Belajar Nyeni


by Danis Ötnayigus on Saturday, August 15, 2009 at 3:51pm

Masih lekat dalam ingatan masa lalu, belajar musik Barat secara otodidak lewat teknik kupingan (cara mendengar). Terbilang sangat terlambat, karena aku baru genjrang-genjreng gitar waktu di kelas satu SMA. Terpaksa main gitar karena sekelas tidak ada yang bisa untuk ngiringi paduan suara antar kelas. Bermodal belajar dari nguping dan ngelihat tetangga main gitar, aku gunakan untuk manggung dengan sangat berani tanpa malu di depan penonton satu sekolah. Ajaib, aku hanya tahu sedikit krip gitar ternyata aku bisa karena kami punya kesempatan coba lagu yang akan ditampilkan. Sekarang kutahu kalau krip yang kumainkan itu disebut krip ”tiga jurus”.

Sebenarnya darah seni musik telah menempel pada diriku, karena ayahku almarhum seorang musisi kendang gamelan tari ternama di kota Solo pada waktu itu. Akupun mulai mencintai musik dari belajar gamelan lewat ekstra kurikuler di SMP 3 Solo. Walaupun begitu, sejak SD aku dan teman-teman sekelas adalah terkenal bikin onar karena kreativitas bikin hiburan yang konyol dengan tetabuhan di meja dan gamelan rongsok di gudang sekolah sewaktu istirahat. Teman-teman ternyata senang dengan gaya urakan nan menghibur dari kelompok kami. Sampai di sini aku sadar bahwa kepuasanku adalah untuk menghibur orang lewat jalur seni, jangan salah sangka kalau menghibur orang bisa lewat kegiatan lain seperti: jadi gigolo atau brondong.

Masa SMP aku lewati dengan hepi, ada kegiatan ekstra kurikuler karawitan yang menarik perhatianku. Berulang kali sekolahku jadi juara dalam perlombaan karawitan tingkat Kotamadya surakarta dan Eks karesidenan. Aku boleh bangga karena Solo dan sekitarnya kan pusat budaya karawitan terkenal? lagipula banyak jago dari berbagai pengrawit (musisi gamelan) dan kelompok karawitan (setingkat SMP) yang berpartisipasi. Pak Katiman adalah guru yang pandai dan tegas serta besar usahanya dalam mendidik para siswa. Meski gamelan yang biasa dipakai latihan dari besi, tapi dengan metode berlatih yang benar dapat menghasilkan tabuhan dan murid-murid yang bagus. Setiap akan latihan sore selepas sekolah, sering beliau tidur di ruang gamelan untuk ”laku prihatin”, demi menjaga hubungan batiniah antara kesuksesan misi yang diemban dengan roh gamelan beserta penyatuan suksma-suksma anak didiknya. Dari kegiatan karawitan ini pula aku berhasil mendapatkan beasiswa seni dari sekolah yang lumayan besar selama setahun.

Masa SMA telah merubah cita-citaku untuk jadi militer, maklum banyak saudara Ibuku yang berasal dari sana. Meski sudah aku bela-belain masuk program A2 (ilmu Biologi) untuk meraih syarat masuk AKMIL, akhirnya berbelok ke arah seni lagi. Ada temanku yang mengajak ikut kegiatan ekstra kurikuler teater di SMA 4 Solo. Sekali lagi dunia seni telah menambat jiwaku. Dengan teater Golek SMA-ku kami sering berhasil jadi juara di festival teater tingkat SMA. Aku tidak berbakat jadi aktor, aku merasa nyaman berada di barisan para pemusik. Saat itu aku sudah mulai mencipta ilustrasi teater dan membuat lagu dengan musik seadanya.

Nah, di pergaulan teater aku mulai kenal dengan banyak teman seniman berbagai bidang seperti: musik, seni rupa, sastra, dll. Musik keroncong juga mulai mengusik jiwaku, aku berkenalan dengan seseorang yang mengajak latihan di grupnya. Bahkan aku jadi anggota teater Gidag gidig juga membuat kreasi musik dengan alat keroncong. Dengan bermodal ngawur-ngawuran kami berani tampil di muka umum. Banyak yang mencemooh karena dari sisi musikal kami ”kurang berpendidikan”, tapi banyak yang suka juga karena ’keliaran’ kami. Modal-modal seperti itu yang kami jadikan dasar untuk memupuk mental kami di atas panggung pertunjukan.
Contoh ’asal-asalanku (dan kami), di atas panggung langsung pakai alat musik yang belum pernah dilatih sebelumnya. Waktu pentas di Fakultas Hukum UNS saya menemukan bass betot di gudang musik mahasiswa, aku pelajari sebentar stemannya trus dibawa ke panggung langsung dipakai untuk main. Untuk urusan main biola juga gitu, aku hanya tanya stem senarnya, terus di rumah aku gambar sendiri tata jarinya. Pentas selanjutnya aku berani main biola walau hanya baru sebatas menghapal lagu dengan tata jari yang ’primitiv’. Lama-lama bisa meningkat cara mainnya. Setelah main atau di kala senggang aku melakukan introspeksi atas permainanku tadi, sering merasa malu dan tidak puas atas apa yang telah kukerjakan. Adakalanya analisis itu terjadi atas hasil rekaman kecil-kecilan yang kami buat, kami punya ras malu dan tidak puas meskipun unsur ’tabrak’ masih mendominasi jiwa muda dan kreativitas kami.

Sisi kehidupanku dalam bermusik didasari oleh pendidikan formal di kampus STSI (sekaran ISI Surakarta). Di lembaga ini aku mendapat gemblengan musik yang berdasar dari budaya musik tradisional (mayor Jawa). Aku bisa mensinergikan antara budaya Barat dengan Jawa sambil berproses secara intensif. Aku suka berdarah-darah mencari perbaikan kemampuanku bermusik dan menyerap pikiran para kreator yang sedang berproses denganku.
Aku bukanlah seorang penyanyi yang bisa naik daun secara drastis. Proses menjadi kesenimananku berjalan laksana gelombang yang penuh riak dan gejolak. Seorang musisi jarang mendapatkan keberuntungan secara sekejap, rata-rata terjadi secara gradual dan eskalatif bahkan cenderung evolutif..Nyatanya sampai sekarang aku belum mampu mendapatkan nama seperti yang sudah didapat oleh teman-temanku seangkatan atau adik-adik kelasku. Tapi justru aku bersyukur oleh itu, karena mawas diri harus selalu ada bersamaku. Banyak contoh suatu keberhasilan tidak diimbangi dengan mentalitas, komitmen yang bagus terhadap sesama pekerja seni atau seni itu sendiri. Aku tidak silau dengan dunia mereka, biarlah jalanku mengalir sesuai kehendak Yang Di Sana dengan usahaku sendiri yang tiada pernah berhenti. Aku menyadari jika caraku bermain musik (berkesenian) adalah jalan tidak biasa yang masih mengandalkan cara-cara lamaku, namun aku juga tidak menutup diri pada masukan orang lain dan perubahan dinamika seni.
Kini aku sudah banyak teman, relasi, kolega, murid, dan semuanya yang telah mempercayaiku utuk eksis di dunia seni. Tanpa mereka aku tidak bisa berbuat banyak. Tulisan ini tidak bermaksud nyombong, adigang, adigung, adiguna, ataupun mengecilkan peran orang yang berbeda dengan diriku. Mungkin aku hanya ingin mengajak kepada semua untuk melihat dunia seperti yang aku miliki ini agar jadi kaca kehidupan yang mungkin tidak terlalu bagus untuk semua orang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: