemain kendang kenamaan, 3 pemain gender, 2 pemain rebab, semua 30 orang pengrawit popular di komunitas karawitan Surakarta. Karena tidak latihan sebelumnya, maka kami bingung sendiri menentukan casting pengrawit, rata-rata kami ewuh pekewuh menduduki suatu instrumen tertentu. Akhirnya aku dipasrahi main siter, karena kebetulan nggak ada yang berani tampil sebagai penyiter.

Pentas berhasil dengan sukses. Setelah pentas aku dikasih dua amplop, satu dari temanku yang mengajak dan satunya dari Pak ketua Karawitan. Yang terakhir aku tolak dengan halus karena itu memang bukan hak-ku, aku sadar posisi dan keadaanku waktu itu. Peristiwa di atas sampai sekarang masih membekas padaku, rasanya pahit dan kecut jika mengingatnya. Sejak saat itu aku tidak lagi mau ‘ngiringi’pertunjukan wayang professional, mungkin karena trauma dan ingin menenangkan diri (selamanya?). Akhirnya peristiwa itu juga menjadi pelajaranku untuk tidak sembarangan menerima panggilan PY, untung waktu itu aku masih lugu dan apa adanya, tetapi yang musti harus aku pegang selamanya adalah: kejujuran dan menjunjung komitmen. Sekarang banyak seniman yang ‘ambruk’ namanya gara-gara kepercayaan para pengguna jasa menurun, mayoritas karena ulah seniman sendiri. Semoga aku masih bisa eksis dengan modal-modal di atas, amin.

Gentan, 8 Jan 2010

dari tarub ke tarub


Keroncong dalam Pemikiran dan Perenungan

Oleh: Danis Sugiyanto, S.Sn., M.Hum

Menurut pengertian masyarakat (baik umum maupun sebagai kajian seni di kalangan akademis), ditemukan berbagai arti mengenai kata keroncong. Arti keroncong tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Untuk menyebut gelang yang dipakai sebagai pelengkap pada busana khas rakyat  Madura (Jawa Timur).
  2. Secara onomatopis dari bunyi instrumen ukulele yaitu “crong…crong….crong”, yang konon berkembang menjadi kata/istilah asal muasal (musik) “keroncong”.
  3. Untuk menunjuk/menyebut suatu ansambel musik yang memainkan repertoar tertentu menurut aturan/pakem-nya. Adapun alat musiknya terdiri dari: piul (violin), seruling (flute), gitar, cuk (ukulele), cak (banyo), cello, dan bas (contra bass). Batasan ini hanya berlaku bagi ansambel keroncong yang biasa kita lihat secara umum pada masa kini, tidak membatasi ansambel keroncong yang lain (pada ansambel “Keroncong Tugu” tidak terdapat flute, tetapi digunakan alat semacam rebana, dan istilah instrumen cuk adalah prounga dan cak untuk machina, serta jitera untuk menyebut instrumen gitar).
  4. Untuk mengidentifikasi adanya suatu irama (beat) tertentu (masyarakat menyebutnya “irama keroncong”).
  5. Sebagai salah satu bentuk lagu dalam musik keroncong (bentuk yang lain adalah: stambul 1, stambul 2, langgam keroncong, langgam Jawa, dan berbagai bentuk lagu yang khusus).

Musik keroncong yang tumbuh dan berkembang seperti sekarang tentu telah melalui sejarah musiknya yang panjang. Berbagai referensi menyebutkan bahwa ansambel ini datang dari pengaruh kuat bangsa Barat (Portugis). Konon cikal bakal musik keroncong berasal dari kampung Tugu di Batavia pada abad ke-17. Semula musik ini terbentuk dari kegiatan berkumpul para penduduk Tugu selepas berburu atau bertani dengan bernyanyi untuk menghibur diri, lalu terbentuk komunitas-komunitas musik yang beraktifitas di rumah atau acara penduduk. Lama-kelamaan musik ini menjelma menjadi hiburan di pinggiran kota Batavia dan meluas perkembangannya sampai di kota-kota pulau Jawa dan nusantara. Kepopulerannya membawa musik ini menjadi hiburan elit bagi acara-acara peranakan Indo, bangsawan, saudagar-saudagar Cina, serta pribumi kaya pada dekade awal abad ke-20.

Sentuhan lokal membawa musik keroncong mengalami kekayaan musikal.

Indikasi ini terlihat pada perkembangan pola-pola tabuhan (permainan) yang mengadopsi budaya musik setempat seperti: ketuk tilu/jaipongan Sunda, gambang kromong Betawi, gambang Semarang, Tanjidor, gamelan Jawa, musik-musik Indonesia Timur (Maluku, Flores, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua), serta budaya musik lainnya (musik Sumatra, Melayu Deli, Minang, dan Batak).

Musik keroncong pernah mengalami masa emas ‘kejayaan” pada abad ke-20

ketika mulai munculnya komedi stambul dan ilustrasi musik film, masa kemerdekaan sampai dekade tahun 80-an. Banyak komponis terlahir dalam abad tersebut. Musik keroncong mengalami perkembangan luar biasa dalam segi instrumentasi dan orkestrasi, sampai sekarang. Banyak arranger dan musisi keroncong (serta musik di luar keroncong) yang telah berkreasi dengan jenis musik ini. Kebanyakan dari mereka masih mengacu konsep-konsep musikologis dari Barat. Musik keroncong telah diakses dan tereksplorasi menjadi bahan dasar kreatif dalam bermusik.

Penelitian-penelitian tentang musik keroncong masih jarang dilakukan, kuantitas dan kualitasnya jauh dari bidang ilmu/musik yang lain (terutama tradisi budaya musik gamelan/karawitan, ataupun ilmu-ilmu sosial). Agaknya benar pendapat peneliti musik (antropolog, musikolog Barat, ataupun etnomusikolog) terdahulu, bahwa musik keroncong dianggap musik yang tiada nilainya secara musikologis Barat.

Pendapat di atas boleh saja ditentang (terutama oleh pemerhati keroncong fanatik), atau bahkan bisa diamini kebenarannya. Pendapat yang menganggap keroncong “tiada bernilai”, berdampak pada pelecehan bagi selera/kesenangan masyarakat penggemar/pelaku musik keroncong, bahkan lebih jauh telah mengusik rasa nasionalisme. Sampai pada masalah ini lalu timbul pertanyaan, “Masihkah dibutuhkan eksistensi musik keroncong saat sekarang?”. Dengan kearifan, marilah kita menengok sejarah musik keroncong dari zaman masuknya genre musik ini ke Tanah Air sampai dengan perkembangannya pada masa kini yang telah menjadi ikon musik pemersatu Indonesia (konon keroncong adalah musik Indonesia). Apakah stigma itu masih melekat hingga kini? Mengapa di Indonesia masih sedikit yang mengembangkan keroncong, dilihat dari perspektif “musik baru”?

Keroncong masih dibutuhkan masyarakat?

Sejarah musik keroncong amat panjang, bahkan pernah mencapai masa emasnya. Mungkin kiasan yang tepat untuk keberadaan musik keroncong pada masa kini adalah.”Hidup segan, mati tak mau”. Kiasan ini serasi dengan keadaan para kreator, musisi, penggemar, atau badan pengayom keroncong yang setengah hati bersinergi dengan musik ini.

Bagi para kreator musik keroncong, nyata benar bahwa mereka hidup dari musik keroncong tetapi tidak semuanya dapat “menghidupi” keroncong. Musik ini telah dijadikan teman bekerja, tetapi masih sedikit usaha yang progresif untuk memikirkan keroncong menjadi musik yang mempunyai jatidiri. Para musisi juga sebagian besar narima jadi pendukung demi uang, daripada bersusah payah berbuat (dan juga berpikir) mulia agar posisi keroncong menjadi lebih bermartabat di mata masyarakat. Hal ini diperparah dengan organisasi-organisasi keroncong ataupun instansi pemerintah yang kompeten. Mereka turut andil dan memberikan jalan yang seringkali salah arah. Keroncong memang multifungsi dalam masyarakat, tetapi tidak hanya cukup dengan pendekatan ekonomis, kapital, turistik dan kekuasaan politik ataupun birokratis yang justru mengantar keroncong kepada jurang keterpurukan

Faktanya keroncong masih didayagunakan oleh masyarakat. Masih ada orang ‘punya kerja’ yang menggunkan jasa hiburan musik ini. Masih ada seniman-seniman yang melayani permintaan pentas (tanggapan). Grup-grup keroncong masih dijumpai dipelosok kampung perkotaan ataupun di desa-desa melakukan latihan dengan frekwensi masing-masing sesuai kemampuannya. Di dalam latihan grup-grup tersebut masih dijumpai pula penggemar yang sekedar datang melihat dan mendengar, mereka bukan seniman tetapi masyarakat biasa yang terlanjur cinta dengan keroncong. Adakalanya semangat mereka untuk dekat dengan keroncong melebihi senimannya sendiri. Penggemar-penggemar itu malahan ada yang mengkoleksi puluhan kaset keroncong. Kadang mereka tidak ingin jadi seniman professional, tetapi sekedar menghibur diri dan mencari pergaulan dengan insan-insan keroncong. Juga dijumpai penggemar-penggemar itu intervensi pada struktur kepengurusan grup yang turut andil menentukan arah dan tujuan grup keroncong.

Kebanyakan lagu-lagu dalam musik keroncong mengajak masyarakat keroncong untuk menikmati kegembiraan (hiburan bagi pribadi ataupun kelompok kecil seperti awal mula tumbuhnya musik ini). Musik ini seiring dengan perkembangan zaman telah menjadi seni pertunjukan sebagai sarana presentasi estetik. Fenomena perkembangan selanjutnya menjadikan musik ini sebagai sarana religi (seperti untuk misa ataupun lagu pujian yang diiringi musik keroncong). Jenis seni musik ini dapat digolongkan sebagai seni rakyat yang merupakan seni little tradition, seperti seni lain yang mengandung unsur kerakyatan (tanpa aturan ketat, bebas berkekspresi, guyub dan gotong royong). Di sisi lain musik keroncong dapat pula diatur ketat sesuai kehendak patron yang kuat (pemimpin, tokoh keroncong, dll.). Musik Barat menyediakan banyak aturan secara musikologis yang dapat menjadikan keroncong tampil dengan baju yang lain. Namun ketatnya  aturan-aturan tersebut akan tergantung pada pelaksanaannya (insan-insan pada komunitas keroncong).

Keroncong Sebagai Materi Kreatif Penciptaan Seni

Isu dunia seni pertunjukan dunia pada saat ini adalah getol mengangkat lokalitas sebagai andalan karya-karya seni. Gejala tersebut merupakan pilihan pembanding dari mainstream seni-seni pertunjukan yang mengandalkan isu modernitas dengan bantuan teknologi dan pengaruh dunia global. Sekarang pertanyaan yang muncul, apakah musik keroncong sebagai produk lokal dapat berbicara di persaingan seni pertunjukan dunia?

Bangsa Indonesia memiliki beragam kekayaan budaya yang banyak diantaranya telah diangkat menjadi pertunjukan kelas dunia. Menurut pengalaman, penulis telah berpartisipasi dalam banyak event pertunjukan skala nasional dan internasional. Yang patut dicatat adalah pada tahun 1997 penulis telah berhasil membawa unsur keroncong dalam pertunjukan “King Lear” oleh teater Works Singapore. Materi musik teater tersebut menampilkan kolaborasi berbagai budaya (musik) di Asia seperti; Indonesia (gamelan Jawa, Minangkabau, dan keroncong), Jepang (tradisi instrument Biwa), China (opera Beijing), Thailand, Malaysia. Proyek teater multikultur tersebut didanai oleh Japan Foundation, dan telah dipertunjukan di Jepang, Hongkong, Jakarta, Perth, Berlin, Copenhagen, dan Singapore. Meski hanya sekrup kecil dalam proyek seni tersebut, namun keroncong telah berusaha mendekat kepada dunia yang lebih luas. Saat sekarang telah banyak seniman yang menggandeng musik keroncong sebagai ide dasar penciptaan karya seni mereka, diantaranya adalah; composer Jepang Celia Dunkelman mengangkat lagu “Bengawan Solo” karya Gesang sebagai ide komposisi musiknya,  musik fashion show desainer kondang Anne Avantie “Aku, Wanita dan Kebaya” yang menggunakan keroncong sebagai ilustrasi musiknya, kolaborasi antara keroncong dengan musik calung Banyumas “Conglung”, ataupun karya-karya seni tugas akhir mahasiswa S2 ISI Surakarta yang telah mengolah musik keroncong dengan musik etnik yang lain. Tetapi sayang, insan-insan keroncong masih sedikit yang berkreasi membuat musik-musik baru dengan dasar musik keroncong. Sebagian besar kreativitas masih berkutat pada pengembangan kekaryaan yang berorientasi pada kerja aransir lagu-lagu yang sudah ada di masyarakat keroncong.

Orientasi kreativitas mengaransir lagu memang bukan kerja seni yang sia-sia, tetapi harus dilandasi konsep kekaryaan yang menawarkan kesegaran norma-norma baru berupa nilai-nilai musik, kaedah,  cara pandang terhadap medium, ekspresi idealisme bermusik, jati diri penciptaan karya seni, dan lain-lain. Dalam berbagai praktek keroncong masih banyak dijumpai kreasi yang mengekor pada kaset rekaman dan aransemen lama (ketinggalan zaman).

Jatidiri Keroncong

Dilihat dari keunikannya, musik keroncong bisa dikatakan unik dan eksotik. Musik ini tidak dijumpai dimanapun sebagai musik yang genuine (asli) kecuali di Indonesia. Keberadaan kroncong di Malaysia ataupun Negara lain (yang mungkin ada) hanya merupakan pengaruh dari insan-insan keroncong Indonesia yang menetap atau dipanggil untuk mengajar musik keroncong di sana. Akan tetapi dilihat dari sudut pandang ‘Barat’, sungguh seakan kita ketinggalan ratusan tahun dalam sejarah musik. Keroncong akan semakin ketinggalan ketika pengembangan selalu melihat ke arah budaya Barat  (terutama musikologisnya). Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dasar musik ini berpijak pada budaya musik Barat, tetapi harus ada sudut pandang pengembangan yang lain. Biasanya orang Timur yang ingin ‘maju’ harus menengok ‘Barat’. Karena seperti diketahui jamak bahwa di dunia Barat lebih disediakan kehidupan yang berpola modern, sedang di Timur relative tertinggal.

Dunia Barat juga sering melihat Timur sebagai dunia eksotis yang menyediakan beragam sumber dasar seni. Karya-karya budaya Barat banyak terinspirasi dari budaya Timur, baik seni yang kontemporer, eksperimen, world music, ataupun avant garde. Akankah kita (insan keroncong) sebagai orang dari budaya Timur sudah mulai melihat dan melakukan pengembangan seni (keroncong) dari sudut tolak budaya Timur juga? Kemungkinan ini bisa terjadi, dan menimbulkan peluang diliriknya seni-seni atau seniman-seniman Indonesia oleh dunia global. Kompetensi hasil seni masa kini dan kreator seninya (seniman) Indonesia semakin maju. Salah satu contohnya adalah seniman musik Rahayu Supanggah. Beliau membuka mata dan telinga dunia dengan konsep dan cara berkeseniannya yang sebagai orang Timur tetapi tetap memandang ke Timur. Inilah mungkin cara jitu seni (keroncong) Indonesia dalam menunjukan jatidirinya, serta dapat sejajar dengan seni-seni dunia yang lain.

KEPUSTAKAAN

Rustika Herlambang

2008    “Rahayu Supanggah dari Solo ke pentas dunia”, majalah fashion Dewi, edisi Agustus 2008.

Mack, Dieter.

1995    Sejarah Musik Jilid IV.Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.

Raffles, Thomas

1978 History of Java with an Introduction by John Bastin Vol 2. Kualalumpur: Oxford University Press

Rahayu Supanggah

2001    “Kolaborasi: Kisah Sebuah Pengalaman”, dalam jurnal Kêtêg volume 1 no. 1 Nopember 2001

2002        Bothèkan Karawitan I. Jakarta: Masyarakat Seni pertunjukan Indonesia.

2007        “Ketika Seorang Seniman Beretnomusikologi”, makalah Simposium Nasional Pengembangan Ilmu Budaya: Membumikan Etnomusikologi Indonesia. ISI Surakarta 2007

2007    Bothèkan Karawitan II: Garap. Surakarta: ISI Surakarta

Yusi A. Pareanom

2005    “I Lagaligo”, buku pementasan Robert Wilson di Teater Tanah Air Taman Mini Indonesia Indah Jakarta tanggal 10-12 Desember 2005.

BIOGRAFI SINGKAT: DANIS SUGIYANTO

Lahir 2 Maret 1971 di Surakarta, sekarang tinggal di Pondok Baru Permai Blok H no. 19 Gentan, Baki, Sukoharjo. Lulus STSI Surakarta tahun 1995 lalu Pascasarjana UGM pada Program Studi Humaniora, Pengkajian Seni Pertunjukan Fakultas Ilmu Budaya tahun 2003.

Pengalaman kerja:

  • Staf local KBRI Santiago, Chile tahun 1997-2000.
  • Tutor karawitan program Pendidikan Apresiasi Seni (PAS) STSI dan UMS Surakarta tahun 2005-2006.
  • Pengasuh kelompok karawitan Marsudi Renaning Manah (MAREM) kampung Kemlayan Surakarta sejak tahun 2000 sampai sekarang.
  • Dosen ISI Surakarta sejak tahun 2003

Pengalaman seni

–          Mengenal musik Barat tahun 1989, lalu belajar intensif musik keroncong sampai sekarang di Orkes Keroncong Swastika Surakarta.

–          Belajar karawitan secara intensif mulai tahun 1990 di STSI Surakarta.

–          Pentas ke luar negeri kali pertama tahun 1994 di Hongkong bersama STSI Surakarta.

–          Mendukung karya Rahayu Supanggah di berbagai kesempatan (rekaman, workshop dan pertunjukan di dalam dan luar negeri) sejak tahun 1997  (Teater Works Singapore “King Lear”, Singapore dan Jepang),  2000 (rekaman CD “Kurmat pada Tradisi”, 2001 (Seminar, Workshop, dan pentas di University of Taipe, Taiwan), 2005 (konser musik “Megalitikum Kwantum”, Jakarta dan Bali), 2005 (konser “The Sound of Beginning”, New York-USA), 2005-2008 (ILG di: New York-USA, Melbourne-Australia, Jakarta, Milano-Italy, Taipe-Taiwan), 2006 (Musik Fashion Show Anne Avantie), 2007 (Musik film “The Detour to Paradise”.

–          Mendukung karya Retno Maruti dan Padnecwara Grup sejak 2002 sampai sekarang, “Calon Arang” di Esplanade, Singapura (2007).

–          Mendukung karya-karya seniman: WS. Rendra, Sardono W. Kusumo, I Wayan Sadra, Slamet Gundana, Dedek Wahyudi, Dedy Luthan, Enthus Susmana, Hajar Satoto, Yayat Suheryatna, Suprapto Suryodarmo, dll.

–          Mencipta karya-karya musik untuk ujian mahasiswa S2 (“Subur” tahun 2003 dan “Arus Sungai dan Peradaban”, 2006), bersama Orkes Kroncong Swastika (“Pasamuan Panggung” 2003, “Conglung” tahun 2005, “Eksperimen kroncong” tahun 2007) dan kelompok Sonoseni Ensamble Surakarta sejak tahun 2000-sekarang (Samangke, Bedhah Dot Com).

–          Menjadi penampil dalam “The 50th Aniversary of Indonesia-Australia Friendship” di Sidney, nopember 2008.

Karya Tulis

–          Sumbangan Komponis Gesang Martohartono terhadap Musik Indonesia, tesis UGM 2003.

–          Narasi Bambu Calung, majalah Gong 2002

–          “Conglung”: Keroncong alternative, Taman Budaya Surakarta (2005).

–          “Parade 1000 Bunga”: keroncong eksperimen, Taman Budaya Surakarta (2007).

Kontak person:

–          danissugiyanto@hotmail.com

–          Hp: 08122605495

–          Telp:(062 271 7650370)

Pentas Kolaborasi UKM Keroncong ISI Surakarta dan Swastika