Pelajaran Lebaran Kedua


by Danis Ötnayigus on Monday, February 8, 2010 at 12:04am
Cerita ini telah terjadi beberapa tahun yang lalu di hari lebaran kedua. Ketika itu ada seseorang pimpinan grup karawitan yang biasa aku datangi latihan memintaku untuk bergabung jadi pengrawit (musisi Jawa) untuk sebuah acara pegelaran wayang kulit purwa di sebuah desa lereng gunung Lawu bagian timur. Sudah aku katakan kepada beiau bahwa pada hari lebaran kedua pasti aku selalu ada acara kumpul keluarga besar di Sentolo, dari Trah istriku. Tentu saja aku tidak bisa menyanggupi permintaannya. Pembicaraan kami malam itu menghasilkan keputusan bahwa aku tidak bisa ikut pentas. Rupanya aku tidak tahu jika pakumpulan karawitan ini kekurangan pengrawit untuk acara tersebut, walaupun akhirnya mereka bisa melaksanakan pentas itu dengan baik.

Beberapa hari menjelang lebaran tiba, teman akrab satu angkatan menelponku. Ia ‘menghiba’ untuk aku bersedia ikut rombongan karawitannya pada suatu acara pentas wayang di hari lebaran kedua. Pada mulanya aku menolak, sama seperti penolakanku terhadap kelompok pertama tadi. Tapi temanku itu tetap bersikeras memohonku, katanya kalau boleh Ia akan bilang ke keluargaku untuk minta ijin demi ‘menyelamatkan’ janjinya kepada pihak penanggap. Daripada berlarut Ia mau minta ijin keluargaku yang lain, lebih baik aku saja yang berunding dengan istriku. Dalam hatiku sebenarnya ingin pilihmenjalani hidup sebagai seniman, daripada mengikuti acara keluarga yang santai namun formil itu. Aku berat hati melepas istriku yang nyopir sendiri dengan penumpang pakdhe, budhe, serta anakku. Rute Solo-Sentolo bukan pertama kali ia nyopir, tetapi karena kami sudah berkeluarga maka aku wajib menjadi pimpinan perjalanan yang padat pada suasana lebaran itu. Tetapi istri mengijinkanku untuk membantu temanku, karena Ia tahu hati suaminya. Baginya tiada guna berdebat denganku karena biasanya aku sudah punya jawaban sendiri, percuma diskusi mencari solusi.

Tiba saat keberangkatan aku dan pengrawit lain menunggu jemputan di pendopo Taman Budaya Surakarta. Setelah beberapa saat menunggu, aku bertanya dalam hati karena teman-teman pengrawit belum banyak yang datang berkumpul di tempat itu. Karena pikiran itu semakin menganggu, aku tanyakan ke teman yang ‘menyuruhku’. Jawabannya sungguh bikin aku ‘lemas’, ternyata kami sudah kumpul semua, tinggal menunggu jemputan dari rombongan besar yang akan pentas wayang ke desa di lereng Timur gunung Lawu. Kami hanya sebagian rombongan yang akan melengkapi suatu perkumpulan karawitan. Aku dapat kabar lagi kalau perkumpulan itu adalah perkumpulan yang pernah kuikuti dan sudah kuputuskan untuk tidak bisa mendukung kegiatan pentas di hari lebaran kedua. Entah apa nanti jawab penjelasanku pada ketua perkumpulan akan masalah ini.

Bis pun datang dan kami segera berangkat, aku cari Pak Ketua perkumpulan karawitan di atas bis, ternyata beliau naik mobilnya sendiri. Untuk sementara aku bisa menenangkan diri selama perjalanan menuju lokasi pementasan. Daerah yang kami tuju melalui jalanan pegunungan yang terjal, meski pemandangan sangat indah tapi kami terganggu dengan jalannya bis yang tidak semestinya. Di tengah tanjakan yang curam, bis kami mogok. Dari kap mesin keluar bunyi yang sangat berisik, di sela-sela tutupnya menyembur uap air yang panas. Kami terpaksa berhenti, crew terlihat sibuk mengatasi keadaan. Para penumpang mencari tempat di sekitar rumah penduduk untuk sekedar duduk-duduk istirahat. Saking lamanya kami menunggu bis diperbaiki, penghuni rumah rupanya kasihan melihat kami. Dengan sukarela penduduk menyuguh kami dengan buah-buahan segar langsung dari pohon di depan rumah. Di sekitar tempat itu banyak ditanam pohon jeruk yang manis, kami pesta jeruk sembari menunggu bis bisa jalan lagi.

Akhirnya bis bisa jalan lagi, dan sampailah kami di lokasi pentas. Tempat pentas kami adalah di sebuah rumah penduduk yang dibangun di tepi jurang yang lumayan dalam, pasti itu milik orang kaya. Sebelum pentas berlangsung aku bertemu dengan Pak Ketua karawitan, betapa hatiku tak enak untuk bertemu, tapi aku harus menjelaskan semua. Penjelasanku memang sepanjang tesis mahasiswa S2, untunglah beliau mengerti semuanya, aku lega sekali.
Tuan rumah menyuguhi kami aneka hidangan dan minuman the manis hangat, cocok untuk hawa pegunungan seperti saat itu. Aku melihat beberapa pengrawit yang terlibat untuk pentas kali ini adalah pengrawit handal di Kota Solo. Tercatat waktu itu rombongan membawa: 4 pemain kendang kenamaan, 3 pemain gender, 2 pemain rebab, semua 30 orang pengrawit popular di komunitas karawitan Surakarta. Karena tidak latihan sebelumnya, maka kami bingung sendiri menentukan casting pengrawit, rata-rata kami ewuh pekewuh menduduki suatu instrumen tertentu. Akhirnya aku dipasrahi main siter, karena kebetulan nggak ada yang berani tampil sebagai penyiter.

Pentas berhasil dengan sukses. Setelah pentas aku dikasih dua amplop, satu dari temanku yang mengajak dan satunya dari Pak ketua Karawitan. Yang terakhir aku tolak dengan halus karena itu memang bukan hak-ku, aku sadar posisi dan keadaanku waktu itu. Peristiwa di atas sampai sekarang masih membekas padaku, rasanya pahit dan kecut jika mengingatnya. Sejak saat itu aku tidak lagi mau ‘ngiringi’pertunjukan wayang professional, mungkin karena trauma dan ingin menenangkan diri (selamanya?). Akhirnya peristiwa itu juga menjadi pelajaranku untuk tidak sembarangan menerima panggilan PY, untung waktu itu aku masih lugu dan apa adanya, tetapi yang musti harus aku pegang selamanya adalah: kejujuran dan menjunjung komitmen. Sekarang banyak seniman yang ‘ambruk’ namanya gara-gara kepercayaan para pengguna jasa menurun, mayoritas karena ulah seniman sendiri. Semoga aku masih bisa eksis dengan modal-modal di atas, amin.

Gentan, 8 Jan 2010

dari tarub ke tarub
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: