Kunjunganku ke USA (ini yang ke-4), April 2016


Memenuhi Undangan Kegiatan Seni.

Mr. Andrew Claw McGraw, P.Hd., selaku dosen pada Richmond University mengorganisasi dan mengundang saya untuk datang ke USA untuk sebuah proyek kolaborasi seni antara: seni wayang Bali, Seni Pertunjukan Apallachian, dan music keroncong Indonesia (undangan terlampir). Mr. Andy bekerjasama dengan perbagai pihak di universitas tempat mengajar dan universitas lain di AS untuk mensukseskan proyek kolaborasi seni. Saya dan rekan dosen jurusan karawitan ISI Surakarta, Sdri. Peni Candrarini serta seorang dosen dari ISI Denpasar Bali, Gusti Sudarta, diundang untuk memberikan: workshop, rehearsal, dan sekaligus mementaskan kolaborasi seni Internasional tersebut.

Sekilas Tentang Shadow Ballads

Karya kolaborasi seni kami diberi tajuk “Shadow Ballads”, merupakan suatu kerjasama berbagai seniman Indonesia dan Amerika seperti: Peni Candrarini, Anna Roberts-Gevalt, Elizabeth LaPrelle, Andrew McGraw, Hannah Standiford, Gusti Sudarta, dan Danis Sugiyanto. Dipentaskan pada hari Sabtu, 16 April, 2016 pukul 03:00 sore di Camp Concert Hall, Booker Hall of Music, Modlin Centre Richmond University.

Shadow Ballads adalah sekumpulan seniman terkemuka Appalachian, musik dan teater Asia yang saling berhubungan berbagi pengalaman kehidupan sehari-hari dari ujung-ujung dunia. Master seniman dari Virginia dan Indonesia juga menggabungkan “crankies,” suatu bentuk teater rakyat Amerika yang menggambarkan balada di atas kertas dan kain gulungan, dengan “wayang kulit,” bentuk tradisional pedalangan bayangan Asia (Bali).

Kolaborasi dengan seniman master disajikan bersama karya yang dihasilkan oleh mahasiswa University of Richmond dan seniman muda dari kelompok masyarakat setempat, orkes keroncong Rumput Richmond Virginia. Shadow Ballads mengkombinasi keunikan musik gaya lama Amerika dan keroncong Indonesia.

Penonton diajak ke atas panggung untuk mencoba crankies dan wayang kulit setelah selesai pertunjukan. Pusat Seni Modlin (lembaga yang memfasilitasi karya seni di Richmond University) juga telah mengadakan lokakarya setelah pertunjukan, serta ramah tamah dengan seluruh seniman/pemain.

Penonton yang hadir sekitar 1000 orang, hal ini disebabkan oleh kesuksesan promosi dan publikasi pentas yang dilakukan oleh para penyelenggara.

 Berbagai Kegiatan Selama di USA

Kami juga terlibat memberikan workshop gamelan Jawa dan musik keroncong di berbagai universitas yang kami kunjungi. Adapun kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Tiga hari setelah kedatangan di AS, pada tanggal 6 April 2016 kami mengadakan pentas di Maggie L. Walker Governor’s School for Government and International Studies. Pentas ini sebagai ajang apresiasi seni dan promosi pertunjukan bagi para pelajar.
  • Pada tanggal 13 April siang hari, seluruh seniman yang terlibat dalam pertunjukan Shadow Ballads mengadakan siaran interaktif secara live di WRIR 97.3 fm Richmond Independent Radio, sebagai media promosi pertunjukan dan perkenalan para seniman yang terlibat dari Negara Indonesia dan Amerika
  • Pada tanggal 13 April pukul 08.30 malam hari, kami para seniman tamu Indonesia Danis Sugiyanto, Peni Candrarini dan Gusti Sudarta terlibat dalam acara pentas MUSICIRCUS Cageian, bersama Anggota Gamelan Raga Kusuma dan juga bergabung musisi paling menarik di Richmond yang pernah meraih Grammy Award music, kelompok musik Eight Blackbird dan Matt Ullery, di Booker Hall, University of Richmond.
  • Selama tinggal di kota Richmond negara bagian Virginia, kami berlatih bersama setiap malam hari pukul 20.00-22.30 waktu setempat di Richmond University. Sebagai satu tim kerja kami juga saling bahu membahu menciptakan layar untuk wayang Bali dan Apallachian (seperti teknik pada wayang beber) yang berisi berbagai lukisan gulung panjang adegan sesuai hasil teleconference sebelum kami datang ke US. Proses membuat layar dilakukan selama seminggu penuh di sebuah bengkel kerja milik Richmond University, dikerjakan pada pagi sampai sore hari, di sela waktu jadwal mengajar.

 

Adapun pihak-pihak yang mengundang dan memfasilitasi pentas kami adalah:

  • Modlin Center for the Arts di Richmond University, Virginia, tanggal16 April 2016,
  • Winston-Salem, North Carolina – di Wake Forest University, tanggal 19 April 2016,
  • Lewisburg, PA – Bucknell University, tanggal 21 April 2016,
  • Ithaca, NY – Cornell University, tanggal 24 April 2016,
  • Konsulat Jenderal RI (KJRI) di New York, tanggal 25 April 2016, dan
  • Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC, tanggal 26 April 2016.

Rincian kegiatan yang saya lakukan di berbagai tempat (kecuali di Richmond, sudah saya sampaikan di atas) adalah sebagai berikut:

  • Winston –Salem, North Carolina- di Wake Forest University.

Pada tanggal 18 April pukul 13.00 waktu Richmond kami menuju kota Winston Negara bagian North Carolina di arah selatan Richmond yang ditempuh dengan perjalanan darat selama 3,5 jam. Kami diterima oleh dosen Wake Forest University yang bernama Elizabeth Clendinning, P.Hd, sebagai wakil Universitas Wake Forest yang mengakomodasi dan mengatur kegiatan mengajar di kelas pada matakuliah studi Asia Tenggara. Pada tanggal 19 April pukul 09.00-10.00 waktu setempat, saya berkesempatan memberikan kuliah di hadapan para mahasiswa Wake Forest selama satu jam dengan materi budaya musik pop Asia Tenggara dengan materi pokok musik keroncong di Indonesia. Setelah mengadakan pembelajaran, kami menuju gedung Scales Fine Arts Center, Brendle Recital Hall 1834 Wake Forest Road Winston-Salem, NC 27106, untuk mempersiapkan pentas. Lalu pada malam hari pukul 19.30, kami mempertunjukan Shadow Ballads di tempat yang sama. Setelah pementasan kami mengadakan ramah tamah dengan para penonton. Pada tanggal 20 April pukul 10.00 waktu setempat kami langsung bertolak meninggalkan kota Winston dengan menempuh perjalanan darat selama 7,5 jam menuju kota Lewisburg.

  • Lewisburg, PA – Bucknell University

Pada tanggal 20 April sore hari kami tiba di kota Lewisburg Negara bagian Pennsylvania, kami langsung menuju gedung pertunjukan Weis Center for The Perfoming Arts di Bucknell University untuk bongkar alat-alat pertunjukan sekaligus memasang layar dan menata tempat pertunjukan. Pada tanggal 21 April pukul 09.00 waktu setempat kami didampingi oleh dosen Bucknell University, Bethany J. Collier, mengadakan kelas workshop di gedung pertunjukan dengan peserta para mahasiswa, civitas akademika Bucnell University dan masyarakat Lewisburg, adapun materi workshop adalah segala aspek pembentuk artistik pertunjukan Shadow Ballads, yaitu: teater, wayang, crankie, dan musik teater. Lalu pada pukul 19.30 waktu setempat kami mempertunjukan Shadow Ballads untuk publik Lewisburg di gedung pertunjukan Weis Center for The Perfoming Arts di Bucknell University. Setelah pentas kami langsung bertolak menuju kota Ithaca di Negara bagian New York dengan menempuh jalan darat 4 jam.

  • Ithaca, NY – Cornell University

Pada tanggal 22 April di kota Ithaca kami diperkenalkan keindahan bangunan dan kecanggihan sarana dan prasarana kampus Cornel University oleh dosen Christopher J. Miler. Pada pukul 09.00-11.00 kami diminta bantuan mengajar kelas gamelan Jawa untuk keperluan konser karawitan dengan materi gending-gending klasik seperti: lancaran Udan Mas laras pelog pathet barang, dan Gangsaran kasambet ladrang Roning Tawang laras pelog pathet Nem, bagi kelas mahasiswa pemula. Pada tanggal 23 April pukul 11.00-13.00 waktu setempat kami bergabung dalam pentas improvisasi dengan kelompok CAGE (Cornell Avant Gard Ensemble) yang diprakarsai oleh Christopher dan 2 pemusik elektronik music yaitu: Anne Lewandowski dan Steive. Lalu pada pukul 15.00-18.00 kami berlatih bersama dengan grup CGU (Cornell Gamelan University) untuk melatih materi konser karawitan seperti: ketawang Pawukir laras slendro pathet manyura, langgam Yen Ing Tawang Ana Lintang laras pelog pathet nem, jineman Uler Kambang laras slendro pathet sanga, Gambir Sawit gending K2K minggah 4, dan ladrang Perkutut Manggung laras pelog pathet barang, disamping melatih materi-materi untuk kelompok karawitan mahasiswa kelas pemula. Latihan dan konser dihadiri dan diperkuat oleh Profesor Marty Hart, dosen senior yang kini sudah purna tugas dari tugas mengajar di Cornell University (beliau adalah orang yang pertama kali merekomendasi Prof. Sumarsam dan Bapak I.M. Harjito untuk mengajar di US, disertasinya tentang Laras-Lagu-Layang dengan narasumber Nyi Bei Mardusari, serta pernah menterjemahkan buku Pengetahuan Karawitan karya Martopengrawit). Lalu pada tanggal 24 April pukul 13.00 waktu setempat kami melakukan pentas konser karawitan di Barnes Hall Cornell University. Konser dibagi dua sesi, panggung di sebelah kiri penonton memainkan ansambel musik keroncong dengan materi: Keroncong Moritsko, langgam jawa Ali-Ali dan Langgam keroncong Yen Ing Tawang Ana Lintang yang disajikan oleh kelompok musik keroncong Rumput dari Richmond, sementara sesi kedua di sebelah panggung kanan penonton menyajikan konser gending-gending jawa klasik seperti yang sudah dilatih. Pada malam hari pukul 20.00 waktu Cornell, Shadow Ballads menggelar pertunjukan di tempat yang sama. Baik konser karawitan maupun pertunjukan Shadow Ballads dipenuhi oleh penonton dari berbagai kalangan. Setelah pementasan diadakan ramah tamah antara seluruh pemain/artis dan penonton. Keesokan hari pada tanggal 25 April pukul 10.00 waktu setempat kami bertolak meninggalkan Ithaca menuju New York City (NYC), perjalanan darat ditempuh selama 4 jam.

  • Konsulat Jenderal RI (KJRI) di New York

Pada tanggal 25 April siang hari kami tiba di KJRI New York, kami langsung membongkar dan memasang alat-alat pertunjukan sekaligus cek sound dan orientasi panggung. Lalu pada pukul 20.00 malam waktu New York kami mengadakan pentas Shadow Ballads. Kapasitas 200 kursi penonton di gedung KJRI New York semua terisi penuh. Setelah pentas kami beramah tamah dengan para hadirin, diantara penonton yang datang dapat saya kenali antara lain wakil dari ACC (Asian Culturl Council), Rachel Cooper dari Asia Society, beberapa pemerhati seni Indonesia di NYC dari warga Negara Indonesia maupun Amerika Serikat. Kami menginap di lantai 5 gedung KJRI semalam setelah pentas, lalu pada esok hari tanggal 26 April pukul 10.00 pagi kami meninggalkan New York menuju Washington DC.

  • Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC

Sesampainya di kota Washington DC kami langsung menuju KBRI Washington. Rombongan diterima oleh Atase Pendidikan beserta sebagian staff KBRI. Kami mempersiapkan segala keperluan untuk pentas pada malam hari pada pukul 20.00 waktu setempat. Setelah pentas Shadow Ballads kami mengadakan ramah tamah dengan para penonton. Saya dan Sdri. Peni menginap di rumah salah seorang alumni STSI Surakarta jurusan seni tari bernama mas Anang Totok Dwiantoro. Lalu kami mengadakan perpisahan dengan seluruh anggota Shadow Ballads di hotel JW Marriot Washington keesokan harinya. Pada pukul 22.00 malam waktu Washongton kami bertolak ke Jakarta menggunakan pesawat Etihad Airlines dengan transit 7 jam di Dubai-Abu Dhabi yang membutuhkan waktu keseluruhan 23 jam. Saya dan Sdri. Peni tiba di Jakarta pada pukul 15.00 sore dan melanjutkan penerbangan ke Bandara Jogja pukul 20.00 WIB. Karena pesawat Garuda Indonesia mengalami keterlambatan penerbangan maka kami tiba di bandara Jogja pukul 21.30 WIB. Lalu kami kembali ke kota Solo dan tiba pukul 23.30 WIB dengan selamat.

Hasil dan dampak kegiatan

  • Seni dan budaya Indonesia mendapat apresiasi yang tinggi di Amerika, khususnya di berbagai tempat yang kami kunjungi untuk mengajar, workshop, dan pentas.
  • Hasil Kolaborasi seni kami mendapat sambutan yang bagus, dan berhasil diliput oleh berbagai media cetak maupun elektronik di US. Pihak Kennedy Centre yang menyaksikan pertunjukan Shadow Ballads kami pada waktu kami pentas di KBRI Washington berencana akan mengundang kembali pada bulan September tahun ini (2016).
  • Universitas Richmond tertarik untuk menjalin kerjasama lebih lanjut dengan kampus ISI Surakarta, hal ini terjadi karena hubungan intensif kami dengan pihak universitas Richmond melalui salah satu dosen di Richmond, Andrew Clay McGraw. Perlu diketahui Richmond University of Virginia mempunyai program S1 untuk seni meliputi: music, tari, teater dan sastra, tetapi hanya memiliki program pascasarjana untuk bidang Hukum dan Bisnis Management. Mereka sudah sering mendatangkan para dosen seni dari Indonesia, yaitu diantaranya: bapak I Made Sidia dan Gusti Putu Sudarta dari ISI Denpasar. Pada tahun yang lalu Sdri. Peni Candrarini, dosen Jurusan Karawitan pernah berkesempatan mengajar beberapa jam tentang tembang dan vocal Jawa di Richmond University. Kami telah menawarkan peluang kerjasama dengan ISI Surakarta tentang kemungkinan: pertukaran dosen atau mahasiswa, muhibah seni, dan tidak menutup kemungkinan untuk kerjasama dalam hal yang lain.
  • Melalui kepala Atase Pendidikan KBRI Washington, Bapak Ismunandar (beliau adalah dosen ITB sebelum bertugas di KBRI Washington), saya direkomendasikan kepada pejabat berwenang pada Kemenristek RI untuk mengajar gamelan Jawa dan sekaligus menempuh pendidikan S 3 di Maryland University USA. Semoga akan terkabul menjadi kenyataan bagi saya.
  • Melalui kegiatan kami, bangsa Indonesia dan utamanya nama ISI Surakarta semakin harum terkenal di Amerika Serikat, karena kami telah berhasil menyajikan hasil kolabborasi karya seni yang merupakan refleksi seni budaya Indonesia dan Amerika Serikat, di tingkat universitas dan perwakilan diplomatic antar Negara.

Gentan, 3 Mei 2016

Danis Sugiyanto

==========kutulis ini sebagai laporan kepada lembaga ISI Surakarta tercinta=======

KERONCONG GADHON SWA BUWANA PADA FESTIVAL KNEJPE – DENMARK


 

Keroncong Gadhon merupakan istilah untuk grup keroncong yang tampil dengan jumlah alat yang tidak lengkap. Seperti yang kita tahu, sebuah grup keroncong dikatakan lengkap, apabila minimal ada tujuh alat utama, yaitu bass, cello, gitar, cak, cuk, flute dan biola.
Ditampilkan dengan minimal tiga alat musik seperti cak, cuk dan cello yang merupakan ‘jiwa’ dari keroncong sudah menjadi ciri Keroncong Gadhon. Namun rasanya memang ada yang kurang, sebab tidak ada pemain depan. Maka sering kali dirambah dengan flute atau biola sebagai pemain depannya.

Pusat Seni Budaya Denmark, Kulturvaerftet (The Culture Yard) dan Musikhuset Esjberg telah menyelenggarakan festival musik Internasional bernama ‘Knejpe Music Festival’ di kota Helsingor, 6-8 Oktober 2011 lalu.

Keroncong Gadhon Swa Buwana

Gelaran festival yang pertama tersebut telah mengundang berbagai grup musik dari berbagai negara yang mendapat pengaruh dari kultur musik Fado Portugis, seperti Taarab dari Zanzibar, Mando dan Fado dari Gowa di India, Keroncong dari Indonesia, dan Forro dari Brazil.

Mengapa acara ini diselenggarakan di Helsingor? Alasannya karena kota ini merupakan pelabuhan terbesar di Denmark yang sekaligus sebagai pintu masuk pertama menuju Denmark. Knejpe Music Festival merupakan bentuk perayaan sejarah para pelaut mancanegara yang merapat di kota tersebut saat menunggu izin raja untuk memasuki wilayah Denmark. Sembari menunggu izin masuk yang bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, para pelaut dan awak kapal menghabiskan waktunya di daratan untuk mencari hiburan dengan pertunjukan musik dan menikmati aneka minuman.

Tercatat bahwa pengaruh portugis dan budaya musik lain dapat dijumpai di kota tersebut, seperti ditampilkannya kembali para pengamen jalanan Denmark dari berbagai generasi.
Kehadiran musik keroncong yang dipamerkan di Denmark tak lepas dari peranan Eva Fock, seorang etnomusikolog yang membidani serta menjadi kurator festival tersebut. Beliau menggagas festival tersebut karena obsesi yang sudah 25 tahun terpendam. Ketika berada di negeri Belanda, ia sangat terkesan dengan musik keroncong dan bermimpi suatu saat harus mendatangkan musik yang sangat disenangi itu untuk pentas di Eropa. Swa Buwana diberi kesempatan untuk mempresentasikan budaya musik Indonesia lewat alunan musik keroncong dan langgam Jawa.

Swa Buwana merupakan gabungan dua grup musik yang disegani di daerahnya yakni keroncong Swastika dari Kota Solo dan Campursari Sangga Buwana dari Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah. Gaya musik keroncong yang diusung grup ini menggunakan konsep gadhon. Konsep ini mengoptimalkan alat-alat musik yang dipandang penting dan harus ada dalam musik keroncong. Instrumen musik yang dibawakan terdiri dari violin, cak, cuk, dan cello. Konsep ini paling mungkin digunakan karena keterbatasan kuota jumlah personil yang bisa berangkat ke Denmark. Para musisi yang terpilih yaitu Danis Sugiyanto (violin), Sapto Haryono (cak), Martanto ‘canthing’ (cuk), Dwi Harjanto (cello), dan Nonik Aprilia (penyanyi).

Untuk persiapan lawatan seni ini, Swa Buwana telah menyiapkan secara khusus berbagai lagu dan aransemen sebagai berikut: Bengawan Solo, Kr. Moritsko, Stb. Dua Baju Biru, Kr. Kemayoran, Lg. Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Lg. Luntur, Lgm. Sedangkan lagu yang berbahasa Jawa yang ditampilkan yaitu Ngimpi, Caping Gunung, Ali-ali, dan Nusul. Nantinya, lagu-lagu yang dipersiapkan bisa diganti dengan lagu spontanitas yang sesuai dengan kondisi dan situasi suatu tempat pentas.

Swa Buwana mendapat kesempatan tampil selama tiga hari. Dalam setiap harinya grup keroncong ini harus pentas sebanyak tiga kali di tempat yang berbeda. Pada hari pertama seluruh delegasi negara menghadiri malam ramah tamah. Mereka menyajikan sebuah lagu khas dari jenis musiknya ataupun khas negaranya. Selain Swa Buwana, delegasi Indonesia juga dihadiri oleh Kuasa Usaha ad Interim KBRI Kopenhagen. Saat tampil, Swa Buwana membawakan lagu Bengawan Solo karya cipta Gesang Martohartono.
Tempat-tempat yang dikunjungi untuk pentas merupakan kafe, pub, ataupun restaurant yang tersebar di sekitar Kuil Hamlet di kota pelabuhan Helsingor. Kuil Hamlet adalah suatu benteng pertahanan tua yang menjadi inspirasi Wiliam Shakespeare dalam mewujudkan naskahnya yang terkenal yaitu Hamlet.

Para musisi yang mengikuti festival ini harus berjalan dari suatu tempat ke tempat pentas lainnya di bawah cuaca yang dingin dan menghadapi berbagai suasana dan audiensi yang berbeda. Mereka seakan larut merasakan sejarah masa lalu, para pemusik yang menghibur para pelaut ataupun pengunjung kota yang memadati berbagai tempat minum dan keramaian malam hari. Siang harinya mereka juga berkesempatan pentas di area terbuka Plaza Helsingor yang penuh orang namun tetap tertib dan apresiatif terhadap seni.

Pada hari kedua dan ketiga mereka berkesempatan memberikan workshop dan sambung rasa dengan sekolah-sekolah umum di kota dalam bentuk pentas maupun presentasi etnomusikologi. Meskipun belum banyak yang mengenal Indonesia, namun diplomasi budaya lewat seni terutama music keroncong ini dapat memberikan pengertian antara lintas bangsa secara efisien. Bagi Bangsa Indonesia beruntung bisa lebih dikenal di negeri Denmark, sedangkan bagi pemusik keroncong sendiri bisa menimba ilmu dan pengalaman untuk bisa bergaul dengan seniman dari berbagai negara di dunia dalam suatu forum festival seperti Knejpe Music Festival kali ini.

Gentan, 5 November 2012

by: Danis sugiyanto

Gamelan Indonesia Mengharum di Festival Milan dan Spoleto, Italy


spoleto          Supanggah Gamelan Orchestra (Garasi Seni Benawa/GSB) awal Juli 2013 lalu telah menampilkan karya-karyanya pada Festival dei Due Mondi (Festival Dua Dunia), festival musik symphony dan opera tahunan yang diadakan setiap Juni hingga awal Agustus di Spoleto, Italia. Partisipasi Gamelan tersebut merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah berdirinya Festival dei Due Mondi yang dirintis oleh komposer Gian Carlo Menotti pada tahun 1958. Festival yang bergengsi ini menjadi ajang pamer musik, opera, tari, drama, seni visual dan diskusi pada ilmu pengetahuan, belum pernah sekalipun mengundang seniman/grup seni dari luar Eropa dan Amerika. Rahayu Supanggah dan GSB telah sukses menorehkan tonggak sejarah eksistensi Festival Spoleto dan gamelan bagi dunia terutama untuk musik Indonesia.

          Spoleto adalah sebuah kota kecil yang indah dan bersejarah, mempunyai dua teater indoor, teater Romawi dan banyak ruang konser lainnya, cukup dekat dengan Roma (1,5 jam dengan train), mudah dijangkau dengan sambungan rel kereta api, serta jalan darat yang baik dipilih oleh Menotti sebagai tempat untuk festival seni yang hidup di Italia

          Festival ini mampu menjelma menjadi salah satu pusat manifestasi budaya paling penting di Italia. Untuk beberapa waktu Festival Spoleto menjadi titik acuan pameran patung modern. Meskipun Festival Spoleto telah menghabiskan banyak dana dari para donatur dan mulai tersaingi oleh kelahiran banyak festival serupa di seluruh Italia, namun tetap menjadi peristiwa budaya yang sangat penting di dunia.

          Nama Dua Dunia” dalam festival itu datang dari niat Gian Carlo Menotti untuk mempertemukan budaya Amerika dan Eropa agar saling berhadapan dalam event tersebut. Konsep ini kemudian diperkuat oleh fakta diadakan  secara bersamaan dengan festival kembarannya, yaitu Spoleto Festival USAyang diadakan setiap tahun di bulan Mei / Juni di Charleston, Carolina Selatan. Di bawah arahan Gian Carlo Menotti pada tahun 1986, Festival Spoleto pernah diadakan di Melbourne, Australia. Melbourne Spoleto Festival lalu berubah nama menjadi Melbourne International Festival of the Arts pada tahun 1990. Festival ‘kembar’ hanya berlangsung sekitar 15 tahun, sejak awal 1990-ankemudian terjadi pemisahan. Setelah kematian Menotti pada Februari 2007, pemerintah kota Spoleto dan Charleston memulai pembicaraan untuk kembali menyatukan dua festival, yang mencapai puncaknya di Spoleto, Italia, sertaSpoleto Festival USA Mei 2008.

          “SAKTI, L’ARMONIA NEL CIELO DI PIAZZA DUOMO” (Sakti, Harmoni di Langit dari Alun-alun Katedral) adalah tajuk konser karawitan (gamelan) dan tari yang dipilih pada tur GSB ke kota Spoleto,  dipersembahkan oleh 6 penari cantik dari Indonesia (Sekayu-Musi Banyu Asin-Palembang) garapan Restu Kusumaningrum, dibalut dengan suara hipnotis dari musik Supanggah Gamelan Orchestra bersama 9 musisi dari Jawa, dipersembahkan untuk pemirsa di Piazza Duomo, pada hari Sabtu 13 Juli 2013. Dengan formasi yang sama sebelumnya mereka juga tampil di Centro Ricerche Teatrali Milano, Milan pada tanggal  9, 10, dan 11 Juli 2013.

          Konser karawitan dan tari ‘Sakti” bukan saja membuat bangga bagi seluruh seniman GSB, tetapi juga telah berhasil menyedot perhatian publik. Hal itu disampaikan dalam tayangan berbagai stasiun TV Nasional Italy dan juga sanjungan dari salah satu Direktur festival, Mr. Franco Laera. Gamelan bukan musik yang bisa dianggap sebelah mata, dengan derajat musikalitasnya yang tinggi serta kemampuannya beradaptasi dengan pendengar, fungsi, dan lingkungannya, Gamelan nyata sejajar dengan orkes musik symphony besar dari budaya Barat maupun musik Dunia pada umumnya.

          Meski partisipasi anak-anak bangsa yang tergabung dalam GSB ini tidak didukung dana yang cukup dari pemerintah pusat, akan tetapi mereka telah menunjukan kapasitasnya yang sangat baik dari segi kualitas seni dan dedikasi selaku profesional seni. Mereka sadar bahwa festival ini adalah salah satu pintu yang penting untuk merintis jalan bagi kesenian Indonesia dari luar Eropa dan Amerika untuk berperan dan unjuk gigi dalam kancah percaturan musik Dunia. Dialog seni Internasional ini diharapkan lebih membuka apresiasi Dunia terhadap Indonesia, ketika lewat teknologi, ekonomi, dan olahraga Indonesis masih diperingkat yang tidak tinggi. Misi budaya ini mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia lewat seni dan budaya. Festival seni ini dapat membuka mata dunia bahwa Indonesia makin diperhitungkan dalam bidang seni dan budayanya.

 

 

Gentan, 25 Juli 2013-07-25

 

Danis Sugiyanto

Praktisi Gamelan dan Keroncong di kota Solo

Kolaborasi Musik Keroncong (sebuah Tantangan Masa Depan)


Makalah ini telah diseminarkan pada Solo Keroncong Festival 15 September 2012 di Hotel Pose In, Solo-Jawa Tengah
==========================================
Oleh: Danis Sugiyanto, S.Sn., M.Hum.
Dosen ISI Surakarta

Kolaborasi adalah pertemuan dua atau lebih kesenian/seniman dari negara atau bangsa atau kultur yang berbeda yang bekerja sama atau kerja bersama untuk membuat suatu produk karya seni. Musik keroncong telah mengalami kolaborasi sejak muncul dan berkembang hingga zaman ini. Sifat kolaborasinya mempunyai karakteristik yang berbeda pada setiap masa. Motivasi kolaborasi, tujuan, cara kerja, bentuk, manfaat, serta hasil kolaborasi masih banyak mencadi catatan dan pertanyaan.
Kolaborasi setidaknya melibatkan unsur seniman dan atau kesenian. Tata cara, etos kerja, dan kualitas produk kolaborasi juga mempunyai tingkat yang berbeda. Di era global seperti sekarang justru banyak ditemukan praktik kolaborasi ’kurang serius’. Ibarat sepasang manusia lain jenis, kolaborasi memiliki skala hubungan yang juga berbeda. Pada tahap ’pandangan pertama’, kolaborasi baru menyentuh permukaan dan yang nampak saja. Tahap ’pacaran’, kolaborasi yang terjadi adalah proses saling mengenal satu sama lain. Tahap ’perkawinan’, kolaborasi ini mulai menginginkan terjadinya pengenalan luar dalam dan juga berakibat akan memunculkan ’organisme’ (produk).
Kolaborasi ’pandangan pertama’ biasanya hanya menimbulkan cinta pada persentuhan kulit luar. Jika hanya berhenti pada tahap ini maka yang terjadi adalah kolaborasi asal jadi. Meski telah bersentuhan kulit yang dapat menimbulkan berbagai efek misal: ereksi atau exitment budaya, rasa syur berkesenian, bahkan berlanjut sampai hubungan di tempat tidur. Persinggungan ini bisa berakibat berbagai rasa seperti: geli, gatal, bau, atau menimbulkan luka yang bervariasi. Kolaborasi seperti ini biasanya hanya memerlukan waktu yang pendek dengan persiapan yang kurang matang. Kolaborasi sering dimaknai dengan jam session yang lebih mengutamakan kemampuan praktek secara improvisasi, konsep atau idealisme menjadi tidak diutamakan. Pada tahap ini kolaborasi masih berkutat pada permasalahan teknis seperti: penggunaan tangga nada, ritme, pemilihan bentuk, gaya, dan sebagainya yang seringkali megakibatkan pergesekan.
Musik Keroncong sebagai Pemrakarsa dan Mitra Kolaborasi

Seni pertunjukan dari zaman ke zaman mengalami perkembangan, ditandai dengan semakin rumitnya elemen pembentuk sebuah karya seni. Musik keroncong tidak lagi dimaknai sebagai musik klangenan yang statis, tetapi butuh ruang ekspresi yang lebih luas dan merdeka. Musik keroncong telah bersinergi dengan jenis seni musik dan seni yang lain. Berbagai contoh kolaborasi tersebut misalnya: musik keroncong sebagai musik teater (opera stambul, musik film, lawak/dagelan, parodi, dan lainnya), baik yang bersifat tradisional sampai modern. Demikian juga kolaborasi antara musik keroncong dengan sesama seni musik seperti: gamelan, jazz, dangdut, rock, hi¬p ho¬p, regae, dan lain-lain. Kolaborasi juga telah dilakukan antara musik keroncong dengan: tari, pedalangan , bahkan seni rupa.
Musik keroncong sebagai pemrakarsa kolaborasi masih sangat minim dijumpai dalam proses perkembangan seni pertunjukan di Indonesia, seringkali musik keroncong dijadikan mitra bahkan lebih parah lagi hanya menjadi pelengkap sebuah karya atau event seni pertunjukan. Posisi kolaborasi seringkali tidak sejajar, musik keroncong tidak mendapat peran yang signifikan.
Skala kolaborasi juga belum mencapai tingkat yang menggembirakan. Meskipun telah ada seniman yang berkolaborasi dengan seniman Internasional. Hal ini diperlukan peran serta yang aktif dari seniman keroncong maupun lembaga terkait dengan seni dan budaya maupun pemerintah Indonesia. Kolaborasi juga penting untuk mengembangkan sisi seni (musik) keroncong disamping untuk kepentingan pariwisata ataupun hubungan bilateral dengan bangsa atau negara lain.

Pentingnya Riset sebelum Melakukan Kolaborasi

Riset sangat penting sebagai langkah awal dalam berkolaborasi. Riset bisa dilakukan oleh seniman kolaborator dengan kemampuan masing-masing. Bagi masyarakat terdidik di sekolah ataupun perguruan tinggi seni tuntutan mengadakan riset terlebih dahulu sebelum membuat karya sangat tinggi. Tujuannya adalah untuk membuat suatu pondasi yang kokoh agar bentuk seni hasil kolaborasi tidak mudah roboh. Para seniman keroncong yang mempunyai dedikasi, loyalitas, dan skill dapat melaksanakan tahap penelitian ini dengan pendekatan teknik. Intensitas riset ini merupakan bagian penting kolaborasi dalam mencari persamaan dan perbedaan mendasar diantara para kolaborator. Tahap ini mutlak dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kolaborasi yang merupakan pemerkosaan atau ’menang-menangan’ antara para pelaku kolaborasi.
Pengalaman sebagai kreator seni selama ini membuktikan bahwa dengan memahami objek seni secara komprehensif dan mendalam, maka hasil kolaborasi akan mendekati titik optimal. Kurangnya penelitian terhadap mitra kolaborasi menjadikan kualitas karya seni akan belum matang. Pengetahuan yang banyak, dan rasa saling mengerti kepada para mitra kolaborasi akan menimbulkan keputusan yang bijaksana dan timbulnya rasa hormat yang tinggi, sehingga hasil kolaborasi tidak terkesan sembarangan.

Komunikasi dalam berkolaborasi

Unsur terpenting sekaligus problem utama dalam kolaborasi adalah komunikasi. Musik diyakini mempunyai sifat universal sehingga diyakini tidak ada kendala dalam komunikasi, namun pada kenyataannya tidak sesuai dengan pendapat tersebut. Musik keroncong dipercaya menjadi musik pemersatu di Indonesia karena bahasanya yang bisa dimengerti, tetapi musik keroncong bukan sekedar dimaknai sebagai sarana komunikasi yang wantah, musik keroncong juga bisa mengisyaratkan sesuatu yang tan wadag (abstrak) yang kadang penuh simbol terutama di dalam lirik-liriknya. Musik keroncong sering kesulitan untuk lepas dari bingkai kultur yang membebani yaitu: zaman, lingkungan, fungsi dan sebagainya.
Kolaborator yang berhasil setidaknya harus memahami jiwa ataupun esensi kesenian yang dihadapi. Cara memainkan alat musik sangat bervariasi antara etnik, kultur bahkan pribadi seniman dalam konteks ruang dan waktu yang beragam. Kolaborator dituntut mempunyai pemahaman yang benar tentang instrumentasi ataupun orkestrasi, bentuk komposisi, organisasi musikal, tangga nada, ritme, harmoni, dinamik, vokabuler, pola dan teknik permainan, dan lain-lain. Kesemuanya adalah sarana untuk mengekspresikan sebuah musik sekaligus cara untuk memahami isi/esensi kesenian dan senimannya. Dari itu semua para kolaborator akan mendapat pengertian yang mendalam yang diharapkan mampu mengambil keputusan yang bijaksana dalam kerja kolaborasi.
Kolaborasi pada tingkat ’cinta pertama’ biasanya masih berkutat pada masalah pemahaman ujud unsur-unsur material, struktur, vokabuler, serta teknik-teknik menyajikan repertoar para kolaborator. Pada tingkat ini makna, jiwa, ataupun esensi seni belum dipahami menyeluruh, sehingga seringkali proses dan perwujudan kolaborasi adalah saling mencocokan apa yang masing-masing mereka punyai, perwujudannya hampir selalu terjebak pada objek materi yang dianggap mirip atau ’sama’. Para kolaborator akan saling mencocokan tangga nada, birama, warna suara, ataupun meter, sehingga seringkali terjadi pemaksaan ’dicocok-cocokan’ yang berakibat pada kolaborasi pemerkosaan. Jika ada yang dominan, pasti ada pihak kolaborator yang terpaksa mengalah untuk menanggalkan jati dirinya. Hasil kolaborasi demikian tak lebih sebagai bayi hasil persetubuhan yang tidak dikehendaki karena tidak adanya pemahaman yang mendalam diantara kedua belah pihak.

Kepustakaan

Rahayu Supanggah
2002. “Kolaborasi Kisah sebuah Pengalaman” . Jurnal Keteg volume I No. 1 edisi
Nopember 2002.

Triyono Bramantyo.
2004. Disseminasi Musik Barat di Timur. Yogyakarta: Tarawang Press.

Karya Danis Sugiyanto 5 tahun terakhir:

– 2012 Prihatin, ilustrasi Roro Mendut, Teater Jakarta
– 2012 Janturan, ilustrasi Roro Mendut, Teater Jakarta
– 2011 Swabuwana, Knejpe Festival, Helsingor Denmark
– 2011 Carabalen orkestra, ilustrasi musik tari Swargaloka Grup, Gedung Pewayangan
TMII Jakarta
– 2011 Bahana Gita Persada, konser Karawitan, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
– 2010 Musik Fashion Show Anne Avantie, Karaton Surakarta.
– 2010 Urip, Festval Gamelan Dunia Terengganu, Malaysia
– 2010 Arus Monggang, ilustrasi musik Matah Ati, Teater Jakarta
– 2010 Wayang Kroncong. Jaten, Surakarta.
– 2009 Aku, Wanita dan Kebaya. Musik Fashion Show anne Avantie, Hotel Mulia Jakarta
– 2009 Wayang Kethoprak Pendhapan. TA TV Surakarta
– 2009 Circular Ruins, Musik Tari, Substation Singapore
– 2009 Bedah dot Com. Ngayogjazz Festival
– 2008 Arus Sungai dan Peradaban, Musik Tari Ujian Akhir S2 ISI Surakarta
– 2007 Conglung, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Seni Karawitan: Masihkah Dicintai Masyarakat Jawa?


by Danis Ötnayigus on Friday, July 17, 2009 at 2:04am

Masa kini terasa asing dan aneh untuk membicarakan seni karawitan dalam masyarakat. Bagi pelaku seni yang dimaksud tentu tidak merasa demikian, tetapi bagaimana dengan masyarakat pada umumnya? stigma tentang seni itu terutama pada generasi muda zaman sekarang adalah berkisar tentang: musik orang tua, kuna, pengantar tidur, kurang gairah, dan sebagainya. Para insan karawitan bagaikan ”perawan di sarang penyamun”, sesuatu pilihan hidup yang soliter diantara rimba kehidupan yang majemuk. Bahkan acapkali para penggemar, pelaku seni karawitan dianggap manusia aneh, yang ketinggalan zaman. Sinyalemen ini tidak mutlak menjadi suatu kebenaran, tetapi pendapat seperti ini sering dijumpai di masyarakat.

Marilah kita membuka masa lalu, gamelan adalah hasil budaya yang turut andil dalam proses pembentukan bangsa secara sosio kultural. Seni karawitan mempunyai berbagai fungsi, mulai dari untuk kepentingan ritual sampai pada ekspresi seni hingga sebagai hiburan masyarakat. Konon budaya gong yang berasal dari benua Asia menyebar sampai pulau Jawa telah mengalami sejarah panjang di bidang teknik metalurgi sampai mempunyai estetika musikalitas yang khas di berbagai daerah di nusantara. Gamelan telah menjadi perabot upacara di dalam kehidupan keraton. hingga sarana perkenalan agama Islam oleh para Wali. Keraton yang dulu merupakan pusat kekuasan politik dan kebudayaan telah mewariskan budaya gamelan dengan segala aturan yang melekat padanya. gamelan untuk berbagai fungsi kehidupan di masyarakat.

Resepsi perkawinan.pada masyarakat kota (terutama di Solo) yang menggunakan jasa penyajian karawitan secara langsung sudah jarang ditemui, indikasi ini dapat ditemui diberbagai gedung pertemuan yang biasa disewa untuk keperluan resepsi pernikahan. Gedung-gedung tersebut memang jarang yang menyediakan tempat khusus bagi seperangkat gamelan, kalaupun ada gamelan karena atas permintaan penyewa/yang punya hajat. Gamelan sebagai salah satu pelengkap kesempurnaan suatu resepsi perkawinan masih dibutuhkan pada masa sekarang, walaupun hanya lewat ’pita suara’.

Pola pikir dan budaya masyarakat untuk mengadakan sajian gamelan dalam upacara-upacara adat Jawa (Surakarta), berawal dari berbagai upacara kraton. Masyarakat Jawa merasa kurang afdol apabila suatu upacara masyarakat tanpa disertai alunan karawitan secara langsung, masa lalu karawitan menjadi primadona karena kemarêman dan keharusan yang wajib ditunaikan. Karawitan selalu muncul dan berkiprah dalam setiap upacara adat Jawa. Hal itu berdampak pada meningkatnya status sosial penanggapnya seperti yang dilakukan para bangsawan atau abdi dalêm di Keraton. Wibawa para niyågå juga terangkat dengan seringnya mereka pentas memeriahkan hajat bangsawan, orang kaya, atau penanggap lainnya. Karawitan menjadi hiburan masyarakat di kota maupun di pedesaan. Sampai sekarang sebagian masyarakat, atau daerah masih merasa pentingnya kehadiran karawitan di setiap upacara adat Jawa atau dalam kehidupan sehari-harinya.

Di daerah tertentu di sekitar kota Solo bahkan penyajian karawitan secara langsung masih dibutuhkan kehadirannya. Apabila suatu rumah tangga menanggap grup karawitan, maka tetangga atau penduduk di sekitarnya juga akan ikut ”nggantung gong”. Masyarakat merasa ada yang kurang sempurna hajatnya apabila tidak menghadirkan gamelan berikut pêngrawit-nya. Ada upacara masyarakat Jawa (malêm midodaréni, manténan, wêtonan, sêpasaran, dhuhkitan, dll.), pasti ada suara gamelan mengalun. Boleh dikata masyarakat mengidap sindrom ”keharusan ada gamelan di dalam resepsinya”.

Lalu bagaimana keberadaan gamelan di kota (Solo) dengan keadaan sekarang?. Kota Solo dengan predikat kota budaya sangat kontradiktif dengan kegiatan (eksistensi) karawitan sesungguhnya di masyarakat. Menurut survey, hanya ada beberapa grup karawitan di kota Solo yang masih latihan dan eksis secara kontinyu.Rata-rata mereka merupakan kelompok yang bukan profesional, hanya untuk hiburan dan sarana pergaulan. Perkumpulan-perkumpulan karawitan tersebut biasa tergabung dalam komunitas kampung, instansi kerja, perguruan tinggi, sekolah, ataupun sanggar karawitan. Aktifitas kelompok-kelompok itu bisa ’dipertunjukan’ kepada umum lewat siaran radio atau TV, atau hari ulang tahun kelompok. Jarang yang melayani tanggapan profesional, kecuali beberapa sanggar dan perguruan tinggi/sekolah seni di kota Solo.

Apakah faktor-faktor yang menyebabkan turunnya animo masyarakat untuk menggunakan jasa pertunjukan karawitan secara langsung (hidup)? jawaban pertanyaan ini sangat tergantung kepada banyak aspek: seperti ekonomi dan perubahan budaya oleh zaman. Tempat upacara dan rumah tinggal yang semakin sempit bukanlah salah satu faktor penyebab utama menanggap pertunjukan karawitan secara langsung, tetapi hal ini menjadi pemikiran penanggap dengan banyak resiko seperti: hubungan sosial yang terganggu, meskipun hanya dilangsungkan sehari. Masyarakat kota sebagian besar telah beralih berpikir ekomomis, sehingga cenderung melakukan jalan pintas dengan prinsip berkorban sekecil-kecilnya dengan mendatangkan untung sebesar-besarnya. Mengadakan suatu upacara dengan mengundang grup karawitan dipandang tidak efisien dalam pandangan ekonomis. Kemudian banyak orang melakukan terobosan yang tidak mengindahkan faktor: budaya, sejarah, dan filosofis yang banyak terkandung dalam suatu upacara (adat Jawa). Pada akhirnya timbul ’budaya instan’ yang ekonomis, dangkal, dan mengabaikan nilai-nilai seni. Kehadiran gamelan masih dibutuhkan walau diwakili oleh jasa ’pita suara’.

Fenomena ini boleh menjadi pendukung surutnya kelompok karawitan profesional. Ketika masyarakat tidak membutuhkan jasa karawitan lagi, penghayat dan pelaku karawitan akan beralih menjadi ’pertapa’ yang mengabdikan seluruh dedikasi, ketrampilan, dan loyalitas semata kepada seni karawitan itu sendiri.
Akankah masyarakat semakin realistis tetapi masih memegang tradisi dan menjaga kepuasannya untuk menghormati gamelan lagi? semoga gamelan jadi tuan rumah di kota Solo lagi.

Danis Sugiyanto
Dosen ISI Surakarta Jurusan Etnomusikologi, Seniman dan Pelatih Karawitan MARÊM Kampung Kemlayan Surakarta

Campursari Riwayatmu Kini


by Danis Ötnayigus on Wednesday, August 12, 2009 at 1:39pm
Gambar itu selalu muncul manakala layar facebook kuhidupkan. Sesosok perempuan cantik telah menyita pandanganku, segera kutambahkan dia sebagai teman di jejaring sosial itu. Waktu berlalu kutahu bahwa ternyata dia adalah seorang penyanyi campursari yang laris saat ini, kubersyukur bisa berteman dengannya walau sebatas di dunia maya.
Yang menjadi pikiranku sekarang adalah bukan lagi wajahnya yang camtik, tetapi ketertarikanku untuk menengok kembali seni campursari yang digelutinya. Yah, teringat lagi kata yang bernama ”campursari” setelah sekian lama hilang di memori pengalamanku sebagai musisi seni itu. Seakan baru beberapa tahun berlalu aku menjalani profesi sebagai musisi campursari, padahal sesungguhnya itu telah terjadi pada tahun 90-an. Ketika itu seniman musik keroncong dan karawitan masih sedikit yang berkreasi menggabungkan kedua jenis musik tersebut, meskipun menurut Pak Andjarany fenomena campursari konon sudah ada di Indonesia pada tahun 60-an.
”Campursari” yang dimaksudkan Andjarany tadi adalah dikreasi oleh RRI Semarang. Format ansambel musiknya terdiri dari: seperangkat gamelan minus ricikan (instrumen) rebab dan suling, yang diganti dengan violin dan flute. Sebatas pengetahuan dan pengalamanku, telah terdapat rekaman ”campursari” yang dimaksud pada beberapa perusahaan rekaman seperti: Lokananta, Fajar, dan lainnya. Mereka menyertakan biduan handal dari kedua induk musik tersebut (keroncong dan karawitan), seperti: Maryati, Waljinah, Ngatirah, ataupun Supadmi.
Tahun 90-an musik keroncong (dan karawitan) masih menyimpan masa keemasan dilihat dari fungsinya sebagai seni hiburan yang populer. Terlihat pada masa itu mulai ada kreasi-kreasi dari berbagai seni pertunjukan yang menggabungkan kedua jenis seni musik tersebut. Kreasi juga timbul pada masing-masing jenis dengan menciptakan komposisi (baca: lagu) baru yang tidak lazim dari segi bentuk, irama, laras, dan teknik menyajikannya. Masing-masing seni pembentuk campursari masih ketat mempertahankan ansambelnya, baik berupa alat dan teknik bermusiknya. Terlihat sekali seniman-seniman seni musik ini masih setia menggunakan perangkat akustik yang tidak memakai instrumen musik elektronik. Lagu Ngimpi ciptaan Ki Nartosabdo yang biasa disajikan pada ansambel gamelan mulai terlihat disajikan oleh ansambel musik keroncong, sebaliknya lagu Bengawan Solo, Dinda Bestari yang kuat nada-nada diatonisnya juga kerap terdengar di pentas-pentas wayang kulit pada sesi limbukan atau goro-goro. Kreasi-kreasi ini memunculkan pemikiran seniman untuk berbuat praktis dengan membawa serta kedua genre musik dalam satu ansambel baru. Keinginan ini muncul untuk mewadahi keinginan penonton/penanggap yang heterogen dalam memilih lagu. Seringkali penonton/penanggap salah sasaran karena meminta lagu yang tidak bisa dilayani grup yang tampil, suatu contoh suatu orkes keroncong tidak dapat menyajikan repertoar lagu/gendhing yang biasa disajikan oleh karawitan/gamelan-begitu pula sebaliknya, suatu grup karawitan tidak bisa menyajikan lagu keroncong atau lagu diatonis lainnya.
Zaman keemasan seni campursari terjadi mulai pertengahan tahun 90-an sampai awal 2000-an, “campursari” tidak lagi berujud seperti format tahun 60-an ala RRI Semarang. Masyarakat dapat memaknai sendiri ansambel ”campursari”-nya, grup organ tunggal yang menyajikan lagu-lagu pentatonik sudah dapat dikatakan sebagai sebuah pertunjukan campursari, demikian juga pemakaian keyboard dengan kendang. Kadang pula suatu ansambel keroncong ditambah kendang, atau seperangkat combo band ditambah alat-alat keroncong dan gamelan juga disebut campursari. Satu ansambel campursari yang lengkap bisa terdiri dari ansambel keroncong, gamelan, combo band, dan orkes melayu/dangdut. Tentu saja demi efisiensi jumlah personal (musisi), masing-masing musik diwakili seorang musisi dengan instrumen yang khas pada jenis musiknya. Misalnya: pada ansambel keroncong cukup diwakili instrumen ukulele, cello, dan cak; pada ansambel gamelan diwakili oleh ricikan balungan (Demung, dan 2 buah saron barung kesemuanya berlaras pelog); combo band menyertakan lengkap dengan drum set-nya; dan ditambah kendang ketipung (tabla) untuk mewakili/melayani lagu-lagu berirama Melayu/dangdut. Jumlah instrumen yang ada bisa tergantung pada kemampuan grup dan atau permintaan penanggap.
Musik campursari nyata telah dapat membantu kehidupan dapur seniman-seniman pendukungnya. Banyak teman-teman musisi bahkan dapat bergantung sepenuhnya pada pendapatan pentasnya, mereka dapat membeli rumah, kendaraan ataupun menyekolahkan anak sampai jenjang tertinggi. Bahkan teman seperjuangan saya di keroncong dahulu telah ada yang bisa ”ngamen” campursari sampai ke negeri Belanda dan Suriname. Di sisi lain, campursari juga telah menambah duka bagi sebagian orang. Telah (banyak) terjadi keretakan rumah tangga gara-gara kehidupan campursari yang ”luwes namun keras”, ada sesama musisi yang terlibat affair asmara. Terdapat pula daerah yang sering rusuh jika ada perhelatan hajatan warga dengan mendatangkan grup campursari. Ekses yang lain bahkan ada tokoh seni ini yang populer namanya sehingga memberanikan diri maju menjadi calon legislatif di daerahnya.
Perubahan pasti melanda pada suatu kehidupan, pada campursari secara kasat mata terdapat pada aksesoris penyanyi, MC, ataupun musisinya. Penyanyi keroncong atau karawitan (Swarawati atau Sindhen) biasanya berbusana kain Jawa menurut ukuran seperlunya, tetapi lihatlah pada penyanyi campursari harus diperlukan aksesoris tambahan seperti bunga yang melingkar di rambut. Perangkat soundsystem juga berkompetisi mendukung pergelaran, karena itu menjadi tolok ukur gengsi suatu grup campursari dan penanggapnya. Seringkali terjadi pula dalam suatu pentas menghadirkan bintang-bintang campursari ”papan atas”, walau mereka membawakan satu atau dua lagu secara berturut lalu pulang untuk memenuhi permintaan pentas di tempat lain.
Betapa seni ini dipandang jelek atau rendah karena berbagai fenomena di atas, tetapi tetap ada sesuatu nilai positif yang menyertai perkembangan seni itu sendiri. Pendapat ini juga belum tentu benar, karena tergantung perspektif memandang seni itu yang berbeda anatara satu orang dengan yang lain. Masyarakat seakan selalu diingatkan memori musikalnya dengan dengaran tangga nada ”ala Jawa” dari orkes campursari. Begitu juga bagi pelaku seni dari berbagai pembentuk seni itu mau tidak mau harus belajar lagu-lagu yang di dalamnya demi tuntutan profesionalitas sebagai ”penghibur” dengan memahami berbagai tangga nada dan budaya musik, ataupun pemahaman budaya secara umum.

DANIS SUGIYANTO-SOLO
(tulisan ini pernah kukirim ke Koran Joglo Semar, entah dimuat atau tidak saya nggak tahu)

Pak Gesang idolaku, Jurug-Solo, tahun 2000.

Belajar Nyeni


by Danis Ötnayigus on Saturday, August 15, 2009 at 3:51pm

Masih lekat dalam ingatan masa lalu, belajar musik Barat secara otodidak lewat teknik kupingan (cara mendengar). Terbilang sangat terlambat, karena aku baru genjrang-genjreng gitar waktu di kelas satu SMA. Terpaksa main gitar karena sekelas tidak ada yang bisa untuk ngiringi paduan suara antar kelas. Bermodal belajar dari nguping dan ngelihat tetangga main gitar, aku gunakan untuk manggung dengan sangat berani tanpa malu di depan penonton satu sekolah. Ajaib, aku hanya tahu sedikit krip gitar ternyata aku bisa karena kami punya kesempatan coba lagu yang akan ditampilkan. Sekarang kutahu kalau krip yang kumainkan itu disebut krip ”tiga jurus”.

Sebenarnya darah seni musik telah menempel pada diriku, karena ayahku almarhum seorang musisi kendang gamelan tari ternama di kota Solo pada waktu itu. Akupun mulai mencintai musik dari belajar gamelan lewat ekstra kurikuler di SMP 3 Solo. Walaupun begitu, sejak SD aku dan teman-teman sekelas adalah terkenal bikin onar karena kreativitas bikin hiburan yang konyol dengan tetabuhan di meja dan gamelan rongsok di gudang sekolah sewaktu istirahat. Teman-teman ternyata senang dengan gaya urakan nan menghibur dari kelompok kami. Sampai di sini aku sadar bahwa kepuasanku adalah untuk menghibur orang lewat jalur seni, jangan salah sangka kalau menghibur orang bisa lewat kegiatan lain seperti: jadi gigolo atau brondong.

Masa SMP aku lewati dengan hepi, ada kegiatan ekstra kurikuler karawitan yang menarik perhatianku. Berulang kali sekolahku jadi juara dalam perlombaan karawitan tingkat Kotamadya surakarta dan Eks karesidenan. Aku boleh bangga karena Solo dan sekitarnya kan pusat budaya karawitan terkenal? lagipula banyak jago dari berbagai pengrawit (musisi gamelan) dan kelompok karawitan (setingkat SMP) yang berpartisipasi. Pak Katiman adalah guru yang pandai dan tegas serta besar usahanya dalam mendidik para siswa. Meski gamelan yang biasa dipakai latihan dari besi, tapi dengan metode berlatih yang benar dapat menghasilkan tabuhan dan murid-murid yang bagus. Setiap akan latihan sore selepas sekolah, sering beliau tidur di ruang gamelan untuk ”laku prihatin”, demi menjaga hubungan batiniah antara kesuksesan misi yang diemban dengan roh gamelan beserta penyatuan suksma-suksma anak didiknya. Dari kegiatan karawitan ini pula aku berhasil mendapatkan beasiswa seni dari sekolah yang lumayan besar selama setahun.

Masa SMA telah merubah cita-citaku untuk jadi militer, maklum banyak saudara Ibuku yang berasal dari sana. Meski sudah aku bela-belain masuk program A2 (ilmu Biologi) untuk meraih syarat masuk AKMIL, akhirnya berbelok ke arah seni lagi. Ada temanku yang mengajak ikut kegiatan ekstra kurikuler teater di SMA 4 Solo. Sekali lagi dunia seni telah menambat jiwaku. Dengan teater Golek SMA-ku kami sering berhasil jadi juara di festival teater tingkat SMA. Aku tidak berbakat jadi aktor, aku merasa nyaman berada di barisan para pemusik. Saat itu aku sudah mulai mencipta ilustrasi teater dan membuat lagu dengan musik seadanya.

Nah, di pergaulan teater aku mulai kenal dengan banyak teman seniman berbagai bidang seperti: musik, seni rupa, sastra, dll. Musik keroncong juga mulai mengusik jiwaku, aku berkenalan dengan seseorang yang mengajak latihan di grupnya. Bahkan aku jadi anggota teater Gidag gidig juga membuat kreasi musik dengan alat keroncong. Dengan bermodal ngawur-ngawuran kami berani tampil di muka umum. Banyak yang mencemooh karena dari sisi musikal kami ”kurang berpendidikan”, tapi banyak yang suka juga karena ’keliaran’ kami. Modal-modal seperti itu yang kami jadikan dasar untuk memupuk mental kami di atas panggung pertunjukan.
Contoh ’asal-asalanku (dan kami), di atas panggung langsung pakai alat musik yang belum pernah dilatih sebelumnya. Waktu pentas di Fakultas Hukum UNS saya menemukan bass betot di gudang musik mahasiswa, aku pelajari sebentar stemannya trus dibawa ke panggung langsung dipakai untuk main. Untuk urusan main biola juga gitu, aku hanya tanya stem senarnya, terus di rumah aku gambar sendiri tata jarinya. Pentas selanjutnya aku berani main biola walau hanya baru sebatas menghapal lagu dengan tata jari yang ’primitiv’. Lama-lama bisa meningkat cara mainnya. Setelah main atau di kala senggang aku melakukan introspeksi atas permainanku tadi, sering merasa malu dan tidak puas atas apa yang telah kukerjakan. Adakalanya analisis itu terjadi atas hasil rekaman kecil-kecilan yang kami buat, kami punya ras malu dan tidak puas meskipun unsur ’tabrak’ masih mendominasi jiwa muda dan kreativitas kami.

Sisi kehidupanku dalam bermusik didasari oleh pendidikan formal di kampus STSI (sekaran ISI Surakarta). Di lembaga ini aku mendapat gemblengan musik yang berdasar dari budaya musik tradisional (mayor Jawa). Aku bisa mensinergikan antara budaya Barat dengan Jawa sambil berproses secara intensif. Aku suka berdarah-darah mencari perbaikan kemampuanku bermusik dan menyerap pikiran para kreator yang sedang berproses denganku.
Aku bukanlah seorang penyanyi yang bisa naik daun secara drastis. Proses menjadi kesenimananku berjalan laksana gelombang yang penuh riak dan gejolak. Seorang musisi jarang mendapatkan keberuntungan secara sekejap, rata-rata terjadi secara gradual dan eskalatif bahkan cenderung evolutif..Nyatanya sampai sekarang aku belum mampu mendapatkan nama seperti yang sudah didapat oleh teman-temanku seangkatan atau adik-adik kelasku. Tapi justru aku bersyukur oleh itu, karena mawas diri harus selalu ada bersamaku. Banyak contoh suatu keberhasilan tidak diimbangi dengan mentalitas, komitmen yang bagus terhadap sesama pekerja seni atau seni itu sendiri. Aku tidak silau dengan dunia mereka, biarlah jalanku mengalir sesuai kehendak Yang Di Sana dengan usahaku sendiri yang tiada pernah berhenti. Aku menyadari jika caraku bermain musik (berkesenian) adalah jalan tidak biasa yang masih mengandalkan cara-cara lamaku, namun aku juga tidak menutup diri pada masukan orang lain dan perubahan dinamika seni.
Kini aku sudah banyak teman, relasi, kolega, murid, dan semuanya yang telah mempercayaiku utuk eksis di dunia seni. Tanpa mereka aku tidak bisa berbuat banyak. Tulisan ini tidak bermaksud nyombong, adigang, adigung, adiguna, ataupun mengecilkan peran orang yang berbeda dengan diriku. Mungkin aku hanya ingin mengajak kepada semua untuk melihat dunia seperti yang aku miliki ini agar jadi kaca kehidupan yang mungkin tidak terlalu bagus untuk semua orang.

Previous Older Entries