Seni Karawitan: Masihkah Dicintai Masyarakat Jawa?


by Danis Ötnayigus on Friday, July 17, 2009 at 2:04am

Masa kini terasa asing dan aneh untuk membicarakan seni karawitan dalam masyarakat. Bagi pelaku seni yang dimaksud tentu tidak merasa demikian, tetapi bagaimana dengan masyarakat pada umumnya? stigma tentang seni itu terutama pada generasi muda zaman sekarang adalah berkisar tentang: musik orang tua, kuna, pengantar tidur, kurang gairah, dan sebagainya. Para insan karawitan bagaikan ”perawan di sarang penyamun”, sesuatu pilihan hidup yang soliter diantara rimba kehidupan yang majemuk. Bahkan acapkali para penggemar, pelaku seni karawitan dianggap manusia aneh, yang ketinggalan zaman. Sinyalemen ini tidak mutlak menjadi suatu kebenaran, tetapi pendapat seperti ini sering dijumpai di masyarakat.

Marilah kita membuka masa lalu, gamelan adalah hasil budaya yang turut andil dalam proses pembentukan bangsa secara sosio kultural. Seni karawitan mempunyai berbagai fungsi, mulai dari untuk kepentingan ritual sampai pada ekspresi seni hingga sebagai hiburan masyarakat. Konon budaya gong yang berasal dari benua Asia menyebar sampai pulau Jawa telah mengalami sejarah panjang di bidang teknik metalurgi sampai mempunyai estetika musikalitas yang khas di berbagai daerah di nusantara. Gamelan telah menjadi perabot upacara di dalam kehidupan keraton. hingga sarana perkenalan agama Islam oleh para Wali. Keraton yang dulu merupakan pusat kekuasan politik dan kebudayaan telah mewariskan budaya gamelan dengan segala aturan yang melekat padanya. gamelan untuk berbagai fungsi kehidupan di masyarakat.

Resepsi perkawinan.pada masyarakat kota (terutama di Solo) yang menggunakan jasa penyajian karawitan secara langsung sudah jarang ditemui, indikasi ini dapat ditemui diberbagai gedung pertemuan yang biasa disewa untuk keperluan resepsi pernikahan. Gedung-gedung tersebut memang jarang yang menyediakan tempat khusus bagi seperangkat gamelan, kalaupun ada gamelan karena atas permintaan penyewa/yang punya hajat. Gamelan sebagai salah satu pelengkap kesempurnaan suatu resepsi perkawinan masih dibutuhkan pada masa sekarang, walaupun hanya lewat ’pita suara’.

Pola pikir dan budaya masyarakat untuk mengadakan sajian gamelan dalam upacara-upacara adat Jawa (Surakarta), berawal dari berbagai upacara kraton. Masyarakat Jawa merasa kurang afdol apabila suatu upacara masyarakat tanpa disertai alunan karawitan secara langsung, masa lalu karawitan menjadi primadona karena kemarêman dan keharusan yang wajib ditunaikan. Karawitan selalu muncul dan berkiprah dalam setiap upacara adat Jawa. Hal itu berdampak pada meningkatnya status sosial penanggapnya seperti yang dilakukan para bangsawan atau abdi dalêm di Keraton. Wibawa para niyågå juga terangkat dengan seringnya mereka pentas memeriahkan hajat bangsawan, orang kaya, atau penanggap lainnya. Karawitan menjadi hiburan masyarakat di kota maupun di pedesaan. Sampai sekarang sebagian masyarakat, atau daerah masih merasa pentingnya kehadiran karawitan di setiap upacara adat Jawa atau dalam kehidupan sehari-harinya.

Di daerah tertentu di sekitar kota Solo bahkan penyajian karawitan secara langsung masih dibutuhkan kehadirannya. Apabila suatu rumah tangga menanggap grup karawitan, maka tetangga atau penduduk di sekitarnya juga akan ikut ”nggantung gong”. Masyarakat merasa ada yang kurang sempurna hajatnya apabila tidak menghadirkan gamelan berikut pêngrawit-nya. Ada upacara masyarakat Jawa (malêm midodaréni, manténan, wêtonan, sêpasaran, dhuhkitan, dll.), pasti ada suara gamelan mengalun. Boleh dikata masyarakat mengidap sindrom ”keharusan ada gamelan di dalam resepsinya”.

Lalu bagaimana keberadaan gamelan di kota (Solo) dengan keadaan sekarang?. Kota Solo dengan predikat kota budaya sangat kontradiktif dengan kegiatan (eksistensi) karawitan sesungguhnya di masyarakat. Menurut survey, hanya ada beberapa grup karawitan di kota Solo yang masih latihan dan eksis secara kontinyu.Rata-rata mereka merupakan kelompok yang bukan profesional, hanya untuk hiburan dan sarana pergaulan. Perkumpulan-perkumpulan karawitan tersebut biasa tergabung dalam komunitas kampung, instansi kerja, perguruan tinggi, sekolah, ataupun sanggar karawitan. Aktifitas kelompok-kelompok itu bisa ’dipertunjukan’ kepada umum lewat siaran radio atau TV, atau hari ulang tahun kelompok. Jarang yang melayani tanggapan profesional, kecuali beberapa sanggar dan perguruan tinggi/sekolah seni di kota Solo.

Apakah faktor-faktor yang menyebabkan turunnya animo masyarakat untuk menggunakan jasa pertunjukan karawitan secara langsung (hidup)? jawaban pertanyaan ini sangat tergantung kepada banyak aspek: seperti ekonomi dan perubahan budaya oleh zaman. Tempat upacara dan rumah tinggal yang semakin sempit bukanlah salah satu faktor penyebab utama menanggap pertunjukan karawitan secara langsung, tetapi hal ini menjadi pemikiran penanggap dengan banyak resiko seperti: hubungan sosial yang terganggu, meskipun hanya dilangsungkan sehari. Masyarakat kota sebagian besar telah beralih berpikir ekomomis, sehingga cenderung melakukan jalan pintas dengan prinsip berkorban sekecil-kecilnya dengan mendatangkan untung sebesar-besarnya. Mengadakan suatu upacara dengan mengundang grup karawitan dipandang tidak efisien dalam pandangan ekonomis. Kemudian banyak orang melakukan terobosan yang tidak mengindahkan faktor: budaya, sejarah, dan filosofis yang banyak terkandung dalam suatu upacara (adat Jawa). Pada akhirnya timbul ’budaya instan’ yang ekonomis, dangkal, dan mengabaikan nilai-nilai seni. Kehadiran gamelan masih dibutuhkan walau diwakili oleh jasa ’pita suara’.

Fenomena ini boleh menjadi pendukung surutnya kelompok karawitan profesional. Ketika masyarakat tidak membutuhkan jasa karawitan lagi, penghayat dan pelaku karawitan akan beralih menjadi ’pertapa’ yang mengabdikan seluruh dedikasi, ketrampilan, dan loyalitas semata kepada seni karawitan itu sendiri.
Akankah masyarakat semakin realistis tetapi masih memegang tradisi dan menjaga kepuasannya untuk menghormati gamelan lagi? semoga gamelan jadi tuan rumah di kota Solo lagi.

Danis Sugiyanto
Dosen ISI Surakarta Jurusan Etnomusikologi, Seniman dan Pelatih Karawitan MARÊM Kampung Kemlayan Surakarta

INDIVIDI


Mbah Mloyowidodo

Kata yang kupakai judul karangan ini begitu menggelitik, teringat seorang guruku-sang maestro gendhing-gendhing Jawa tersohor di jagat karawitan, namanya Mbah Mloyowidodo dari kampung Kemlayan Surakarta. Banyak sekali kata-kata asing yang terdengar unik, lucu, namun segar di telinga ketika beliau mejang murid-muridnya. Kata-kata beliau yang kocak berasal dari kosa kata bahasa Belanda, Cina, Arab, ataupun Inggris.

Orang Jawa lama (sepuh, tua) kebanyakan sulit melafalkan kosa-kosa kata bahasa asing, apalagi orang biasa bermodal oral (kupingan) yang menyandarkan diri pengetahuan komunikasinya tidak dengan budaya baca dan tulis. Ini bukan bermaksud merendahkan situasi orang –orang tua kita yang lahir dari zaman penjajahan dan kesengsaraan, sehingga  bangku pendidikanpun tak pernah mereka enyam.

Aku bukan ahli bahasa yang tentu saja tidak tahu asal kata “individi”, kuduga  berasal dari kata “individu”.  Bukan maksudku untuk mempersalahkan benar salah, anehnya kami selalu tertawa jika salah satu berkata “individi” (bahkan sampai sekarang). Kata lain yang paling kami kenang adalah seperti: dekimen dan trotoir. Anak yang dilahirkan dari generasi sekarang tentu tidak mengalami kepopuleran pengejaan kata-kata tadi, tentu saja mereka kurang peka dengan guyonan yang melibatkan kata-kata itu. Dekimen berasal dari bahasa Inggris “document” yang tentu saja sulit dilafalkan orang Jawa.  Sedangkan trotoir kurang lebih sama artinya dengan kata trotoar yang lebih akrab untuk menunjukan bagian jalan yang khusus digunakan untuk pejalan kaki.

Lain Mbah Mloyo, lain lagi Mbah Sastrotugiyo. Beliau adalah seorang vokalis handal RRI yang diangkat sebagai dosen luar biasa di STSI Surakarta. Tak kalah kocaknya dengan Mbah Mloyo dalam mengajar kepada murid-muridnya. Mereka memang terlahir untuk jadi seniman yang banyak teman di panggung-panggung pertunjukannya maupun di lingkungan sosialnya. Salah satu kata yang sering muncul dari beliau adalah “pindoor’. Lagi-lagi saya tidak tahu asal katanya, tapi ketika mengajarkan salah satu jenis gendhing sekar bergaya palaran kata itu sering muncul. Yang dimaksud adalah jatuhnya pukulan gong yang disebabkan oleh bait-bait kalimat tembang yang dipalarkan. Jatuhnya pukulan gong di sini akibat dari rasa melodi lagu tembang yang menginginkan rasa seleh berat, sehingga pemain kendang harus member tanda dengan musikalitas tertentu agar pemain gong tanggap untuk memukul instrumennya ketika frase lagu musikal tiba.

Huruf v maupun f adalah huruf-huruf yang  sulit dilafalkan oleh orang Jawa, apalagi huruf yang lain seperti: q,x,dan  z. jika terdapat kata asing dengan huruf-huruf tersebut pasti akan diucapkan secara serampangan sesuai tradisi oral yang sering diandalkan. Pak Wakidjo adalah dosen luar biasa di ISI Surakarta yang sering melafalkan kata variasi menjadi “pariaksi’. Simak kalimat berikut ini, “wah, sak menika sekaran kendhang kula sampun nyengkok pundi-pundi, nggih Pak Panuju, Pak Narto lan sanesipun, kendhangan kula sampun mboten murni, sampun kekathahen pariaksi”. Pada waktu mendengar kata itu kami semua sontak terkejut, berpikir, kalaupun ada yang tahu maksudnya pasti menahan tawa karena tidak enak dihadapan beliau. Barulah ketika beliau tidak ada kami tertawa secara berjamaah.

Kata “Minur” juga sering terdengar dari para Empu dan guru-guru luar biasa kami, seketika mendengarnya pasti kami hormat dan mencermati keterangan para pakar tadi, tetapi setelah itu kami pasti saling tertawa mengingat beliau-beliau berbicara. Kami tertawa bukan saja menyoal katanya, tetapi kami sering menyinggung raut muka, bibir, gesture, ataupun gerakan lain yang menyertai sang guru dalam mengucapkan kata itu.

Kini kami telah bercerai berai ke berbagai daerah untuk mencari kehidupan sendiri-sendiri, begitu juga para guru kami sebagian besar telah berpulang ke Rahmatullah. Kami hanya bisa mengenang guru-guru dengan ilmu yang diberikan disertai dengan kenangan tentang kata-kata yang unik tadi. Sungguh tulisan ini saya ulangi tegaskan tidak untuk mengungkit-ungkit kekurangtahuan mereka tentang bahasa, namun hanya bermaksud mengungkapkan kembali nilai yang terkandung dari peristiwa-peristiwa itu. Tanpa mengenang kata itu kami tidak mampu lagi mengingat ilmu yang diajarkan kepada kami. Kata-kata itu laksana dewa penolong yang mampu menebalkan ingatan dan hormat kami pada beliau-beliau.

Benar kata guru-guru kami di SD, SMP, ataupun SMA, bahwa dalam belajar mengingat perlu dibantu dengan “jembatan keledai”, misal : MEJIKUHIBINIU untuk mengingat warna dan angka hambatan pada resistor elektronik (Merah, Jingga, Kuning, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Ungu). Tetapi fenomena kata “individi” dan sebagainya mengingatkan kami pada ilmu yang diajarkan secara komprehensif lewat peran guru-guru kami. Begitu mendengar kata “individi” kami langsung tune in dengan ilmu-ilmu,  konsep dan cara yang telah diajarkannya.

Kalau orang mendengar kalimat, “Gitu aja kok repot”, tentu orang langsung teringat kepada Gus Dur. Kalau orang mendengar penggalan lagu dan syair, “Tak gendhong ke mana-mana”, tentu dengan sendiri ingatan kita menerawang kepada Mbah Surip sang seniman fenomenal. Biasanya orang akan mengingat kembali kepada seseorang tokoh dengan kalimat yang unik sealigus membuat tertawa, entah apa maksudnya yang jelas kata-kata yang khas akan menjadi daya pengingat yang cukup ampuh. Tak heran semua produk iklan ramai-ramai membuat jargon, atau sepenggal kata-kata yang mudah dikenang sekaligus dapat mencerminkan produknya sehingga kalau terkenal akan melariskan dagangannya pula. Begitu juga dengan perusahaan, dunia politik, slogan daerah, ataupun yang lainnya.

Gentan, 1 Januari 2009