Campursari Riwayatmu Kini


by Danis Ötnayigus on Wednesday, August 12, 2009 at 1:39pm
Gambar itu selalu muncul manakala layar facebook kuhidupkan. Sesosok perempuan cantik telah menyita pandanganku, segera kutambahkan dia sebagai teman di jejaring sosial itu. Waktu berlalu kutahu bahwa ternyata dia adalah seorang penyanyi campursari yang laris saat ini, kubersyukur bisa berteman dengannya walau sebatas di dunia maya.
Yang menjadi pikiranku sekarang adalah bukan lagi wajahnya yang camtik, tetapi ketertarikanku untuk menengok kembali seni campursari yang digelutinya. Yah, teringat lagi kata yang bernama ”campursari” setelah sekian lama hilang di memori pengalamanku sebagai musisi seni itu. Seakan baru beberapa tahun berlalu aku menjalani profesi sebagai musisi campursari, padahal sesungguhnya itu telah terjadi pada tahun 90-an. Ketika itu seniman musik keroncong dan karawitan masih sedikit yang berkreasi menggabungkan kedua jenis musik tersebut, meskipun menurut Pak Andjarany fenomena campursari konon sudah ada di Indonesia pada tahun 60-an.
”Campursari” yang dimaksudkan Andjarany tadi adalah dikreasi oleh RRI Semarang. Format ansambel musiknya terdiri dari: seperangkat gamelan minus ricikan (instrumen) rebab dan suling, yang diganti dengan violin dan flute. Sebatas pengetahuan dan pengalamanku, telah terdapat rekaman ”campursari” yang dimaksud pada beberapa perusahaan rekaman seperti: Lokananta, Fajar, dan lainnya. Mereka menyertakan biduan handal dari kedua induk musik tersebut (keroncong dan karawitan), seperti: Maryati, Waljinah, Ngatirah, ataupun Supadmi.
Tahun 90-an musik keroncong (dan karawitan) masih menyimpan masa keemasan dilihat dari fungsinya sebagai seni hiburan yang populer. Terlihat pada masa itu mulai ada kreasi-kreasi dari berbagai seni pertunjukan yang menggabungkan kedua jenis seni musik tersebut. Kreasi juga timbul pada masing-masing jenis dengan menciptakan komposisi (baca: lagu) baru yang tidak lazim dari segi bentuk, irama, laras, dan teknik menyajikannya. Masing-masing seni pembentuk campursari masih ketat mempertahankan ansambelnya, baik berupa alat dan teknik bermusiknya. Terlihat sekali seniman-seniman seni musik ini masih setia menggunakan perangkat akustik yang tidak memakai instrumen musik elektronik. Lagu Ngimpi ciptaan Ki Nartosabdo yang biasa disajikan pada ansambel gamelan mulai terlihat disajikan oleh ansambel musik keroncong, sebaliknya lagu Bengawan Solo, Dinda Bestari yang kuat nada-nada diatonisnya juga kerap terdengar di pentas-pentas wayang kulit pada sesi limbukan atau goro-goro. Kreasi-kreasi ini memunculkan pemikiran seniman untuk berbuat praktis dengan membawa serta kedua genre musik dalam satu ansambel baru. Keinginan ini muncul untuk mewadahi keinginan penonton/penanggap yang heterogen dalam memilih lagu. Seringkali penonton/penanggap salah sasaran karena meminta lagu yang tidak bisa dilayani grup yang tampil, suatu contoh suatu orkes keroncong tidak dapat menyajikan repertoar lagu/gendhing yang biasa disajikan oleh karawitan/gamelan-begitu pula sebaliknya, suatu grup karawitan tidak bisa menyajikan lagu keroncong atau lagu diatonis lainnya.
Zaman keemasan seni campursari terjadi mulai pertengahan tahun 90-an sampai awal 2000-an, “campursari” tidak lagi berujud seperti format tahun 60-an ala RRI Semarang. Masyarakat dapat memaknai sendiri ansambel ”campursari”-nya, grup organ tunggal yang menyajikan lagu-lagu pentatonik sudah dapat dikatakan sebagai sebuah pertunjukan campursari, demikian juga pemakaian keyboard dengan kendang. Kadang pula suatu ansambel keroncong ditambah kendang, atau seperangkat combo band ditambah alat-alat keroncong dan gamelan juga disebut campursari. Satu ansambel campursari yang lengkap bisa terdiri dari ansambel keroncong, gamelan, combo band, dan orkes melayu/dangdut. Tentu saja demi efisiensi jumlah personal (musisi), masing-masing musik diwakili seorang musisi dengan instrumen yang khas pada jenis musiknya. Misalnya: pada ansambel keroncong cukup diwakili instrumen ukulele, cello, dan cak; pada ansambel gamelan diwakili oleh ricikan balungan (Demung, dan 2 buah saron barung kesemuanya berlaras pelog); combo band menyertakan lengkap dengan drum set-nya; dan ditambah kendang ketipung (tabla) untuk mewakili/melayani lagu-lagu berirama Melayu/dangdut. Jumlah instrumen yang ada bisa tergantung pada kemampuan grup dan atau permintaan penanggap.
Musik campursari nyata telah dapat membantu kehidupan dapur seniman-seniman pendukungnya. Banyak teman-teman musisi bahkan dapat bergantung sepenuhnya pada pendapatan pentasnya, mereka dapat membeli rumah, kendaraan ataupun menyekolahkan anak sampai jenjang tertinggi. Bahkan teman seperjuangan saya di keroncong dahulu telah ada yang bisa ”ngamen” campursari sampai ke negeri Belanda dan Suriname. Di sisi lain, campursari juga telah menambah duka bagi sebagian orang. Telah (banyak) terjadi keretakan rumah tangga gara-gara kehidupan campursari yang ”luwes namun keras”, ada sesama musisi yang terlibat affair asmara. Terdapat pula daerah yang sering rusuh jika ada perhelatan hajatan warga dengan mendatangkan grup campursari. Ekses yang lain bahkan ada tokoh seni ini yang populer namanya sehingga memberanikan diri maju menjadi calon legislatif di daerahnya.
Perubahan pasti melanda pada suatu kehidupan, pada campursari secara kasat mata terdapat pada aksesoris penyanyi, MC, ataupun musisinya. Penyanyi keroncong atau karawitan (Swarawati atau Sindhen) biasanya berbusana kain Jawa menurut ukuran seperlunya, tetapi lihatlah pada penyanyi campursari harus diperlukan aksesoris tambahan seperti bunga yang melingkar di rambut. Perangkat soundsystem juga berkompetisi mendukung pergelaran, karena itu menjadi tolok ukur gengsi suatu grup campursari dan penanggapnya. Seringkali terjadi pula dalam suatu pentas menghadirkan bintang-bintang campursari ”papan atas”, walau mereka membawakan satu atau dua lagu secara berturut lalu pulang untuk memenuhi permintaan pentas di tempat lain.
Betapa seni ini dipandang jelek atau rendah karena berbagai fenomena di atas, tetapi tetap ada sesuatu nilai positif yang menyertai perkembangan seni itu sendiri. Pendapat ini juga belum tentu benar, karena tergantung perspektif memandang seni itu yang berbeda anatara satu orang dengan yang lain. Masyarakat seakan selalu diingatkan memori musikalnya dengan dengaran tangga nada ”ala Jawa” dari orkes campursari. Begitu juga bagi pelaku seni dari berbagai pembentuk seni itu mau tidak mau harus belajar lagu-lagu yang di dalamnya demi tuntutan profesionalitas sebagai ”penghibur” dengan memahami berbagai tangga nada dan budaya musik, ataupun pemahaman budaya secara umum.

DANIS SUGIYANTO-SOLO
(tulisan ini pernah kukirim ke Koran Joglo Semar, entah dimuat atau tidak saya nggak tahu)

Pak Gesang idolaku, Jurug-Solo, tahun 2000.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: