Seni Karawitan: Masihkah Dicintai Masyarakat Jawa?


by Danis Ötnayigus on Friday, July 17, 2009 at 2:04am

Masa kini terasa asing dan aneh untuk membicarakan seni karawitan dalam masyarakat. Bagi pelaku seni yang dimaksud tentu tidak merasa demikian, tetapi bagaimana dengan masyarakat pada umumnya? stigma tentang seni itu terutama pada generasi muda zaman sekarang adalah berkisar tentang: musik orang tua, kuna, pengantar tidur, kurang gairah, dan sebagainya. Para insan karawitan bagaikan ”perawan di sarang penyamun”, sesuatu pilihan hidup yang soliter diantara rimba kehidupan yang majemuk. Bahkan acapkali para penggemar, pelaku seni karawitan dianggap manusia aneh, yang ketinggalan zaman. Sinyalemen ini tidak mutlak menjadi suatu kebenaran, tetapi pendapat seperti ini sering dijumpai di masyarakat.

Marilah kita membuka masa lalu, gamelan adalah hasil budaya yang turut andil dalam proses pembentukan bangsa secara sosio kultural. Seni karawitan mempunyai berbagai fungsi, mulai dari untuk kepentingan ritual sampai pada ekspresi seni hingga sebagai hiburan masyarakat. Konon budaya gong yang berasal dari benua Asia menyebar sampai pulau Jawa telah mengalami sejarah panjang di bidang teknik metalurgi sampai mempunyai estetika musikalitas yang khas di berbagai daerah di nusantara. Gamelan telah menjadi perabot upacara di dalam kehidupan keraton. hingga sarana perkenalan agama Islam oleh para Wali. Keraton yang dulu merupakan pusat kekuasan politik dan kebudayaan telah mewariskan budaya gamelan dengan segala aturan yang melekat padanya. gamelan untuk berbagai fungsi kehidupan di masyarakat.

Resepsi perkawinan.pada masyarakat kota (terutama di Solo) yang menggunakan jasa penyajian karawitan secara langsung sudah jarang ditemui, indikasi ini dapat ditemui diberbagai gedung pertemuan yang biasa disewa untuk keperluan resepsi pernikahan. Gedung-gedung tersebut memang jarang yang menyediakan tempat khusus bagi seperangkat gamelan, kalaupun ada gamelan karena atas permintaan penyewa/yang punya hajat. Gamelan sebagai salah satu pelengkap kesempurnaan suatu resepsi perkawinan masih dibutuhkan pada masa sekarang, walaupun hanya lewat ’pita suara’.

Pola pikir dan budaya masyarakat untuk mengadakan sajian gamelan dalam upacara-upacara adat Jawa (Surakarta), berawal dari berbagai upacara kraton. Masyarakat Jawa merasa kurang afdol apabila suatu upacara masyarakat tanpa disertai alunan karawitan secara langsung, masa lalu karawitan menjadi primadona karena kemarêman dan keharusan yang wajib ditunaikan. Karawitan selalu muncul dan berkiprah dalam setiap upacara adat Jawa. Hal itu berdampak pada meningkatnya status sosial penanggapnya seperti yang dilakukan para bangsawan atau abdi dalêm di Keraton. Wibawa para niyågå juga terangkat dengan seringnya mereka pentas memeriahkan hajat bangsawan, orang kaya, atau penanggap lainnya. Karawitan menjadi hiburan masyarakat di kota maupun di pedesaan. Sampai sekarang sebagian masyarakat, atau daerah masih merasa pentingnya kehadiran karawitan di setiap upacara adat Jawa atau dalam kehidupan sehari-harinya.

Di daerah tertentu di sekitar kota Solo bahkan penyajian karawitan secara langsung masih dibutuhkan kehadirannya. Apabila suatu rumah tangga menanggap grup karawitan, maka tetangga atau penduduk di sekitarnya juga akan ikut ”nggantung gong”. Masyarakat merasa ada yang kurang sempurna hajatnya apabila tidak menghadirkan gamelan berikut pêngrawit-nya. Ada upacara masyarakat Jawa (malêm midodaréni, manténan, wêtonan, sêpasaran, dhuhkitan, dll.), pasti ada suara gamelan mengalun. Boleh dikata masyarakat mengidap sindrom ”keharusan ada gamelan di dalam resepsinya”.

Lalu bagaimana keberadaan gamelan di kota (Solo) dengan keadaan sekarang?. Kota Solo dengan predikat kota budaya sangat kontradiktif dengan kegiatan (eksistensi) karawitan sesungguhnya di masyarakat. Menurut survey, hanya ada beberapa grup karawitan di kota Solo yang masih latihan dan eksis secara kontinyu.Rata-rata mereka merupakan kelompok yang bukan profesional, hanya untuk hiburan dan sarana pergaulan. Perkumpulan-perkumpulan karawitan tersebut biasa tergabung dalam komunitas kampung, instansi kerja, perguruan tinggi, sekolah, ataupun sanggar karawitan. Aktifitas kelompok-kelompok itu bisa ’dipertunjukan’ kepada umum lewat siaran radio atau TV, atau hari ulang tahun kelompok. Jarang yang melayani tanggapan profesional, kecuali beberapa sanggar dan perguruan tinggi/sekolah seni di kota Solo.

Apakah faktor-faktor yang menyebabkan turunnya animo masyarakat untuk menggunakan jasa pertunjukan karawitan secara langsung (hidup)? jawaban pertanyaan ini sangat tergantung kepada banyak aspek: seperti ekonomi dan perubahan budaya oleh zaman. Tempat upacara dan rumah tinggal yang semakin sempit bukanlah salah satu faktor penyebab utama menanggap pertunjukan karawitan secara langsung, tetapi hal ini menjadi pemikiran penanggap dengan banyak resiko seperti: hubungan sosial yang terganggu, meskipun hanya dilangsungkan sehari. Masyarakat kota sebagian besar telah beralih berpikir ekomomis, sehingga cenderung melakukan jalan pintas dengan prinsip berkorban sekecil-kecilnya dengan mendatangkan untung sebesar-besarnya. Mengadakan suatu upacara dengan mengundang grup karawitan dipandang tidak efisien dalam pandangan ekonomis. Kemudian banyak orang melakukan terobosan yang tidak mengindahkan faktor: budaya, sejarah, dan filosofis yang banyak terkandung dalam suatu upacara (adat Jawa). Pada akhirnya timbul ’budaya instan’ yang ekonomis, dangkal, dan mengabaikan nilai-nilai seni. Kehadiran gamelan masih dibutuhkan walau diwakili oleh jasa ’pita suara’.

Fenomena ini boleh menjadi pendukung surutnya kelompok karawitan profesional. Ketika masyarakat tidak membutuhkan jasa karawitan lagi, penghayat dan pelaku karawitan akan beralih menjadi ’pertapa’ yang mengabdikan seluruh dedikasi, ketrampilan, dan loyalitas semata kepada seni karawitan itu sendiri.
Akankah masyarakat semakin realistis tetapi masih memegang tradisi dan menjaga kepuasannya untuk menghormati gamelan lagi? semoga gamelan jadi tuan rumah di kota Solo lagi.

Danis Sugiyanto
Dosen ISI Surakarta Jurusan Etnomusikologi, Seniman dan Pelatih Karawitan MARÊM Kampung Kemlayan Surakarta

Campursari Riwayatmu Kini


by Danis Ötnayigus on Wednesday, August 12, 2009 at 1:39pm
Gambar itu selalu muncul manakala layar facebook kuhidupkan. Sesosok perempuan cantik telah menyita pandanganku, segera kutambahkan dia sebagai teman di jejaring sosial itu. Waktu berlalu kutahu bahwa ternyata dia adalah seorang penyanyi campursari yang laris saat ini, kubersyukur bisa berteman dengannya walau sebatas di dunia maya.
Yang menjadi pikiranku sekarang adalah bukan lagi wajahnya yang camtik, tetapi ketertarikanku untuk menengok kembali seni campursari yang digelutinya. Yah, teringat lagi kata yang bernama ”campursari” setelah sekian lama hilang di memori pengalamanku sebagai musisi seni itu. Seakan baru beberapa tahun berlalu aku menjalani profesi sebagai musisi campursari, padahal sesungguhnya itu telah terjadi pada tahun 90-an. Ketika itu seniman musik keroncong dan karawitan masih sedikit yang berkreasi menggabungkan kedua jenis musik tersebut, meskipun menurut Pak Andjarany fenomena campursari konon sudah ada di Indonesia pada tahun 60-an.
”Campursari” yang dimaksudkan Andjarany tadi adalah dikreasi oleh RRI Semarang. Format ansambel musiknya terdiri dari: seperangkat gamelan minus ricikan (instrumen) rebab dan suling, yang diganti dengan violin dan flute. Sebatas pengetahuan dan pengalamanku, telah terdapat rekaman ”campursari” yang dimaksud pada beberapa perusahaan rekaman seperti: Lokananta, Fajar, dan lainnya. Mereka menyertakan biduan handal dari kedua induk musik tersebut (keroncong dan karawitan), seperti: Maryati, Waljinah, Ngatirah, ataupun Supadmi.
Tahun 90-an musik keroncong (dan karawitan) masih menyimpan masa keemasan dilihat dari fungsinya sebagai seni hiburan yang populer. Terlihat pada masa itu mulai ada kreasi-kreasi dari berbagai seni pertunjukan yang menggabungkan kedua jenis seni musik tersebut. Kreasi juga timbul pada masing-masing jenis dengan menciptakan komposisi (baca: lagu) baru yang tidak lazim dari segi bentuk, irama, laras, dan teknik menyajikannya. Masing-masing seni pembentuk campursari masih ketat mempertahankan ansambelnya, baik berupa alat dan teknik bermusiknya. Terlihat sekali seniman-seniman seni musik ini masih setia menggunakan perangkat akustik yang tidak memakai instrumen musik elektronik. Lagu Ngimpi ciptaan Ki Nartosabdo yang biasa disajikan pada ansambel gamelan mulai terlihat disajikan oleh ansambel musik keroncong, sebaliknya lagu Bengawan Solo, Dinda Bestari yang kuat nada-nada diatonisnya juga kerap terdengar di pentas-pentas wayang kulit pada sesi limbukan atau goro-goro. Kreasi-kreasi ini memunculkan pemikiran seniman untuk berbuat praktis dengan membawa serta kedua genre musik dalam satu ansambel baru. Keinginan ini muncul untuk mewadahi keinginan penonton/penanggap yang heterogen dalam memilih lagu. Seringkali penonton/penanggap salah sasaran karena meminta lagu yang tidak bisa dilayani grup yang tampil, suatu contoh suatu orkes keroncong tidak dapat menyajikan repertoar lagu/gendhing yang biasa disajikan oleh karawitan/gamelan-begitu pula sebaliknya, suatu grup karawitan tidak bisa menyajikan lagu keroncong atau lagu diatonis lainnya.
Zaman keemasan seni campursari terjadi mulai pertengahan tahun 90-an sampai awal 2000-an, “campursari” tidak lagi berujud seperti format tahun 60-an ala RRI Semarang. Masyarakat dapat memaknai sendiri ansambel ”campursari”-nya, grup organ tunggal yang menyajikan lagu-lagu pentatonik sudah dapat dikatakan sebagai sebuah pertunjukan campursari, demikian juga pemakaian keyboard dengan kendang. Kadang pula suatu ansambel keroncong ditambah kendang, atau seperangkat combo band ditambah alat-alat keroncong dan gamelan juga disebut campursari. Satu ansambel campursari yang lengkap bisa terdiri dari ansambel keroncong, gamelan, combo band, dan orkes melayu/dangdut. Tentu saja demi efisiensi jumlah personal (musisi), masing-masing musik diwakili seorang musisi dengan instrumen yang khas pada jenis musiknya. Misalnya: pada ansambel keroncong cukup diwakili instrumen ukulele, cello, dan cak; pada ansambel gamelan diwakili oleh ricikan balungan (Demung, dan 2 buah saron barung kesemuanya berlaras pelog); combo band menyertakan lengkap dengan drum set-nya; dan ditambah kendang ketipung (tabla) untuk mewakili/melayani lagu-lagu berirama Melayu/dangdut. Jumlah instrumen yang ada bisa tergantung pada kemampuan grup dan atau permintaan penanggap.
Musik campursari nyata telah dapat membantu kehidupan dapur seniman-seniman pendukungnya. Banyak teman-teman musisi bahkan dapat bergantung sepenuhnya pada pendapatan pentasnya, mereka dapat membeli rumah, kendaraan ataupun menyekolahkan anak sampai jenjang tertinggi. Bahkan teman seperjuangan saya di keroncong dahulu telah ada yang bisa ”ngamen” campursari sampai ke negeri Belanda dan Suriname. Di sisi lain, campursari juga telah menambah duka bagi sebagian orang. Telah (banyak) terjadi keretakan rumah tangga gara-gara kehidupan campursari yang ”luwes namun keras”, ada sesama musisi yang terlibat affair asmara. Terdapat pula daerah yang sering rusuh jika ada perhelatan hajatan warga dengan mendatangkan grup campursari. Ekses yang lain bahkan ada tokoh seni ini yang populer namanya sehingga memberanikan diri maju menjadi calon legislatif di daerahnya.
Perubahan pasti melanda pada suatu kehidupan, pada campursari secara kasat mata terdapat pada aksesoris penyanyi, MC, ataupun musisinya. Penyanyi keroncong atau karawitan (Swarawati atau Sindhen) biasanya berbusana kain Jawa menurut ukuran seperlunya, tetapi lihatlah pada penyanyi campursari harus diperlukan aksesoris tambahan seperti bunga yang melingkar di rambut. Perangkat soundsystem juga berkompetisi mendukung pergelaran, karena itu menjadi tolok ukur gengsi suatu grup campursari dan penanggapnya. Seringkali terjadi pula dalam suatu pentas menghadirkan bintang-bintang campursari ”papan atas”, walau mereka membawakan satu atau dua lagu secara berturut lalu pulang untuk memenuhi permintaan pentas di tempat lain.
Betapa seni ini dipandang jelek atau rendah karena berbagai fenomena di atas, tetapi tetap ada sesuatu nilai positif yang menyertai perkembangan seni itu sendiri. Pendapat ini juga belum tentu benar, karena tergantung perspektif memandang seni itu yang berbeda anatara satu orang dengan yang lain. Masyarakat seakan selalu diingatkan memori musikalnya dengan dengaran tangga nada ”ala Jawa” dari orkes campursari. Begitu juga bagi pelaku seni dari berbagai pembentuk seni itu mau tidak mau harus belajar lagu-lagu yang di dalamnya demi tuntutan profesionalitas sebagai ”penghibur” dengan memahami berbagai tangga nada dan budaya musik, ataupun pemahaman budaya secara umum.

DANIS SUGIYANTO-SOLO
(tulisan ini pernah kukirim ke Koran Joglo Semar, entah dimuat atau tidak saya nggak tahu)

Pak Gesang idolaku, Jurug-Solo, tahun 2000.

Belajar Nyeni


by Danis Ötnayigus on Saturday, August 15, 2009 at 3:51pm

Masih lekat dalam ingatan masa lalu, belajar musik Barat secara otodidak lewat teknik kupingan (cara mendengar). Terbilang sangat terlambat, karena aku baru genjrang-genjreng gitar waktu di kelas satu SMA. Terpaksa main gitar karena sekelas tidak ada yang bisa untuk ngiringi paduan suara antar kelas. Bermodal belajar dari nguping dan ngelihat tetangga main gitar, aku gunakan untuk manggung dengan sangat berani tanpa malu di depan penonton satu sekolah. Ajaib, aku hanya tahu sedikit krip gitar ternyata aku bisa karena kami punya kesempatan coba lagu yang akan ditampilkan. Sekarang kutahu kalau krip yang kumainkan itu disebut krip ”tiga jurus”.

Sebenarnya darah seni musik telah menempel pada diriku, karena ayahku almarhum seorang musisi kendang gamelan tari ternama di kota Solo pada waktu itu. Akupun mulai mencintai musik dari belajar gamelan lewat ekstra kurikuler di SMP 3 Solo. Walaupun begitu, sejak SD aku dan teman-teman sekelas adalah terkenal bikin onar karena kreativitas bikin hiburan yang konyol dengan tetabuhan di meja dan gamelan rongsok di gudang sekolah sewaktu istirahat. Teman-teman ternyata senang dengan gaya urakan nan menghibur dari kelompok kami. Sampai di sini aku sadar bahwa kepuasanku adalah untuk menghibur orang lewat jalur seni, jangan salah sangka kalau menghibur orang bisa lewat kegiatan lain seperti: jadi gigolo atau brondong.

Masa SMP aku lewati dengan hepi, ada kegiatan ekstra kurikuler karawitan yang menarik perhatianku. Berulang kali sekolahku jadi juara dalam perlombaan karawitan tingkat Kotamadya surakarta dan Eks karesidenan. Aku boleh bangga karena Solo dan sekitarnya kan pusat budaya karawitan terkenal? lagipula banyak jago dari berbagai pengrawit (musisi gamelan) dan kelompok karawitan (setingkat SMP) yang berpartisipasi. Pak Katiman adalah guru yang pandai dan tegas serta besar usahanya dalam mendidik para siswa. Meski gamelan yang biasa dipakai latihan dari besi, tapi dengan metode berlatih yang benar dapat menghasilkan tabuhan dan murid-murid yang bagus. Setiap akan latihan sore selepas sekolah, sering beliau tidur di ruang gamelan untuk ”laku prihatin”, demi menjaga hubungan batiniah antara kesuksesan misi yang diemban dengan roh gamelan beserta penyatuan suksma-suksma anak didiknya. Dari kegiatan karawitan ini pula aku berhasil mendapatkan beasiswa seni dari sekolah yang lumayan besar selama setahun.

Masa SMA telah merubah cita-citaku untuk jadi militer, maklum banyak saudara Ibuku yang berasal dari sana. Meski sudah aku bela-belain masuk program A2 (ilmu Biologi) untuk meraih syarat masuk AKMIL, akhirnya berbelok ke arah seni lagi. Ada temanku yang mengajak ikut kegiatan ekstra kurikuler teater di SMA 4 Solo. Sekali lagi dunia seni telah menambat jiwaku. Dengan teater Golek SMA-ku kami sering berhasil jadi juara di festival teater tingkat SMA. Aku tidak berbakat jadi aktor, aku merasa nyaman berada di barisan para pemusik. Saat itu aku sudah mulai mencipta ilustrasi teater dan membuat lagu dengan musik seadanya.

Nah, di pergaulan teater aku mulai kenal dengan banyak teman seniman berbagai bidang seperti: musik, seni rupa, sastra, dll. Musik keroncong juga mulai mengusik jiwaku, aku berkenalan dengan seseorang yang mengajak latihan di grupnya. Bahkan aku jadi anggota teater Gidag gidig juga membuat kreasi musik dengan alat keroncong. Dengan bermodal ngawur-ngawuran kami berani tampil di muka umum. Banyak yang mencemooh karena dari sisi musikal kami ”kurang berpendidikan”, tapi banyak yang suka juga karena ’keliaran’ kami. Modal-modal seperti itu yang kami jadikan dasar untuk memupuk mental kami di atas panggung pertunjukan.
Contoh ’asal-asalanku (dan kami), di atas panggung langsung pakai alat musik yang belum pernah dilatih sebelumnya. Waktu pentas di Fakultas Hukum UNS saya menemukan bass betot di gudang musik mahasiswa, aku pelajari sebentar stemannya trus dibawa ke panggung langsung dipakai untuk main. Untuk urusan main biola juga gitu, aku hanya tanya stem senarnya, terus di rumah aku gambar sendiri tata jarinya. Pentas selanjutnya aku berani main biola walau hanya baru sebatas menghapal lagu dengan tata jari yang ’primitiv’. Lama-lama bisa meningkat cara mainnya. Setelah main atau di kala senggang aku melakukan introspeksi atas permainanku tadi, sering merasa malu dan tidak puas atas apa yang telah kukerjakan. Adakalanya analisis itu terjadi atas hasil rekaman kecil-kecilan yang kami buat, kami punya ras malu dan tidak puas meskipun unsur ’tabrak’ masih mendominasi jiwa muda dan kreativitas kami.

Sisi kehidupanku dalam bermusik didasari oleh pendidikan formal di kampus STSI (sekaran ISI Surakarta). Di lembaga ini aku mendapat gemblengan musik yang berdasar dari budaya musik tradisional (mayor Jawa). Aku bisa mensinergikan antara budaya Barat dengan Jawa sambil berproses secara intensif. Aku suka berdarah-darah mencari perbaikan kemampuanku bermusik dan menyerap pikiran para kreator yang sedang berproses denganku.
Aku bukanlah seorang penyanyi yang bisa naik daun secara drastis. Proses menjadi kesenimananku berjalan laksana gelombang yang penuh riak dan gejolak. Seorang musisi jarang mendapatkan keberuntungan secara sekejap, rata-rata terjadi secara gradual dan eskalatif bahkan cenderung evolutif..Nyatanya sampai sekarang aku belum mampu mendapatkan nama seperti yang sudah didapat oleh teman-temanku seangkatan atau adik-adik kelasku. Tapi justru aku bersyukur oleh itu, karena mawas diri harus selalu ada bersamaku. Banyak contoh suatu keberhasilan tidak diimbangi dengan mentalitas, komitmen yang bagus terhadap sesama pekerja seni atau seni itu sendiri. Aku tidak silau dengan dunia mereka, biarlah jalanku mengalir sesuai kehendak Yang Di Sana dengan usahaku sendiri yang tiada pernah berhenti. Aku menyadari jika caraku bermain musik (berkesenian) adalah jalan tidak biasa yang masih mengandalkan cara-cara lamaku, namun aku juga tidak menutup diri pada masukan orang lain dan perubahan dinamika seni.
Kini aku sudah banyak teman, relasi, kolega, murid, dan semuanya yang telah mempercayaiku utuk eksis di dunia seni. Tanpa mereka aku tidak bisa berbuat banyak. Tulisan ini tidak bermaksud nyombong, adigang, adigung, adiguna, ataupun mengecilkan peran orang yang berbeda dengan diriku. Mungkin aku hanya ingin mengajak kepada semua untuk melihat dunia seperti yang aku miliki ini agar jadi kaca kehidupan yang mungkin tidak terlalu bagus untuk semua orang.

Kirim Ucapan Lebaran via Situs Jejaring Sosial dan Pesan Singkat


by Danis Ötnayigus on Friday, September 10, 2010 at 7:29am

Momen lebaran digunakan banyak orang untuk saling mengucapkan kata selamat dan saling memaafkan. Zaman dulu tentu berbeda dengan sekarang cara mereka menyampaikannya, apalagi sekarang sudah dimudahkan dengan komunikasi via SMS ataupun berbagai situs jejaring sosial di internet. Namun pikiran dan perasaan yang disampaikan terlihat ada benang merahnya dengan profesi/pekerjaan/kegemaran dari pengirim pesan. Meski sangat sulit membedakan hasil karyanya itu didapat dari forward-an orang lain atau murni dari hasil olah rasa dan pikirannya.

Seniman karawitan/gamelan tentu akan mempunyai berbagai kreasi dalam menyampaikan permohonan maaf pada waktu lebaran. Biasanya mereka merangkai kata dalam bingkaian sastra dalam bait tembang seperti misal.

”SEKAR MACAPAT SINOM : SINERAT TEMBANG PUNIKA, SINARTAN DONGA SESANTI, ING WULAN RIYADI NYATA, ENDAH PENI ATI SUCI, KONJUK MRING HYANG WIDHI, TAN KANTUN DONGA PANYUWUN, LEBUR KABEHING DOSA, MINAL’AIDZIN WAL FAIDZIN, SDAYA LEPAT NYUWUN GUNGING PANGAKSAMA”. (Sujarwo Joko Prehatin)

Artinya: Tembang Macapat Sinom: tertulis tembang ini, diriingi doa puji, di bulan lebaran ini, indah hati yang suci, teruntuk Tuhan, tak ketinggalan doa permohonan, lebur semua dosa. Mohon maaf semua kesalahan secara lahir dan bathin.

”Pupuh Asmaradana: Linali tan bisa lali, cupeting rasa lan jangka, Kathahing dosa kang ala, kraos awrat manah kula, tan matur jengandika, ing dinten riyadi hayu, nyuwin gunging pangaksama”(Bathari Ayu)

Artinya: Bait Asmaradana: dilupakan tak pernah bisa, terbatasnya rasa lan rencana, banyaknya dosa yang jelek, terasa berat rasaku, mengungkapkan pada anda, di hari raya, mohon maaf sebesar-besarnya.

”Pangkur: Dinten riyadi punika, ngaturaken wilujeng idul fitri, nglenggana dosa tuwin luput, kang jinarag tan njarag, anggen kita sarawung setunggal tahun, kula nyuwun pangapura, ing lahir tumusing batin” (Suraji)

Artinya: Di hari raya ini, menyampaikan selamat idul fitri, merasa dosa dan kesalahan, yang disengaja maupun tidak, dalam kita bergaul selama setahun, saya mohon maaf, lahir dan batin.

Dalang wayang kulit, MC, atau seniman yang memahami filosofi kehidupan tentu juga punya cara penyampaian yang unik, seperti misal.

“Yaksa wana, nyegat ing tengahing marga. KILap kula, anyenyaDHANG pangaksama, Sugeng riyadi, sdaya lepat linebura ing dinten suci mnika”.(Tri Wahyoe Widodo)

Artinya: Raksasa hutan, menghadang di tengah jalan. Khilaf saya, memohon maaf, Selamat hari raya, semua kesalahan dilebur di hari suci ini.

”Tan wonten kang patut linairake saking sajroning nala kajawi warna klaras ing reh sungging, apuranta lepat kawula. Ksatrian dyan Kumbakarna mugi lebur ing Riyadi menika. Srana panulaking ranu’ mugi kita tansah pinayungan kawilujengan tuwin kabagyan, amin ya rabbal ’alamin” (Bagus)

Artinya: Tak ada yang pantas diutarakan dari dalam hati kecuali warna klaras di lukisan, maafkanlah kesalahanku. Tempat Ksatria Kumbakarna, semoga lebur di hari raya ini. Cara penolakan bahaya semoga kita selalu diberikan keselamatan dan kebahagiaan, semoga Tuhan mengabulkan.

”Gumiliring mangsakala yekti, purbaning Hyang Kang Maha Kawasa, sampun purna Ramadhane, Idul fitri tumiyung, gya angrucat dosane sami, apura ingapura, lair trusing kalbu, yaiku ingkang sinedya, manunggaling rasa sadaya pra dasih, asih marang sasama, Sugeng Riyadi 1 Syawal 1430 H, Nyuwun gunging pangaksami” (Suyoto)

Artinya: Seiring sang waktu berjalan, ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, sudah usai bulan Ramadhan, Idul fitri telah tiba, segera membersihkan dosa manusia,saling maaf memaafkan,dari lahir sampai dalam batin, yaitu yang dikehendaki, bersatunya rasa semua manusia, kasih kepada sesama,

Sastrawan dari berbagai tingkatan dan jenis karyanya juga punya kiriman unik:

”Saat jarak itu ada dan kita melupa diri.Pasrah menjadipuncak ziarah manusia. Di mana kita berkaca lagi dan lagi…”(Daniel).

”Mohon maaf lahir dan batin untuk mas danis sekeluarga. sukses di langit n di bumi” (Agung PW)

Untuk yang menyenangi pantun sebagai media ungkap sering digunakan untuk mengirim ucapan, seperti:

”Klelegen kupat kala riyaya, kula lepat nyuwun sepura” (Murtidjono)

Artinya: Tertelan ketupat di hari raya, saya salah mohon dimaafkan.

”Dahar kupat kaliyan santen, wonten lepat nyuwun pangapunten”(Daru Swastika)

Artinya: Makan ketupat dengan santan, ada salah mohon dimaafkan.

”Seleh papat ora ana neng manyura, menawi lepat kula nyuwun pangapura” (Sasadara Sasangka)

Artinya: Seleh (arah nada, dan letak ketukan) nada empat tidak terdapat di (pathet) manyura, apabila salah saya mohon dimaafkan.

Kebetulan pengirim SMS ini adalah juga seorang pengrawit (musisi gamelan Jawa), sehingga kosa katanya menggunakan terminologi ilmu karawitan sesuai bidangnya..

Penari wanita yang menyukai kelembutan juga bisa menulis SMS sebagai berikut:

”Sepuluh jari tersusun rapi. Bunga melati pengharum hati…memohon maaf setulus hati” (Rambat Yulianingsih)

Oleh karena pertemanan yang kental, seorang artis terkenal kadang-kadang merendah, sehingga muncul kiriman seperti misal:

”Kanthi andhaping manah, kula sak brayat nyuwun gunging samudra pangaksami, mugi sedaya kalepatan lebur ing dinten kang suci lan nyuwun tambahing pangestu” (Endah Laras)

Artinya: Dengan rendah hati, saya beserta keluarga mohon maaf sebesar-besarnya, semoga semua kesalahan terhapus di hari yang suci dan mohon doa restu

Fotografer juga seorang pecinta filosofi bisa muncul kiriman seperti ini:

”Untuk menjadi yang menyayangi, u/mjd yang mengasihi, um/jd yang memaafkan, u/bs melihat ke dalam hati kita sendiri…mohon maaf lahir batin” (Sukhmana)

Orang tua yang bijak sering menasihati yang lebih muda akan pentingnya masa depan di momen lebaran.

”Menghaturkan Selamat hari raya idul fitri 1 syawal 1430 H Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin. Semoga hari esuk lebih baik dari sekarang. Amin ya Robbal Alamin” (Darsono)

Pemusik yang mendalami teater tentu akan mengerti sastra dan filosifi hidup, meski kiriman singkatnya tak serta merta musikal, sebagai contoh:

”Seperti tanah diberi sebutir dibalas setangkai Diberi sebatamng dibalas serumpun Diberi KOTORAN dibalas KESUBURAN. MINAL AIZIN WAL FAIZIN, MAAF LAHIR BATIN (Max).

Sebagai orang biasa namun peka terhadap filosofi kehidupan pasti bisa mengirimkan kata-kata indah, seperti:

”Yg Singkat itu ’WAKTU’ yg Dekat itu ’MATI’ yg Besar itu’NAFSU’ yg Berat itu ’AMANAH’ yg Sulit itu ’IKHLAS’ yg Mudah itu’DOSA’ Yg abadi itu ’AMAL KEBAJIKAN’ namun yang terindah adalah jika mau dan bisa ’SALING MEMAAFKAN’. MINAL AIZIN WAL FAIZIN, MAAF LAHIR BATIN MINAL AIZIN WAL FAIZIN, MAAF LAHIR BATIN (Yanuar)

“Beningkan hati dengan dzikir, cerahkan jiwa dengan cinta, lalui hari dengan senyum, sucikan hati dengan permohonan maaf…Selamat hari raya idul fitri 1430 H” (Hengky)

Pejabat Negara yang rendah hati dan perasa juga sering memohon maaf kepada orang lain dengan kata-kata seperti:

”Terselip khilaf dalam canda, terbersit pilu dalam tingkah laku, tersinggung rasa dalam bicara. Mohon maaf lahir dan batin dalam kesempatan idul fitri 1430 H” (Gunadi)

Bahkan seseorang yang bercita-cita jadi pilot selalu terobsesi menyampaikan ucapannya dengan bahasa penerbangan yang kocak:

”Slmt datang di penerbangan ”RAMADHAN AIR” dengan no. 1430 H, tujuan IDUL FITRI, 1 hari lagi kt sampai tujuan, harap pakai sabuk pengaman anda dengan puasa, tarawih, dan zakat fitrah, tegakan kursi imanmu, jika cuaca buruk perbanyak zikir & tadarus dan apabila mendarat di bandara Idul Fitri jangan lupa ucapkan syukur kepada Allah SWT, selamat hari raya idul fitri 1430 H Minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir batin”( NN: 06281567760603)

Semua pesan singkat (SMS) tersebut diutarakan dengan gaya bermacam-macam: ada yang formal tanpa basa-basi, ada pula yang bergaya canda karena biasanya antara mereka sudah saling mengenal perwatakan masing-masing. Seringpula menggunakan kata dan kalimat yang kias seperti puisi, karena kecocokan dengan momen hari raya idul fitri yang melibatkan emosi, , perasaan, rasio, pengorbanan, perjuangan, kemenangan, kesucian, ibadah, cita-cita, serta harapan.

Solo, 20 September 2009

Danis Sugiyanto

Penggemar salah satu jejaring sosial

Pengajar Etnomusikologi dan Karawitan ISI Surakarta

danissugiyanto@hotmail.com

Pelajaran Lebaran Kedua


by Danis Ötnayigus on Monday, February 8, 2010 at 12:04am
Cerita ini telah terjadi beberapa tahun yang lalu di hari lebaran kedua. Ketika itu ada seseorang pimpinan grup karawitan yang biasa aku datangi latihan memintaku untuk bergabung jadi pengrawit (musisi Jawa) untuk sebuah acara pegelaran wayang kulit purwa di sebuah desa lereng gunung Lawu bagian timur. Sudah aku katakan kepada beiau bahwa pada hari lebaran kedua pasti aku selalu ada acara kumpul keluarga besar di Sentolo, dari Trah istriku. Tentu saja aku tidak bisa menyanggupi permintaannya. Pembicaraan kami malam itu menghasilkan keputusan bahwa aku tidak bisa ikut pentas. Rupanya aku tidak tahu jika pakumpulan karawitan ini kekurangan pengrawit untuk acara tersebut, walaupun akhirnya mereka bisa melaksanakan pentas itu dengan baik.

Beberapa hari menjelang lebaran tiba, teman akrab satu angkatan menelponku. Ia ‘menghiba’ untuk aku bersedia ikut rombongan karawitannya pada suatu acara pentas wayang di hari lebaran kedua. Pada mulanya aku menolak, sama seperti penolakanku terhadap kelompok pertama tadi. Tapi temanku itu tetap bersikeras memohonku, katanya kalau boleh Ia akan bilang ke keluargaku untuk minta ijin demi ‘menyelamatkan’ janjinya kepada pihak penanggap. Daripada berlarut Ia mau minta ijin keluargaku yang lain, lebih baik aku saja yang berunding dengan istriku. Dalam hatiku sebenarnya ingin pilihmenjalani hidup sebagai seniman, daripada mengikuti acara keluarga yang santai namun formil itu. Aku berat hati melepas istriku yang nyopir sendiri dengan penumpang pakdhe, budhe, serta anakku. Rute Solo-Sentolo bukan pertama kali ia nyopir, tetapi karena kami sudah berkeluarga maka aku wajib menjadi pimpinan perjalanan yang padat pada suasana lebaran itu. Tetapi istri mengijinkanku untuk membantu temanku, karena Ia tahu hati suaminya. Baginya tiada guna berdebat denganku karena biasanya aku sudah punya jawaban sendiri, percuma diskusi mencari solusi.

Tiba saat keberangkatan aku dan pengrawit lain menunggu jemputan di pendopo Taman Budaya Surakarta. Setelah beberapa saat menunggu, aku bertanya dalam hati karena teman-teman pengrawit belum banyak yang datang berkumpul di tempat itu. Karena pikiran itu semakin menganggu, aku tanyakan ke teman yang ‘menyuruhku’. Jawabannya sungguh bikin aku ‘lemas’, ternyata kami sudah kumpul semua, tinggal menunggu jemputan dari rombongan besar yang akan pentas wayang ke desa di lereng Timur gunung Lawu. Kami hanya sebagian rombongan yang akan melengkapi suatu perkumpulan karawitan. Aku dapat kabar lagi kalau perkumpulan itu adalah perkumpulan yang pernah kuikuti dan sudah kuputuskan untuk tidak bisa mendukung kegiatan pentas di hari lebaran kedua. Entah apa nanti jawab penjelasanku pada ketua perkumpulan akan masalah ini.

Bis pun datang dan kami segera berangkat, aku cari Pak Ketua perkumpulan karawitan di atas bis, ternyata beliau naik mobilnya sendiri. Untuk sementara aku bisa menenangkan diri selama perjalanan menuju lokasi pementasan. Daerah yang kami tuju melalui jalanan pegunungan yang terjal, meski pemandangan sangat indah tapi kami terganggu dengan jalannya bis yang tidak semestinya. Di tengah tanjakan yang curam, bis kami mogok. Dari kap mesin keluar bunyi yang sangat berisik, di sela-sela tutupnya menyembur uap air yang panas. Kami terpaksa berhenti, crew terlihat sibuk mengatasi keadaan. Para penumpang mencari tempat di sekitar rumah penduduk untuk sekedar duduk-duduk istirahat. Saking lamanya kami menunggu bis diperbaiki, penghuni rumah rupanya kasihan melihat kami. Dengan sukarela penduduk menyuguh kami dengan buah-buahan segar langsung dari pohon di depan rumah. Di sekitar tempat itu banyak ditanam pohon jeruk yang manis, kami pesta jeruk sembari menunggu bis bisa jalan lagi.

Akhirnya bis bisa jalan lagi, dan sampailah kami di lokasi pentas. Tempat pentas kami adalah di sebuah rumah penduduk yang dibangun di tepi jurang yang lumayan dalam, pasti itu milik orang kaya. Sebelum pentas berlangsung aku bertemu dengan Pak Ketua karawitan, betapa hatiku tak enak untuk bertemu, tapi aku harus menjelaskan semua. Penjelasanku memang sepanjang tesis mahasiswa S2, untunglah beliau mengerti semuanya, aku lega sekali.
Tuan rumah menyuguhi kami aneka hidangan dan minuman the manis hangat, cocok untuk hawa pegunungan seperti saat itu. Aku melihat beberapa pengrawit yang terlibat untuk pentas kali ini adalah pengrawit handal di Kota Solo. Tercatat waktu itu rombongan membawa: 4 pemain kendang kenamaan, 3 pemain gender, 2 pemain rebab, semua 30 orang pengrawit popular di komunitas karawitan Surakarta. Karena tidak latihan sebelumnya, maka kami bingung sendiri menentukan casting pengrawit, rata-rata kami ewuh pekewuh menduduki suatu instrumen tertentu. Akhirnya aku dipasrahi main siter, karena kebetulan nggak ada yang berani tampil sebagai penyiter.

Pentas berhasil dengan sukses. Setelah pentas aku dikasih dua amplop, satu dari temanku yang mengajak dan satunya dari Pak ketua Karawitan. Yang terakhir aku tolak dengan halus karena itu memang bukan hak-ku, aku sadar posisi dan keadaanku waktu itu. Peristiwa di atas sampai sekarang masih membekas padaku, rasanya pahit dan kecut jika mengingatnya. Sejak saat itu aku tidak lagi mau ‘ngiringi’pertunjukan wayang professional, mungkin karena trauma dan ingin menenangkan diri (selamanya?). Akhirnya peristiwa itu juga menjadi pelajaranku untuk tidak sembarangan menerima panggilan PY, untung waktu itu aku masih lugu dan apa adanya, tetapi yang musti harus aku pegang selamanya adalah: kejujuran dan menjunjung komitmen. Sekarang banyak seniman yang ‘ambruk’ namanya gara-gara kepercayaan para pengguna jasa menurun, mayoritas karena ulah seniman sendiri. Semoga aku masih bisa eksis dengan modal-modal di atas, amin.

Gentan, 8 Jan 2010

dari tarub ke tarub