INDIVIDI


Mbah Mloyowidodo

Kata yang kupakai judul karangan ini begitu menggelitik, teringat seorang guruku-sang maestro gendhing-gendhing Jawa tersohor di jagat karawitan, namanya Mbah Mloyowidodo dari kampung Kemlayan Surakarta. Banyak sekali kata-kata asing yang terdengar unik, lucu, namun segar di telinga ketika beliau mejang murid-muridnya. Kata-kata beliau yang kocak berasal dari kosa kata bahasa Belanda, Cina, Arab, ataupun Inggris.

Orang Jawa lama (sepuh, tua) kebanyakan sulit melafalkan kosa-kosa kata bahasa asing, apalagi orang biasa bermodal oral (kupingan) yang menyandarkan diri pengetahuan komunikasinya tidak dengan budaya baca dan tulis. Ini bukan bermaksud merendahkan situasi orang –orang tua kita yang lahir dari zaman penjajahan dan kesengsaraan, sehingga  bangku pendidikanpun tak pernah mereka enyam.

Aku bukan ahli bahasa yang tentu saja tidak tahu asal kata “individi”, kuduga  berasal dari kata “individu”.  Bukan maksudku untuk mempersalahkan benar salah, anehnya kami selalu tertawa jika salah satu berkata “individi” (bahkan sampai sekarang). Kata lain yang paling kami kenang adalah seperti: dekimen dan trotoir. Anak yang dilahirkan dari generasi sekarang tentu tidak mengalami kepopuleran pengejaan kata-kata tadi, tentu saja mereka kurang peka dengan guyonan yang melibatkan kata-kata itu. Dekimen berasal dari bahasa Inggris “document” yang tentu saja sulit dilafalkan orang Jawa.  Sedangkan trotoir kurang lebih sama artinya dengan kata trotoar yang lebih akrab untuk menunjukan bagian jalan yang khusus digunakan untuk pejalan kaki.

Lain Mbah Mloyo, lain lagi Mbah Sastrotugiyo. Beliau adalah seorang vokalis handal RRI yang diangkat sebagai dosen luar biasa di STSI Surakarta. Tak kalah kocaknya dengan Mbah Mloyo dalam mengajar kepada murid-muridnya. Mereka memang terlahir untuk jadi seniman yang banyak teman di panggung-panggung pertunjukannya maupun di lingkungan sosialnya. Salah satu kata yang sering muncul dari beliau adalah “pindoor’. Lagi-lagi saya tidak tahu asal katanya, tapi ketika mengajarkan salah satu jenis gendhing sekar bergaya palaran kata itu sering muncul. Yang dimaksud adalah jatuhnya pukulan gong yang disebabkan oleh bait-bait kalimat tembang yang dipalarkan. Jatuhnya pukulan gong di sini akibat dari rasa melodi lagu tembang yang menginginkan rasa seleh berat, sehingga pemain kendang harus member tanda dengan musikalitas tertentu agar pemain gong tanggap untuk memukul instrumennya ketika frase lagu musikal tiba.

Huruf v maupun f adalah huruf-huruf yang  sulit dilafalkan oleh orang Jawa, apalagi huruf yang lain seperti: q,x,dan  z. jika terdapat kata asing dengan huruf-huruf tersebut pasti akan diucapkan secara serampangan sesuai tradisi oral yang sering diandalkan. Pak Wakidjo adalah dosen luar biasa di ISI Surakarta yang sering melafalkan kata variasi menjadi “pariaksi’. Simak kalimat berikut ini, “wah, sak menika sekaran kendhang kula sampun nyengkok pundi-pundi, nggih Pak Panuju, Pak Narto lan sanesipun, kendhangan kula sampun mboten murni, sampun kekathahen pariaksi”. Pada waktu mendengar kata itu kami semua sontak terkejut, berpikir, kalaupun ada yang tahu maksudnya pasti menahan tawa karena tidak enak dihadapan beliau. Barulah ketika beliau tidak ada kami tertawa secara berjamaah.

Kata “Minur” juga sering terdengar dari para Empu dan guru-guru luar biasa kami, seketika mendengarnya pasti kami hormat dan mencermati keterangan para pakar tadi, tetapi setelah itu kami pasti saling tertawa mengingat beliau-beliau berbicara. Kami tertawa bukan saja menyoal katanya, tetapi kami sering menyinggung raut muka, bibir, gesture, ataupun gerakan lain yang menyertai sang guru dalam mengucapkan kata itu.

Kini kami telah bercerai berai ke berbagai daerah untuk mencari kehidupan sendiri-sendiri, begitu juga para guru kami sebagian besar telah berpulang ke Rahmatullah. Kami hanya bisa mengenang guru-guru dengan ilmu yang diberikan disertai dengan kenangan tentang kata-kata yang unik tadi. Sungguh tulisan ini saya ulangi tegaskan tidak untuk mengungkit-ungkit kekurangtahuan mereka tentang bahasa, namun hanya bermaksud mengungkapkan kembali nilai yang terkandung dari peristiwa-peristiwa itu. Tanpa mengenang kata itu kami tidak mampu lagi mengingat ilmu yang diajarkan kepada kami. Kata-kata itu laksana dewa penolong yang mampu menebalkan ingatan dan hormat kami pada beliau-beliau.

Benar kata guru-guru kami di SD, SMP, ataupun SMA, bahwa dalam belajar mengingat perlu dibantu dengan “jembatan keledai”, misal : MEJIKUHIBINIU untuk mengingat warna dan angka hambatan pada resistor elektronik (Merah, Jingga, Kuning, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Ungu). Tetapi fenomena kata “individi” dan sebagainya mengingatkan kami pada ilmu yang diajarkan secara komprehensif lewat peran guru-guru kami. Begitu mendengar kata “individi” kami langsung tune in dengan ilmu-ilmu,  konsep dan cara yang telah diajarkannya.

Kalau orang mendengar kalimat, “Gitu aja kok repot”, tentu orang langsung teringat kepada Gus Dur. Kalau orang mendengar penggalan lagu dan syair, “Tak gendhong ke mana-mana”, tentu dengan sendiri ingatan kita menerawang kepada Mbah Surip sang seniman fenomenal. Biasanya orang akan mengingat kembali kepada seseorang tokoh dengan kalimat yang unik sealigus membuat tertawa, entah apa maksudnya yang jelas kata-kata yang khas akan menjadi daya pengingat yang cukup ampuh. Tak heran semua produk iklan ramai-ramai membuat jargon, atau sepenggal kata-kata yang mudah dikenang sekaligus dapat mencerminkan produknya sehingga kalau terkenal akan melariskan dagangannya pula. Begitu juga dengan perusahaan, dunia politik, slogan daerah, ataupun yang lainnya.

Gentan, 1 Januari 2009