KERONCONG GADHON SWA BUWANA PADA FESTIVAL KNEJPE – DENMARK


 

Keroncong Gadhon merupakan istilah untuk grup keroncong yang tampil dengan jumlah alat yang tidak lengkap. Seperti yang kita tahu, sebuah grup keroncong dikatakan lengkap, apabila minimal ada tujuh alat utama, yaitu bass, cello, gitar, cak, cuk, flute dan biola.
Ditampilkan dengan minimal tiga alat musik seperti cak, cuk dan cello yang merupakan ‘jiwa’ dari keroncong sudah menjadi ciri Keroncong Gadhon. Namun rasanya memang ada yang kurang, sebab tidak ada pemain depan. Maka sering kali dirambah dengan flute atau biola sebagai pemain depannya.

Pusat Seni Budaya Denmark, Kulturvaerftet (The Culture Yard) dan Musikhuset Esjberg telah menyelenggarakan festival musik Internasional bernama ‘Knejpe Music Festival’ di kota Helsingor, 6-8 Oktober 2011 lalu.

Keroncong Gadhon Swa Buwana

Gelaran festival yang pertama tersebut telah mengundang berbagai grup musik dari berbagai negara yang mendapat pengaruh dari kultur musik Fado Portugis, seperti Taarab dari Zanzibar, Mando dan Fado dari Gowa di India, Keroncong dari Indonesia, dan Forro dari Brazil.

Mengapa acara ini diselenggarakan di Helsingor? Alasannya karena kota ini merupakan pelabuhan terbesar di Denmark yang sekaligus sebagai pintu masuk pertama menuju Denmark. Knejpe Music Festival merupakan bentuk perayaan sejarah para pelaut mancanegara yang merapat di kota tersebut saat menunggu izin raja untuk memasuki wilayah Denmark. Sembari menunggu izin masuk yang bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, para pelaut dan awak kapal menghabiskan waktunya di daratan untuk mencari hiburan dengan pertunjukan musik dan menikmati aneka minuman.

Tercatat bahwa pengaruh portugis dan budaya musik lain dapat dijumpai di kota tersebut, seperti ditampilkannya kembali para pengamen jalanan Denmark dari berbagai generasi.
Kehadiran musik keroncong yang dipamerkan di Denmark tak lepas dari peranan Eva Fock, seorang etnomusikolog yang membidani serta menjadi kurator festival tersebut. Beliau menggagas festival tersebut karena obsesi yang sudah 25 tahun terpendam. Ketika berada di negeri Belanda, ia sangat terkesan dengan musik keroncong dan bermimpi suatu saat harus mendatangkan musik yang sangat disenangi itu untuk pentas di Eropa. Swa Buwana diberi kesempatan untuk mempresentasikan budaya musik Indonesia lewat alunan musik keroncong dan langgam Jawa.

Swa Buwana merupakan gabungan dua grup musik yang disegani di daerahnya yakni keroncong Swastika dari Kota Solo dan Campursari Sangga Buwana dari Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah. Gaya musik keroncong yang diusung grup ini menggunakan konsep gadhon. Konsep ini mengoptimalkan alat-alat musik yang dipandang penting dan harus ada dalam musik keroncong. Instrumen musik yang dibawakan terdiri dari violin, cak, cuk, dan cello. Konsep ini paling mungkin digunakan karena keterbatasan kuota jumlah personil yang bisa berangkat ke Denmark. Para musisi yang terpilih yaitu Danis Sugiyanto (violin), Sapto Haryono (cak), Martanto ‘canthing’ (cuk), Dwi Harjanto (cello), dan Nonik Aprilia (penyanyi).

Untuk persiapan lawatan seni ini, Swa Buwana telah menyiapkan secara khusus berbagai lagu dan aransemen sebagai berikut: Bengawan Solo, Kr. Moritsko, Stb. Dua Baju Biru, Kr. Kemayoran, Lg. Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Lg. Luntur, Lgm. Sedangkan lagu yang berbahasa Jawa yang ditampilkan yaitu Ngimpi, Caping Gunung, Ali-ali, dan Nusul. Nantinya, lagu-lagu yang dipersiapkan bisa diganti dengan lagu spontanitas yang sesuai dengan kondisi dan situasi suatu tempat pentas.

Swa Buwana mendapat kesempatan tampil selama tiga hari. Dalam setiap harinya grup keroncong ini harus pentas sebanyak tiga kali di tempat yang berbeda. Pada hari pertama seluruh delegasi negara menghadiri malam ramah tamah. Mereka menyajikan sebuah lagu khas dari jenis musiknya ataupun khas negaranya. Selain Swa Buwana, delegasi Indonesia juga dihadiri oleh Kuasa Usaha ad Interim KBRI Kopenhagen. Saat tampil, Swa Buwana membawakan lagu Bengawan Solo karya cipta Gesang Martohartono.
Tempat-tempat yang dikunjungi untuk pentas merupakan kafe, pub, ataupun restaurant yang tersebar di sekitar Kuil Hamlet di kota pelabuhan Helsingor. Kuil Hamlet adalah suatu benteng pertahanan tua yang menjadi inspirasi Wiliam Shakespeare dalam mewujudkan naskahnya yang terkenal yaitu Hamlet.

Para musisi yang mengikuti festival ini harus berjalan dari suatu tempat ke tempat pentas lainnya di bawah cuaca yang dingin dan menghadapi berbagai suasana dan audiensi yang berbeda. Mereka seakan larut merasakan sejarah masa lalu, para pemusik yang menghibur para pelaut ataupun pengunjung kota yang memadati berbagai tempat minum dan keramaian malam hari. Siang harinya mereka juga berkesempatan pentas di area terbuka Plaza Helsingor yang penuh orang namun tetap tertib dan apresiatif terhadap seni.

Pada hari kedua dan ketiga mereka berkesempatan memberikan workshop dan sambung rasa dengan sekolah-sekolah umum di kota dalam bentuk pentas maupun presentasi etnomusikologi. Meskipun belum banyak yang mengenal Indonesia, namun diplomasi budaya lewat seni terutama music keroncong ini dapat memberikan pengertian antara lintas bangsa secara efisien. Bagi Bangsa Indonesia beruntung bisa lebih dikenal di negeri Denmark, sedangkan bagi pemusik keroncong sendiri bisa menimba ilmu dan pengalaman untuk bisa bergaul dengan seniman dari berbagai negara di dunia dalam suatu forum festival seperti Knejpe Music Festival kali ini.

Gentan, 5 November 2012

by: Danis sugiyanto

Iklan

Kolaborasi Musik Keroncong (sebuah Tantangan Masa Depan)


Makalah ini telah diseminarkan pada Solo Keroncong Festival 15 September 2012 di Hotel Pose In, Solo-Jawa Tengah
==========================================
Oleh: Danis Sugiyanto, S.Sn., M.Hum.
Dosen ISI Surakarta

Kolaborasi adalah pertemuan dua atau lebih kesenian/seniman dari negara atau bangsa atau kultur yang berbeda yang bekerja sama atau kerja bersama untuk membuat suatu produk karya seni. Musik keroncong telah mengalami kolaborasi sejak muncul dan berkembang hingga zaman ini. Sifat kolaborasinya mempunyai karakteristik yang berbeda pada setiap masa. Motivasi kolaborasi, tujuan, cara kerja, bentuk, manfaat, serta hasil kolaborasi masih banyak mencadi catatan dan pertanyaan.
Kolaborasi setidaknya melibatkan unsur seniman dan atau kesenian. Tata cara, etos kerja, dan kualitas produk kolaborasi juga mempunyai tingkat yang berbeda. Di era global seperti sekarang justru banyak ditemukan praktik kolaborasi ’kurang serius’. Ibarat sepasang manusia lain jenis, kolaborasi memiliki skala hubungan yang juga berbeda. Pada tahap ’pandangan pertama’, kolaborasi baru menyentuh permukaan dan yang nampak saja. Tahap ’pacaran’, kolaborasi yang terjadi adalah proses saling mengenal satu sama lain. Tahap ’perkawinan’, kolaborasi ini mulai menginginkan terjadinya pengenalan luar dalam dan juga berakibat akan memunculkan ’organisme’ (produk).
Kolaborasi ’pandangan pertama’ biasanya hanya menimbulkan cinta pada persentuhan kulit luar. Jika hanya berhenti pada tahap ini maka yang terjadi adalah kolaborasi asal jadi. Meski telah bersentuhan kulit yang dapat menimbulkan berbagai efek misal: ereksi atau exitment budaya, rasa syur berkesenian, bahkan berlanjut sampai hubungan di tempat tidur. Persinggungan ini bisa berakibat berbagai rasa seperti: geli, gatal, bau, atau menimbulkan luka yang bervariasi. Kolaborasi seperti ini biasanya hanya memerlukan waktu yang pendek dengan persiapan yang kurang matang. Kolaborasi sering dimaknai dengan jam session yang lebih mengutamakan kemampuan praktek secara improvisasi, konsep atau idealisme menjadi tidak diutamakan. Pada tahap ini kolaborasi masih berkutat pada permasalahan teknis seperti: penggunaan tangga nada, ritme, pemilihan bentuk, gaya, dan sebagainya yang seringkali megakibatkan pergesekan.
Musik Keroncong sebagai Pemrakarsa dan Mitra Kolaborasi

Seni pertunjukan dari zaman ke zaman mengalami perkembangan, ditandai dengan semakin rumitnya elemen pembentuk sebuah karya seni. Musik keroncong tidak lagi dimaknai sebagai musik klangenan yang statis, tetapi butuh ruang ekspresi yang lebih luas dan merdeka. Musik keroncong telah bersinergi dengan jenis seni musik dan seni yang lain. Berbagai contoh kolaborasi tersebut misalnya: musik keroncong sebagai musik teater (opera stambul, musik film, lawak/dagelan, parodi, dan lainnya), baik yang bersifat tradisional sampai modern. Demikian juga kolaborasi antara musik keroncong dengan sesama seni musik seperti: gamelan, jazz, dangdut, rock, hi¬p ho¬p, regae, dan lain-lain. Kolaborasi juga telah dilakukan antara musik keroncong dengan: tari, pedalangan , bahkan seni rupa.
Musik keroncong sebagai pemrakarsa kolaborasi masih sangat minim dijumpai dalam proses perkembangan seni pertunjukan di Indonesia, seringkali musik keroncong dijadikan mitra bahkan lebih parah lagi hanya menjadi pelengkap sebuah karya atau event seni pertunjukan. Posisi kolaborasi seringkali tidak sejajar, musik keroncong tidak mendapat peran yang signifikan.
Skala kolaborasi juga belum mencapai tingkat yang menggembirakan. Meskipun telah ada seniman yang berkolaborasi dengan seniman Internasional. Hal ini diperlukan peran serta yang aktif dari seniman keroncong maupun lembaga terkait dengan seni dan budaya maupun pemerintah Indonesia. Kolaborasi juga penting untuk mengembangkan sisi seni (musik) keroncong disamping untuk kepentingan pariwisata ataupun hubungan bilateral dengan bangsa atau negara lain.

Pentingnya Riset sebelum Melakukan Kolaborasi

Riset sangat penting sebagai langkah awal dalam berkolaborasi. Riset bisa dilakukan oleh seniman kolaborator dengan kemampuan masing-masing. Bagi masyarakat terdidik di sekolah ataupun perguruan tinggi seni tuntutan mengadakan riset terlebih dahulu sebelum membuat karya sangat tinggi. Tujuannya adalah untuk membuat suatu pondasi yang kokoh agar bentuk seni hasil kolaborasi tidak mudah roboh. Para seniman keroncong yang mempunyai dedikasi, loyalitas, dan skill dapat melaksanakan tahap penelitian ini dengan pendekatan teknik. Intensitas riset ini merupakan bagian penting kolaborasi dalam mencari persamaan dan perbedaan mendasar diantara para kolaborator. Tahap ini mutlak dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kolaborasi yang merupakan pemerkosaan atau ’menang-menangan’ antara para pelaku kolaborasi.
Pengalaman sebagai kreator seni selama ini membuktikan bahwa dengan memahami objek seni secara komprehensif dan mendalam, maka hasil kolaborasi akan mendekati titik optimal. Kurangnya penelitian terhadap mitra kolaborasi menjadikan kualitas karya seni akan belum matang. Pengetahuan yang banyak, dan rasa saling mengerti kepada para mitra kolaborasi akan menimbulkan keputusan yang bijaksana dan timbulnya rasa hormat yang tinggi, sehingga hasil kolaborasi tidak terkesan sembarangan.

Komunikasi dalam berkolaborasi

Unsur terpenting sekaligus problem utama dalam kolaborasi adalah komunikasi. Musik diyakini mempunyai sifat universal sehingga diyakini tidak ada kendala dalam komunikasi, namun pada kenyataannya tidak sesuai dengan pendapat tersebut. Musik keroncong dipercaya menjadi musik pemersatu di Indonesia karena bahasanya yang bisa dimengerti, tetapi musik keroncong bukan sekedar dimaknai sebagai sarana komunikasi yang wantah, musik keroncong juga bisa mengisyaratkan sesuatu yang tan wadag (abstrak) yang kadang penuh simbol terutama di dalam lirik-liriknya. Musik keroncong sering kesulitan untuk lepas dari bingkai kultur yang membebani yaitu: zaman, lingkungan, fungsi dan sebagainya.
Kolaborator yang berhasil setidaknya harus memahami jiwa ataupun esensi kesenian yang dihadapi. Cara memainkan alat musik sangat bervariasi antara etnik, kultur bahkan pribadi seniman dalam konteks ruang dan waktu yang beragam. Kolaborator dituntut mempunyai pemahaman yang benar tentang instrumentasi ataupun orkestrasi, bentuk komposisi, organisasi musikal, tangga nada, ritme, harmoni, dinamik, vokabuler, pola dan teknik permainan, dan lain-lain. Kesemuanya adalah sarana untuk mengekspresikan sebuah musik sekaligus cara untuk memahami isi/esensi kesenian dan senimannya. Dari itu semua para kolaborator akan mendapat pengertian yang mendalam yang diharapkan mampu mengambil keputusan yang bijaksana dalam kerja kolaborasi.
Kolaborasi pada tingkat ’cinta pertama’ biasanya masih berkutat pada masalah pemahaman ujud unsur-unsur material, struktur, vokabuler, serta teknik-teknik menyajikan repertoar para kolaborator. Pada tingkat ini makna, jiwa, ataupun esensi seni belum dipahami menyeluruh, sehingga seringkali proses dan perwujudan kolaborasi adalah saling mencocokan apa yang masing-masing mereka punyai, perwujudannya hampir selalu terjebak pada objek materi yang dianggap mirip atau ’sama’. Para kolaborator akan saling mencocokan tangga nada, birama, warna suara, ataupun meter, sehingga seringkali terjadi pemaksaan ’dicocok-cocokan’ yang berakibat pada kolaborasi pemerkosaan. Jika ada yang dominan, pasti ada pihak kolaborator yang terpaksa mengalah untuk menanggalkan jati dirinya. Hasil kolaborasi demikian tak lebih sebagai bayi hasil persetubuhan yang tidak dikehendaki karena tidak adanya pemahaman yang mendalam diantara kedua belah pihak.

Kepustakaan

Rahayu Supanggah
2002. “Kolaborasi Kisah sebuah Pengalaman” . Jurnal Keteg volume I No. 1 edisi
Nopember 2002.

Triyono Bramantyo.
2004. Disseminasi Musik Barat di Timur. Yogyakarta: Tarawang Press.

Karya Danis Sugiyanto 5 tahun terakhir:

– 2012 Prihatin, ilustrasi Roro Mendut, Teater Jakarta
– 2012 Janturan, ilustrasi Roro Mendut, Teater Jakarta
– 2011 Swabuwana, Knejpe Festival, Helsingor Denmark
– 2011 Carabalen orkestra, ilustrasi musik tari Swargaloka Grup, Gedung Pewayangan
TMII Jakarta
– 2011 Bahana Gita Persada, konser Karawitan, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
– 2010 Musik Fashion Show Anne Avantie, Karaton Surakarta.
– 2010 Urip, Festval Gamelan Dunia Terengganu, Malaysia
– 2010 Arus Monggang, ilustrasi musik Matah Ati, Teater Jakarta
– 2010 Wayang Kroncong. Jaten, Surakarta.
– 2009 Aku, Wanita dan Kebaya. Musik Fashion Show anne Avantie, Hotel Mulia Jakarta
– 2009 Wayang Kethoprak Pendhapan. TA TV Surakarta
– 2009 Circular Ruins, Musik Tari, Substation Singapore
– 2009 Bedah dot Com. Ngayogjazz Festival
– 2008 Arus Sungai dan Peradaban, Musik Tari Ujian Akhir S2 ISI Surakarta
– 2007 Conglung, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Campursari Riwayatmu Kini


by Danis Ötnayigus on Wednesday, August 12, 2009 at 1:39pm
Gambar itu selalu muncul manakala layar facebook kuhidupkan. Sesosok perempuan cantik telah menyita pandanganku, segera kutambahkan dia sebagai teman di jejaring sosial itu. Waktu berlalu kutahu bahwa ternyata dia adalah seorang penyanyi campursari yang laris saat ini, kubersyukur bisa berteman dengannya walau sebatas di dunia maya.
Yang menjadi pikiranku sekarang adalah bukan lagi wajahnya yang camtik, tetapi ketertarikanku untuk menengok kembali seni campursari yang digelutinya. Yah, teringat lagi kata yang bernama ”campursari” setelah sekian lama hilang di memori pengalamanku sebagai musisi seni itu. Seakan baru beberapa tahun berlalu aku menjalani profesi sebagai musisi campursari, padahal sesungguhnya itu telah terjadi pada tahun 90-an. Ketika itu seniman musik keroncong dan karawitan masih sedikit yang berkreasi menggabungkan kedua jenis musik tersebut, meskipun menurut Pak Andjarany fenomena campursari konon sudah ada di Indonesia pada tahun 60-an.
”Campursari” yang dimaksudkan Andjarany tadi adalah dikreasi oleh RRI Semarang. Format ansambel musiknya terdiri dari: seperangkat gamelan minus ricikan (instrumen) rebab dan suling, yang diganti dengan violin dan flute. Sebatas pengetahuan dan pengalamanku, telah terdapat rekaman ”campursari” yang dimaksud pada beberapa perusahaan rekaman seperti: Lokananta, Fajar, dan lainnya. Mereka menyertakan biduan handal dari kedua induk musik tersebut (keroncong dan karawitan), seperti: Maryati, Waljinah, Ngatirah, ataupun Supadmi.
Tahun 90-an musik keroncong (dan karawitan) masih menyimpan masa keemasan dilihat dari fungsinya sebagai seni hiburan yang populer. Terlihat pada masa itu mulai ada kreasi-kreasi dari berbagai seni pertunjukan yang menggabungkan kedua jenis seni musik tersebut. Kreasi juga timbul pada masing-masing jenis dengan menciptakan komposisi (baca: lagu) baru yang tidak lazim dari segi bentuk, irama, laras, dan teknik menyajikannya. Masing-masing seni pembentuk campursari masih ketat mempertahankan ansambelnya, baik berupa alat dan teknik bermusiknya. Terlihat sekali seniman-seniman seni musik ini masih setia menggunakan perangkat akustik yang tidak memakai instrumen musik elektronik. Lagu Ngimpi ciptaan Ki Nartosabdo yang biasa disajikan pada ansambel gamelan mulai terlihat disajikan oleh ansambel musik keroncong, sebaliknya lagu Bengawan Solo, Dinda Bestari yang kuat nada-nada diatonisnya juga kerap terdengar di pentas-pentas wayang kulit pada sesi limbukan atau goro-goro. Kreasi-kreasi ini memunculkan pemikiran seniman untuk berbuat praktis dengan membawa serta kedua genre musik dalam satu ansambel baru. Keinginan ini muncul untuk mewadahi keinginan penonton/penanggap yang heterogen dalam memilih lagu. Seringkali penonton/penanggap salah sasaran karena meminta lagu yang tidak bisa dilayani grup yang tampil, suatu contoh suatu orkes keroncong tidak dapat menyajikan repertoar lagu/gendhing yang biasa disajikan oleh karawitan/gamelan-begitu pula sebaliknya, suatu grup karawitan tidak bisa menyajikan lagu keroncong atau lagu diatonis lainnya.
Zaman keemasan seni campursari terjadi mulai pertengahan tahun 90-an sampai awal 2000-an, “campursari” tidak lagi berujud seperti format tahun 60-an ala RRI Semarang. Masyarakat dapat memaknai sendiri ansambel ”campursari”-nya, grup organ tunggal yang menyajikan lagu-lagu pentatonik sudah dapat dikatakan sebagai sebuah pertunjukan campursari, demikian juga pemakaian keyboard dengan kendang. Kadang pula suatu ansambel keroncong ditambah kendang, atau seperangkat combo band ditambah alat-alat keroncong dan gamelan juga disebut campursari. Satu ansambel campursari yang lengkap bisa terdiri dari ansambel keroncong, gamelan, combo band, dan orkes melayu/dangdut. Tentu saja demi efisiensi jumlah personal (musisi), masing-masing musik diwakili seorang musisi dengan instrumen yang khas pada jenis musiknya. Misalnya: pada ansambel keroncong cukup diwakili instrumen ukulele, cello, dan cak; pada ansambel gamelan diwakili oleh ricikan balungan (Demung, dan 2 buah saron barung kesemuanya berlaras pelog); combo band menyertakan lengkap dengan drum set-nya; dan ditambah kendang ketipung (tabla) untuk mewakili/melayani lagu-lagu berirama Melayu/dangdut. Jumlah instrumen yang ada bisa tergantung pada kemampuan grup dan atau permintaan penanggap.
Musik campursari nyata telah dapat membantu kehidupan dapur seniman-seniman pendukungnya. Banyak teman-teman musisi bahkan dapat bergantung sepenuhnya pada pendapatan pentasnya, mereka dapat membeli rumah, kendaraan ataupun menyekolahkan anak sampai jenjang tertinggi. Bahkan teman seperjuangan saya di keroncong dahulu telah ada yang bisa ”ngamen” campursari sampai ke negeri Belanda dan Suriname. Di sisi lain, campursari juga telah menambah duka bagi sebagian orang. Telah (banyak) terjadi keretakan rumah tangga gara-gara kehidupan campursari yang ”luwes namun keras”, ada sesama musisi yang terlibat affair asmara. Terdapat pula daerah yang sering rusuh jika ada perhelatan hajatan warga dengan mendatangkan grup campursari. Ekses yang lain bahkan ada tokoh seni ini yang populer namanya sehingga memberanikan diri maju menjadi calon legislatif di daerahnya.
Perubahan pasti melanda pada suatu kehidupan, pada campursari secara kasat mata terdapat pada aksesoris penyanyi, MC, ataupun musisinya. Penyanyi keroncong atau karawitan (Swarawati atau Sindhen) biasanya berbusana kain Jawa menurut ukuran seperlunya, tetapi lihatlah pada penyanyi campursari harus diperlukan aksesoris tambahan seperti bunga yang melingkar di rambut. Perangkat soundsystem juga berkompetisi mendukung pergelaran, karena itu menjadi tolok ukur gengsi suatu grup campursari dan penanggapnya. Seringkali terjadi pula dalam suatu pentas menghadirkan bintang-bintang campursari ”papan atas”, walau mereka membawakan satu atau dua lagu secara berturut lalu pulang untuk memenuhi permintaan pentas di tempat lain.
Betapa seni ini dipandang jelek atau rendah karena berbagai fenomena di atas, tetapi tetap ada sesuatu nilai positif yang menyertai perkembangan seni itu sendiri. Pendapat ini juga belum tentu benar, karena tergantung perspektif memandang seni itu yang berbeda anatara satu orang dengan yang lain. Masyarakat seakan selalu diingatkan memori musikalnya dengan dengaran tangga nada ”ala Jawa” dari orkes campursari. Begitu juga bagi pelaku seni dari berbagai pembentuk seni itu mau tidak mau harus belajar lagu-lagu yang di dalamnya demi tuntutan profesionalitas sebagai ”penghibur” dengan memahami berbagai tangga nada dan budaya musik, ataupun pemahaman budaya secara umum.

DANIS SUGIYANTO-SOLO
(tulisan ini pernah kukirim ke Koran Joglo Semar, entah dimuat atau tidak saya nggak tahu)

Pak Gesang idolaku, Jurug-Solo, tahun 2000.