Kolaborasi Musik Keroncong (sebuah Tantangan Masa Depan)


Makalah ini telah diseminarkan pada Solo Keroncong Festival 15 September 2012 di Hotel Pose In, Solo-Jawa Tengah
==========================================
Oleh: Danis Sugiyanto, S.Sn., M.Hum.
Dosen ISI Surakarta

Kolaborasi adalah pertemuan dua atau lebih kesenian/seniman dari negara atau bangsa atau kultur yang berbeda yang bekerja sama atau kerja bersama untuk membuat suatu produk karya seni. Musik keroncong telah mengalami kolaborasi sejak muncul dan berkembang hingga zaman ini. Sifat kolaborasinya mempunyai karakteristik yang berbeda pada setiap masa. Motivasi kolaborasi, tujuan, cara kerja, bentuk, manfaat, serta hasil kolaborasi masih banyak mencadi catatan dan pertanyaan.
Kolaborasi setidaknya melibatkan unsur seniman dan atau kesenian. Tata cara, etos kerja, dan kualitas produk kolaborasi juga mempunyai tingkat yang berbeda. Di era global seperti sekarang justru banyak ditemukan praktik kolaborasi ’kurang serius’. Ibarat sepasang manusia lain jenis, kolaborasi memiliki skala hubungan yang juga berbeda. Pada tahap ’pandangan pertama’, kolaborasi baru menyentuh permukaan dan yang nampak saja. Tahap ’pacaran’, kolaborasi yang terjadi adalah proses saling mengenal satu sama lain. Tahap ’perkawinan’, kolaborasi ini mulai menginginkan terjadinya pengenalan luar dalam dan juga berakibat akan memunculkan ’organisme’ (produk).
Kolaborasi ’pandangan pertama’ biasanya hanya menimbulkan cinta pada persentuhan kulit luar. Jika hanya berhenti pada tahap ini maka yang terjadi adalah kolaborasi asal jadi. Meski telah bersentuhan kulit yang dapat menimbulkan berbagai efek misal: ereksi atau exitment budaya, rasa syur berkesenian, bahkan berlanjut sampai hubungan di tempat tidur. Persinggungan ini bisa berakibat berbagai rasa seperti: geli, gatal, bau, atau menimbulkan luka yang bervariasi. Kolaborasi seperti ini biasanya hanya memerlukan waktu yang pendek dengan persiapan yang kurang matang. Kolaborasi sering dimaknai dengan jam session yang lebih mengutamakan kemampuan praktek secara improvisasi, konsep atau idealisme menjadi tidak diutamakan. Pada tahap ini kolaborasi masih berkutat pada permasalahan teknis seperti: penggunaan tangga nada, ritme, pemilihan bentuk, gaya, dan sebagainya yang seringkali megakibatkan pergesekan.
Musik Keroncong sebagai Pemrakarsa dan Mitra Kolaborasi

Seni pertunjukan dari zaman ke zaman mengalami perkembangan, ditandai dengan semakin rumitnya elemen pembentuk sebuah karya seni. Musik keroncong tidak lagi dimaknai sebagai musik klangenan yang statis, tetapi butuh ruang ekspresi yang lebih luas dan merdeka. Musik keroncong telah bersinergi dengan jenis seni musik dan seni yang lain. Berbagai contoh kolaborasi tersebut misalnya: musik keroncong sebagai musik teater (opera stambul, musik film, lawak/dagelan, parodi, dan lainnya), baik yang bersifat tradisional sampai modern. Demikian juga kolaborasi antara musik keroncong dengan sesama seni musik seperti: gamelan, jazz, dangdut, rock, hi¬p ho¬p, regae, dan lain-lain. Kolaborasi juga telah dilakukan antara musik keroncong dengan: tari, pedalangan , bahkan seni rupa.
Musik keroncong sebagai pemrakarsa kolaborasi masih sangat minim dijumpai dalam proses perkembangan seni pertunjukan di Indonesia, seringkali musik keroncong dijadikan mitra bahkan lebih parah lagi hanya menjadi pelengkap sebuah karya atau event seni pertunjukan. Posisi kolaborasi seringkali tidak sejajar, musik keroncong tidak mendapat peran yang signifikan.
Skala kolaborasi juga belum mencapai tingkat yang menggembirakan. Meskipun telah ada seniman yang berkolaborasi dengan seniman Internasional. Hal ini diperlukan peran serta yang aktif dari seniman keroncong maupun lembaga terkait dengan seni dan budaya maupun pemerintah Indonesia. Kolaborasi juga penting untuk mengembangkan sisi seni (musik) keroncong disamping untuk kepentingan pariwisata ataupun hubungan bilateral dengan bangsa atau negara lain.

Pentingnya Riset sebelum Melakukan Kolaborasi

Riset sangat penting sebagai langkah awal dalam berkolaborasi. Riset bisa dilakukan oleh seniman kolaborator dengan kemampuan masing-masing. Bagi masyarakat terdidik di sekolah ataupun perguruan tinggi seni tuntutan mengadakan riset terlebih dahulu sebelum membuat karya sangat tinggi. Tujuannya adalah untuk membuat suatu pondasi yang kokoh agar bentuk seni hasil kolaborasi tidak mudah roboh. Para seniman keroncong yang mempunyai dedikasi, loyalitas, dan skill dapat melaksanakan tahap penelitian ini dengan pendekatan teknik. Intensitas riset ini merupakan bagian penting kolaborasi dalam mencari persamaan dan perbedaan mendasar diantara para kolaborator. Tahap ini mutlak dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kolaborasi yang merupakan pemerkosaan atau ’menang-menangan’ antara para pelaku kolaborasi.
Pengalaman sebagai kreator seni selama ini membuktikan bahwa dengan memahami objek seni secara komprehensif dan mendalam, maka hasil kolaborasi akan mendekati titik optimal. Kurangnya penelitian terhadap mitra kolaborasi menjadikan kualitas karya seni akan belum matang. Pengetahuan yang banyak, dan rasa saling mengerti kepada para mitra kolaborasi akan menimbulkan keputusan yang bijaksana dan timbulnya rasa hormat yang tinggi, sehingga hasil kolaborasi tidak terkesan sembarangan.

Komunikasi dalam berkolaborasi

Unsur terpenting sekaligus problem utama dalam kolaborasi adalah komunikasi. Musik diyakini mempunyai sifat universal sehingga diyakini tidak ada kendala dalam komunikasi, namun pada kenyataannya tidak sesuai dengan pendapat tersebut. Musik keroncong dipercaya menjadi musik pemersatu di Indonesia karena bahasanya yang bisa dimengerti, tetapi musik keroncong bukan sekedar dimaknai sebagai sarana komunikasi yang wantah, musik keroncong juga bisa mengisyaratkan sesuatu yang tan wadag (abstrak) yang kadang penuh simbol terutama di dalam lirik-liriknya. Musik keroncong sering kesulitan untuk lepas dari bingkai kultur yang membebani yaitu: zaman, lingkungan, fungsi dan sebagainya.
Kolaborator yang berhasil setidaknya harus memahami jiwa ataupun esensi kesenian yang dihadapi. Cara memainkan alat musik sangat bervariasi antara etnik, kultur bahkan pribadi seniman dalam konteks ruang dan waktu yang beragam. Kolaborator dituntut mempunyai pemahaman yang benar tentang instrumentasi ataupun orkestrasi, bentuk komposisi, organisasi musikal, tangga nada, ritme, harmoni, dinamik, vokabuler, pola dan teknik permainan, dan lain-lain. Kesemuanya adalah sarana untuk mengekspresikan sebuah musik sekaligus cara untuk memahami isi/esensi kesenian dan senimannya. Dari itu semua para kolaborator akan mendapat pengertian yang mendalam yang diharapkan mampu mengambil keputusan yang bijaksana dalam kerja kolaborasi.
Kolaborasi pada tingkat ’cinta pertama’ biasanya masih berkutat pada masalah pemahaman ujud unsur-unsur material, struktur, vokabuler, serta teknik-teknik menyajikan repertoar para kolaborator. Pada tingkat ini makna, jiwa, ataupun esensi seni belum dipahami menyeluruh, sehingga seringkali proses dan perwujudan kolaborasi adalah saling mencocokan apa yang masing-masing mereka punyai, perwujudannya hampir selalu terjebak pada objek materi yang dianggap mirip atau ’sama’. Para kolaborator akan saling mencocokan tangga nada, birama, warna suara, ataupun meter, sehingga seringkali terjadi pemaksaan ’dicocok-cocokan’ yang berakibat pada kolaborasi pemerkosaan. Jika ada yang dominan, pasti ada pihak kolaborator yang terpaksa mengalah untuk menanggalkan jati dirinya. Hasil kolaborasi demikian tak lebih sebagai bayi hasil persetubuhan yang tidak dikehendaki karena tidak adanya pemahaman yang mendalam diantara kedua belah pihak.

Kepustakaan

Rahayu Supanggah
2002. “Kolaborasi Kisah sebuah Pengalaman” . Jurnal Keteg volume I No. 1 edisi
Nopember 2002.

Triyono Bramantyo.
2004. Disseminasi Musik Barat di Timur. Yogyakarta: Tarawang Press.

Karya Danis Sugiyanto 5 tahun terakhir:

– 2012 Prihatin, ilustrasi Roro Mendut, Teater Jakarta
– 2012 Janturan, ilustrasi Roro Mendut, Teater Jakarta
– 2011 Swabuwana, Knejpe Festival, Helsingor Denmark
– 2011 Carabalen orkestra, ilustrasi musik tari Swargaloka Grup, Gedung Pewayangan
TMII Jakarta
– 2011 Bahana Gita Persada, konser Karawitan, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
– 2010 Musik Fashion Show Anne Avantie, Karaton Surakarta.
– 2010 Urip, Festval Gamelan Dunia Terengganu, Malaysia
– 2010 Arus Monggang, ilustrasi musik Matah Ati, Teater Jakarta
– 2010 Wayang Kroncong. Jaten, Surakarta.
– 2009 Aku, Wanita dan Kebaya. Musik Fashion Show anne Avantie, Hotel Mulia Jakarta
– 2009 Wayang Kethoprak Pendhapan. TA TV Surakarta
– 2009 Circular Ruins, Musik Tari, Substation Singapore
– 2009 Bedah dot Com. Ngayogjazz Festival
– 2008 Arus Sungai dan Peradaban, Musik Tari Ujian Akhir S2 ISI Surakarta
– 2007 Conglung, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: